Saturday, July 2

Yang Terjadi Setelah "Apa Kabar?"

Pertanyaan: "Apa kabar, lo?"

Jawaban singkat yang keluar: "Hmm. kabar gue baik. Lo?"

Jawaban panjang yang berputar-putar di kepala: "Lo mau tau? sebulan ini tuh hidup gue penuh keluh kesah. Gue jadi pekerja yang nggak gue sukai. Gue jadi robot! gue kerja sekadar mengikuti program. Gue juga punya banyak utang, tiga bulan telat bayar cicilan, dan minggu depan gue mau ngelamar kerja di GoWes, layanan ojek online sepeda gitu. Mereka juga nyediain fitur Go(to)hell tuh, gue mau nganter para seksis ke neraka.

Ya, gue juga masih aja selalu menyimpan kemarahan tentang banyak hal, termasuk orang-orang kayak lo sebenernya. Kemarahan yang bisu. Segala hal yang gue benci akhirnya tetap hidup damai berkembang biak. Nasibnya sama kayak tikus mati di jalan. Semua orang benci banget, tapi nggak ada yang berusaha mengajari tikus untuk nyeberang jalan biar nggak keinjek motor. Kucing yang udah lebih jago nyebrang pun ogah ngasih workshop biar para tikus bisa mendapatkan Surat Izin Menyeberang. Tapi, gue nggak seburuk itu kok keadaannya. Gue punya cara sendiri untuk menciptakan kebahagiaan yang bisa dilipatgandakan di tempat fotokopi mana pun. Tapi, kalau difotokopi jadinya item putih dong? Bodo ah."

Begitulah.



Ada dua kabar. Pertama, kabar buruk: kita sepakat bahwa pertanyaan "apa kabar?" adalah sebuah basa-basi. Sepengalaman saya, dua kata itu kerap menjadi sebuah kalimat template yang terucap ketika kita bertemu dengan siapa pun yang sudah lama nggak kita temui, kan? Semacam relfeks terucap demi menghindari kekikukan, dan menghadirkan keakraban, yang sayangnya, kerap semu.

Begitu juga dengan jawabannya. Saya pun hanya terbiasa menjawab pertanyaan itu dengan minimal tiga kata juga. "Baik, lo gimana?" Nggak jarang juga yang merasa cukup dengan "baik" saja.

Betapapun menjawabnya sambil tersenyum dan menjabat tangan, tapi apakah kabar saya benar-benar baik saat itu? Nggak perlu dipikirkan, yang penting pertanyaan terjawab, kekikukan terhindari. Blaah!

Kedua, kabar baik: saat ditanya, walaupun jawaban yang keluar selalu sama, tapi senggaknya saya sendiri bisa mengindentifikasi mana "kabar gue baik, kok." yang benar-benar mewakili kebahagiaan saya, mana "kabar gue baik, kok" yang saya gunakan untuk menutupi keadaan saya yang sebenarnya nggak sebaik itu.

Udah gitu, saya kemudian jadi sadar betapa sebenarnya saya suka abai dengan kabar saya sendiri. Sebelum jawaban template "Baik, lo gimana?" keluar, dalam sepersekian detik itu, saya bertanya, "Wahai aku, apakah kita baik-baik saja?"

Seperti media yang berusaha menjawab keingintahuan massa terhadap kabar dunianya,  si saya melakukan peliputan ke semesta diri: menanyai satu-persatu ingatan; memberikan kesempatan kepada kesadaran-kesadaran kita yang ditenggelamkan waktu untuk ngoceh bersuara; melakukan pengecekan terhadap apa yang sudah terjadi dan memastikan apakah kejadian tersebut meninggalkan dampak pada keadaan saya sekarang.

Mencari tahu dan menceritakan kabar itu perlu ternyata, betapapun itu dilakukan untuk memuaskan diri kita sendiri.


Jadi, alih-alih sekedar menghindari kekikukan dengan "apa kabar lo?" gimana kalau kita saling mengajak:


"Ceritain tentang kabar lo dong!"

:)





No comments:

Post a Comment