Tuesday, July 5

Sendiri itu (Seharusnya) Biasa



Bagi Nabila, jalan-jalan adalah kebutuhan hidup. Ia bisa menemukan banyak keseruan, betapapun sederhana perjalanannya.

“Aku suka jalan-jalan. Itu asik! Aku bisa melihat kehidupan baru, menemukan sesuatu yang baru, ngobrol sama strangers,” kata Nabila.

Hobi jalan-jalannya ini sudah ia penuhi sejak kelas X semester 2. Tiap kali dibuat penasaran oleh cerita tentang suatu tempat, atau acara, ia selalu berhasrat mengunjunginya.

Pengalaman jalan-jalan besar pertamanya adalah menjelajahi Jakarta Pusat. Dua tujuan utamanya adalah Museum Nasional, dan Galeri Nasional. Bonusnya, ia bisa menjajal naik bus tingkat gratis City Tour yang baru ia ketahui keberadaannya saat itu.

Bukan bersama keluarga, teman, atau pacar, Nabila sering memenuhi hasrat jalan-jalannya itu sendiri. 

“Lebih enak sendiri sebenernya. Bebas, nggak ada yang ganggu, nggak usah gengsi, bisa jadi diri sendiri, bisa eksplor lebih banyak,” papar siswi kelas XI SMAN 8 Jakarta ini.
Menonton film di bioskop, duduk-duduk di kafe, atau nge-mall juga sering dilakukan sendirian oleh cewek yang sempat tergabung  sebagai wartawan sekolah di tiga media remaja sekaligus ini.

Tentang perjalanan, cerita  lebih besarnya saya dapat  dari Febrina Ay, dan Maria Anastasia. Kedua kawan saya itu pernah melakukan solo traveling. Ay pernah tiga minggu jelajah tempat-tempat wisata di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Maria belum lama lalu mengeksplor Flores nggak kurang dari enam minggu. Gara-gara telat daftar trip kolektif, Maria memutuskan untuk berangkat memulai tripnya itu sendiri. 

"Udah dari dulu gue pengen banget ke tempat-tempat 'tujuan' itu. Kalau nunggu ada temennya susah, jadi gue jalan aja sendiri," aku Ay saat itu, Oktober lalu.

Kepuasan dalam eksplorasi diri dengan bersendiri terlebih lagi dirasakan oleh Natasha Dematra. Cewek 18 tahun yang belum lama lalu menyelesaikan ujian nasional SMA ini sudah terbiasa sendiri sejak kecil saking asiknya bikin film, menulis novel, membuat lagu, menyanyi, membaca banyak buku, dan menonton banyak film.

Saat umur 11 tahun, anak tunggal ini ditantang ayahnya, Demian Dematra, untuk membuat film. Ia terima tantangannya sepenuh hati. Film selesai, penghargaan ia tuai: sutradara paling muda sedunia, MURI yang mengakui.

Lulus Sekolah Dasar, Natasha membuat keputusan besar. Ia ingin punya waktu sendiri yang lebih banyak lagi. Bujukan temannya untuk tetap bersekolah ia tanggapi hanya dengan senyum. Natasha mantap memilih untuk home schooling saja. Benar saja, produktivitas Natasha menjadi-jadi. Ide-ide yang berseliweran di kepalanya, selalu minta diwujudkan tanpa henti.

Produktivitas Natasha membuktikan, bahwa hidup sebagai remaja urban tanpa pernah terdaftar di satu media sosial manapun, ia tetap bisa popular. Coba saja ketik nama Natasha Dematra di Google. Sementara kebanyakan dari kita terlacak Google dari tweet galau, dan foto-foto (berusaha) cantik di Instagram, Natasha diceritakan Google sebagai remaja dengan sederet penghargaan. Media nasional, dan bahkan Wikipedia lah yang mengabarkannya.

Selain memilih untuk anti media sosial, Natasha juga nggak sering main. Walau punya banyak teman, ia memilih untuk sering berinteraksi lewat chat aja. 

“Aku lebih suka kerja daripada main,” ujar cewek pengagum Angeline Jollie, Emma Watsonn, dan Malala Yousafzai ini.

Sendiri itu Menyedihkan? 

Dalam masyarakat kita ini, kata ‘sendiri’, sepaket dengan ‘kesendirian’, itu cenderung negatif konotasinya. Sara Maitland dalam bukunya How To Be Alone mengamini. Menurutnya, ada masalah kultural di masyarakat kita dalam memandang kesendirian. Kesendirian itu, “sad, mad, bad.” 

