Sunday, July 3

Menulis Bebas (2) - Lamunan di Meja Setrika

1.

"Pernikahan setelah cerai, itu lebih berdasar kebutuhan atau cinta? Prosedur pencarian pasangannya gimana ya tuh. Apakah ada forum single parents gitu? atau para single parent ini saling menanyai teman-temannya apakah ada kenal single parent lain yang udah merasa cukup bersendiri dan butuh teman hidup lagi? Atau yang mereka cari adalah yang muda, yang sebelumnya belum pernah menikah, tetapi butuh sosok dewasa, matang, sudah punya ini-itu termasuk anak? bisa jadi."

"Apapun alasan yang mendahuluinya, pernikahan itu pasti berdasar cinta. Mana ada yang mau nikah kalau nggak cinta?"

"Bah! coba pikir lagi!"

"Iya. Bener. Kalau yang melanjuti pernikahan tapi udah nggak ada cinta lagi, banyak!"

"Hmmm..."

2.

"Apa bahasa Inggrisnya 'gairah'?"

"Tergantung konteksnya."

"Kalau konteksnya kerja? 'Passion'? Hmm. nggak rela ah kalau diterjamahin 'passion'." 

"Tapi emang begitu. 'Passion'! Semacam, keinginan menggebu-gebu untuk melalukan sesuatu."

"'Passion' itu sudah punya terjemahannya sendiri, yaitu 'renjana'. Artinya, rasa cinta yang besar pada sesuatu."

"Terus, apa dong? 'lust'? tapi 'lust' itu konotasinya lebih ke 'nafsu'. Emang ada apa sih?"

"Hmm. lagi keinget anak-anak SMA yang kemarin magang. Di kala gue lagi ngerasa nggak nemu gairah di lingkungan teman kantor, gue menemukannya di mereka. Mereka semacam selalu pengen nambah gitu. Selesai satu, nagih kerjaan atau kegiatan baru. Walau tulisannya masih keriting logikanya, tapi keliatan kalau mereka bener-bener pengen belajar bercerita. Pun, ngobrol sama mereka seru. Kelima anak itu punya karakternya yang beda-beda, tapi keiket sama cerita yang sama. Terus, merancang program apa aja yang akan gue sajikan membawa nama kantor, pun, jadi pelarian dari kerjaan rutin yang bener-bener lagi nggak ada gairah-gairahnya acan. Betapapun kantor nggak mewajibkan gue untuk ngurusin program magang itu"

"Terus, kenapa harus nyari padanan bahasa Inggrisnya 'gairah'?"

"Ya, iseng aja. Hehe."

3.

"Film Fight Club itu luar biasa sekali yah, entah itu ide cerita, cara penceritaan, maupun muatan kritik yang di kandungnya. Rasanya kayak diajak lari naik gunung yang nggak ada puncaknya. Nggak ada yang gue capai dari film itu, tapi semacam selalu ngerasa seru. Campur aduk."

"Ceritanya tentang apa?"

"Tentang penerimaan hidup yang nggak mesti semudah itu."

"Lagi-lagi tentang manusia yang merasa dirinya kayak robot yah?"

"Persis. Manusia emang butuh sistem. Tapi nggak perlu sampe jadi robot. Manusia mesti mempertanyakan sistem tempat ia berada itu. Manusia harus tahu persis kenapa dia berada dalam sistem itu. Nggak cuma nerimo dan ngejalanin aja. Manusia harus jadi manusia. Identitasnya bukan melulu ditentukan oleh barang-barang IKEA yang dibelinya, pekerjaannya, daya belinya, dan keberadaannya di peradaban modern ini. Manusia harus terus bertanya dan menjawab. Manusia harus punya kemampuan untuk narik diri dari rutinitasnya untuk meninjau secara utuh apa yang dilakukannya. "

"Terus, ada apa dengan perkelahian?"

"Di film, perkelahian digambarkan sebagai cara kita untuk meluapkan diri. Ada banyak cara yang bisa dliakukan sebenarnya, bisa menangis, bisa lari-lari, bisa having sex juga mungkin. Dalam perkelahian, kita mesti punya amarah. Senggaknya ada willing to not easily lose.  Ada sense of defense. Iya, berkelahi itu bukan keadaan saling menyerang sekaligus saling bertahan. Di antaranya, ada ketegangan. Pengalaman mendekati mati justru bisa bikin kita merasa lebih hidup kemudian. Ketegangan dan peluapan itulah sumber kenikmatan yang tak pernah kita bisa dapat dari keseharian."

"Udah sempet baca novelnya?"

"Baru dua bab. dan gue jadi makin sering gini baca versi novelnya dari cerita di film yang gue suka. Dengan baca novelnya, gue jadi tahu asal-usul penceritaannya. Ternyata, versi filmnya beda banget. Di novel, scene terakhir film justru jadi scene pembuka. Walau pun alurnya beda, tapi gue tetap bisa membayangkan gambaran film saat membaca novelnya. Keduanya saling mendukung gitu. Sebuah pelajaran story telling." 

4.

"Gue merasa terenyuh sekaligus tertendang ketika ada orang lain yang dari cerita-cerita gue kepadanya, dia bisa sampai menyimpulkan bahwa gue adalah seseorang yang "begitu". Sebuah tebakan yang sangat tepat. Nggak banyak yang akhirnya berani menyebut gue "begitu", sejauh ini kayaknya baru tiga orang. Sifat "begitu" adalah sifat yang selalu gue coba obati, tapi susah banget ilangnya. Padahal, kalau bisa  menghilangkan sifat "begitu" itu, gue bisa jadi orang yang bahagia kayaknya. Bahagia karena gue udah mengerjakan misi hidup gue dengan baik. Hah!"

"Siapakah orang itu?"

"Ya, siapa lagi kalau Rima. Dia bener-bener pemerhati, ternyata."

5.

"Gue menyimpulkan sesuatu tentang menyetrika. Sementara mencuci bisa diakali dengan mesin, menyetrika tidak. Ia mesti ditangani langsung. Membutuhkan kita untuk turun tangan. Kayaknya, karena itu di laundry, ongkos menyetrika aja tuh bisa 80% dari harga paketan cuci-setrika."

"Persis."

"Dan menyetrika itu bukan sekadar perkara meluruskan pakaian, tetapi juga momen meladeni lamunan. Yang kita lakukan dalam menyeterika tuh gampang, terpola dan ritmis. Ngambil baju dari keranjang, lalu menaruhnya di meja seterika, mirip kayak melempar daging ke telenan, lalu menggosok-gosokkan setrika ke baju sambil melipat-lipat. Begitu saja diulang-ulang. Ada ruang panjang untuk kita membiarkan lamunan kita meraung."


1 comment:

Ratu Rima Novia Rahma said...

waaa aku baru engeh poin keempat :)

Post a Comment