Barangkali ada dari kalian yang menganggap bahwa apa yang dilakukan Nabila, Ay, Maria, dan Natasha itu perlu diberi salut, tapi saya yakin, banyak juga yang menganggap bahwa mereka, dan para penyuka ngapa-ngapain sendiri lainnya, itu mengherankan.

Nggak jarang juga, kita yang terbiasa asik sendiri, pun mendapat julukan baru. “Si freak”, “si nerd”, “si jones” alias jomlo ngenes, atau bahkan, yang bahkan maknanya berseberangan, “si autis”.

Penghakiman terhadap kesendirian pun tak dilakukan satu dua orang, melainkan secara masif, (seolah) terstruktur, dan terencana. Lewat sebaran cuitan status, dan meme misalnya, mereka yang sendiri dirayakan sekaligus diserang.

Situasi ini paradoks. Menurut Maitland, bagaimana bisa kita sudah hidup di era yang menghargai kebebasan personal, hak asasi manusia, dan individualisme, tapi kita tetap menyimpan ketakutan dengan kesendirian. Kita melihat kepercayaan diri sebagai keharusan, tapi kita kerap heran dengan orang yang percaya kalau menjadi dirinya sendiri seutuhnya,betapapun eksentriknya
“We believe that everyone has a personal singular ‘voice’ and moreover, unquestionably creative, but we treat with dark suspicion (at best) anyone who uses one of the most clearly establish methods of developing creativity: solitude. 
We think we are unique, special and deserving of happiness, but we are terrified of being alone.  
We declare that personal freedom and autonomy is both a right and good, but we think anyone who exercise that freedom autonomously is sad, mad, or bad. Or all three at once.” How to Be Alone. hal. 16

Sendiri kita Bisa

Ungkapan menampar dari Sara Maitland itu menyulut pertanyaan: “Adalah benar kita terlalu menegasikan kesendirian, tapi, atas alasan apa kita perlu membiasakan kesendirian?”

“If the self is just me, how can I lose it?” Menurut Sara, alasannya bisa kita temui dari jawaban pertanyaan yang katanya filosofil, spiritual, dan psikologis sekaligus ini.

Pernahkah kita merasa diri kita terpencar, atau bahkan hilang? Menyendiri adalah cara menuju kesadaran atas diri (consciousness of the self), ajang untuk menyelami diri dan menemukan apa yang sebenarnya kita inginkan.

Dalam pembahasannya di kehidupan sosial, kepribadian diri (self) terbentuk dari interaksi. Konsep diri juga terbentuk dari peran dan ekspektasi yang dari orang lain tentang diri kita. “Kita tidak lahir dengan sense of self. Diri kita terasa ketika kita berinteraksi dengan orang lain. Kita hanya bisa merasakan kehadirian diri kita jika sedang berhubungan dengan orang lain. Tanpa beinteraksi dengan orang lain, kita tidak bisa menjadi diri, tak bisa hadir sebagai seseorang.”

Dalam kaitannya dengan dunia sosial, diri selalu menjadi sesuatu yang cair, berubah-ubah. Itulah mengapa George Herbert Mead menyebut bahwa diri adalah bentukan dari proses berkelanjutan antara “I”, diri yang subjektif, dan “Me”, diri yang objektif, diri yang dibentuk oleh interaksi. 

Jadi, merasa kehilangan diri atau merasa diri kita tidak utuh, terpencar-pencar adalah sesuatu yang sangat mungkin terjadi, yaitu ketika diri kita (me), tertimbun oleh terlalu banyak bentukan dari orang lain.

Pendapat dari Soren Aabye Kierkegaard, filsuf asal Denmark, bisa menegaskannya. Di era teknologi kian canggih dan manusia kian mudah dikumpulkan dan disatukan, kita adalah manusia massa. Sebagai bagian dari masyarakat, kita berpotensi mengalami penyamarataan, dibawa arus, oleh kekuatan-kekuatan yang abstrak. Penyamarataan atau masifikasi itu adalah ancaman nyata bagi ketunggalan dan subjektivitas diri. Karena itu, Kierkegaard mengajak kita untuk terus menjaga kesejatian eksistensi diri betapapun kita berada dalam massa. Apalah artinya diri tanpa pendirian? 

Kembali ke Sara Maitland, ada dua alasan lainnya mengapa kita perlu membiasakan kesendirian adalah pertama, karena kesendirian memicu kreativitas. Meladeni uneg-uneg, celotehan-celotehan dalam kepala menghasilkan pemikiran yang original, jika diteruskan menjadi karya, maka akan menghasilkan kreasi yang khas.

“Conversation enriches the understanding, but solitude is the school for genius,” tulis Sara mengutip dari Edward Gibbon. 

Alasan lainnya yang kedua  adalah kebebasan. Alice Koller mendefinisikan kebebasan diri bukan saja sebagai keadaan ketika kita tak perlu menahan diri dari sesuatu, tetapi juga ketika kita bisa mengatur diri kita sendiri sesuai dengan hukum yang kita pilih, dan pilihan kita itu datang dari pemahaman murni tentang arti hidup dan tujuannya.
“Being solitary is being alone well: being alone luxuriously immersed in doings of your own choice, aware of the fullness of your own presence rather than of the absence of others. Because solitude is an achievement.” Alice Koller, How to Be Alone. Hal 142. 

Lalu bagaimana membiasakannya?

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah berdamailah dengan ketakutan terhadap kesendirian. Betapapun sejak kecil kita selalu dibiasakan untuk menjaga kebersamaan, bukan berarti kesendirian jadi sesuatu yang mesti dihindari. Yakinkan diri bahwa sendiri itu biasa.

Langkah lainnya yang dianjurkan Maitland adalah dengan lebih sering melakukan hal-hal kita senangi sendiri. Jika suka windows shopping ke mal; jogging; menonton acara musik; melihat pameran seni; atau mengunjungi tempat rekreasi; maka lakukanlah sendiri.
“Most of us have a dream of doing something in particular which we have never been able to find anyone to do with us. the answer is simple, really: do it with yourself." How to Be Alone. hal. 104. 
Carl Jung, seorang psikonalis, pernah membicarakan tentang masalah kejiwaan yang ia sebut “konfrontasi dengan alam bawah sadar”, yaitu gejala dirinya mendengar banyak suara dan terlalu berhalusinasi. Untuk menangani masalahnya itu, Carl Jung melakukan analisis diri. Dalam kesunyian, ia melamun dengan penuh kesadaran dan melakukan apa yang ia sebut “active imagination”. Ia menjelajahi memori, mimpi dan reaksi emosinya lalu mencatatnya. Setelahnya ia percaya bahwa analisis diri sangat bermanfaat, termasuk untuk di klinik

Itulah mengapa Maitland juga mengusulkan kita untuk melakukan eksplorasi lamunan (explore reverie) untuk membiasakan diri menyendiri. Melamun adalah cara baik untuk menyelami diri, mengait-kaikan memori dan pengetahuan kita terhadap apa yang sedang kita hadapi. Melakukan free writing atau menulis bebas tanpa terikat kepentingan apapun bisa menjadi medium untuk membantunya.

Terakhir, Sara juga mengusulkan untuk kita menghargai perbedaan. Ini penting, karena percuma jika kita mengusung-usung eksistensi diri, tapi menganggap diri kita satu-satunya orang yang bisa melakukannya. Menghargai perbedaan adalah menyadari bahwa tiap individu juga punya daya untuk eksis sebagai dirinya sendiri. Kita—aku, kamu, dan dia—koeksis. Kita bisa sendiri-bersama.

Saya menyimpulkan, tak salah jika kita menyebut diri sebagai makhluk sosial, tapi tak benar jika kita sampai abai bahwa kita pun memiliki daya untuk mandiri; perlu mengukuhkan pendirian, idealisme, dan prinsip; serta mengoptimalkan eksistensi diri sambil tetap mengapresiasi eksistensi individu lain.

Kesendirian bukan sesuatu yang perlu diluhurkan sebagai perlawanan terhadap masyarakat kita yang terlalu menegasikannya. Kesendirian hanya perlu dibiasakan, sebagaimana kita bisa membiasakan kebersamaan. 

---

Ditulis pada periode April-Juli 2016.



Referensi: 
How to Be Alone - Sara Maitland 
Berkenalan dengan Eksistensialisme - Fuad Hassan 
a First Look at Communication Theory - Em Griffin. 


Gambar header dari film The Beginners

No comments:

Post a Comment