Thursday, May 12

Transkrip Percakapan “Rare Conversation Sapardi x Jokpin” di ASEAN LITERARY Festival



Awalnya paragraf pertama ini panjang. Tapi saya ringkas, terlalu heboh saya bercerita. Malu, ketauan noraknya, saya kan anak kemaren sore pengagum  karya dan pribadi dua orang rendah hati ini.. Hehe. Intinya, percakapan antara Sapardi dan Jokpin ini berkesan banget. Campur aduk rasanya. Mereka bikin ketawa sekaligus terharu.

Awalnya saya hanya mencatat potongan-potongan obrolan yang rasanya quotable, lumayan untuk caption di Instagram. :p Tapi kemudian saya merekam keseluruhan percakapan. Alasannya, biar kesan itu bisa dilipatgandakan dan dinikmati banyak orang.

Sesi percakapan dimulai sekitar pukul 19.30 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki. Saat itu adalah Jumat (6/05) Okky Madasari mengawali, ia bercerita kalau sesi Rare Conversation ini adalah yang paling laris dipesan. Sudah sejak dua minggu sebelumnya, tiket habis terpesan. Banyak yang nggak kebagian. Itulah alasan yang menguatkan saya untuk menulis transkrip ini. Pengin teman-teman bisa ikut merasakan keseruannya juga.

Total percakapan yang terekam ialah sepanjang 1 jam 20 menit. Transkrip saya ketik bersama Chrismastuti yang bersamanya saya menyaksikan sesi ini. Rencananya, pengetikan kami bagi rata. Tapi Chris kelewat rajin, ia menggarap 60%-nya. Di halaman Words, transkrip ini sepanjang 19 halaman.  Sekitar 7.500 kata. Butuh kira-kira 30 menit untuk membaca tuntas.

Sebenernya di awal, Najwa Shihab, sang moderator, membuka sesi dengan puisi yang bagus, tapi saya belum merekammnya. Begitu juga dengan pertanyaan pertama Najwa dan jawaban pertama Sapardi, saya hanya menuliskan berdasarkan catatan saja.

O ya, kalau ada kalimat yang janggal, atau data yang salah, kabari yah. Biar saya langsung koreksi. Semoga menghibur, dan bermanfaat. :D


Najwa Sihab (N): Apa yang belum banyak publik tahu tentang Pak Sapardi?

Sapardi Djoko Damono (S): Saya ini hampir setiap hari ke mal. Saya ini anak mal sebenernya. Eh, eyang mal. Dokter bilang kalau saya harus banyak jalan kaki. Kalau jalan kaki di luar kan panas, enak di mal. Paling sering ke Pondok Indah Mal, paling dekat dengan rumah.

(penonton tertawa)

N: Kalau mas Jokpin?

Joko Pinurbo (J): Saya ini suka kopi. Di nama saya pun ada “kopi”-nya. Joko Pinurbo. Kopinya pakai gula sedikit saja.

N: Gula diet, atau gula biasa, mas?

J: Gula biasa. Saya tidak mengenal diet. Sudah kurus, diet, nanti mau jadi apa

N: Jadi itu, Jokpin  jadi kopi?

J: Saya suka minum kopi, terutama kopi yang diberikan teman-teman.

N: Kopi gratisan maksudnya?

J: Saya tidak punya kopi favorit, karena tergantung teman memberinya kopi apa.

N: Mas Jokpin. Gambarkan dong. Deskripsikan kepada kami,  sosok yang ada di samping Anda.

J: Pak Sapardi yah. Sosoknya ada di sebelah kiri. Kiri ini sangat sensitif sekali. Padahal saya pernah berbincang-bincang dengan almarhum Romo Yudi Mangun Wijaya, tentang kata “kiri”. Perlu saya jelaskan. Beliau kan merintis pendidikan eksperimental dengan untuk anak-anak SD. Salah satu yang beliau tekankan dengan para guru yang mengajar anak-anak miskin itu harus diajari untuk berpikir. Ngiwa, itu bahasa Jawa. Artinya menyimpang dari jalan yang lazim. Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia secara bebas artinya belok kiri. Tapi kan kata kiri ini jadi sangat sensitif. Padahal kalau kita di kanan terus sumpek kan, yah.  Sekali-kali perlu menengok ke kiri supaya kita lebih kreatif.

N: Karenanya Pak Sapardi ada di sebelah kiri? 

... Jadi sambil mendeskripsikannya pun sudah bawa contekan

(Najwa melihat Jokpin yang merogoh tasnya. Mengambil buku)

J: Saya mumpung ketemu pak Sapardi. Saya pertama kali mengenal puisi Indonesia itu puisinya Sapardi. Dan buku puisi pertama yang saya beli adalah buku puisi DukaMu Abadi. Saya pengin menunjukkan buku puisi pak Sapardi versi perdana yang tidak banyak dikenal orang. Ini versi masih seperti stensilan. DukaMu Abadi.

S: Itu dapetnya dari mana?

J: Nah ini mau saya ceritakan. Dan buku ini tak akan saya berikan kepada siapapaun termasuk kalau Pak Sapardinya sendiri yang minta.

(penonton tertawa)

J: Sangat berharga. Suatu saat saya membantu almarhum Dick Hartoko, majalah Basis, di mana pak Sapardi pernah lama jadi redakturnya. Lalu suatu saat, di rak, (saya) melihat ada  buku versi stensilan ini.

N: Yang bikin tertarik itu? Karena ini buku stensilan

J: Iya. Karena saya belum punya versi perdananya. Jadi untuk semua yang hadir di sini, jangan melupakan karya perdana seorang penyair. Itu penting

N: Umur berapa saat itu mas Jokpin?

J: Umur 20-an. Jadi buku ini saya lihat di rak, lalu saya curi. Bukan saya curi. Saya ambil. Lalu saya koleksi sampai sekarang. Karena ini buku puisi yang mengantar saya sekarang duduk bersama pak Sapardi.

N: Bersejarah yah?

J: Bersejarah…

N: Oh udah toh mas? Oh itu titik yah. Kalau penyair titiknya kadang suka nggak jelas.

(penonton tertawa)

N: Oke jadi saya ingat  pernah membaca cerpen mas Jokpin. Waktu itu ada cerpen di hari  ulang tahun pak Sapardi yang ke-75. Sebotol Hujan untuk Sapardi.  (klik ini untuk baca cerpennya) Sekarang saya ingin tanyanya ke Pak Sapardi. Ketika membaca cerpen itu apa yang bapak rasakan?

S: Saya belum pernah, atau tidak suka,  merasa terharu membaca sastra. Tetapi ketika membaca ini saya tuh tergeli. Sampai hati menulis seperti itu untuk saya. Itu indah sekali. Bagi saya itu tulus. Tidak neko-neko. Mengucapkan selamat ulang tahun seperti itu luar biasa, bagi saya…

(penonton tertawa karena mengira ucapan Pak Sapardi masih berlanjut)

N: Pak Sapardi dideskripsikan seperti itu. Kalau bapak gimana menggambarkan sosok yang di sebelah kanan bapak ini, baik karya maupun persona, pak?

S: Joko Pinurbo itu kemenakan saya. Kemenakan saya banyak. Saya Djoko Damono. Dia Joko Pinurbo. Ada lagi kemenakan saya di Serbia. Namanya Jokovic. Kami sekeluarga sebenernya. Joko Joko Joko. Makanya nanti kalau punya anak namakan Joko.

(Penonton tertawa)

N. Yaudah kalau gitu malam ini saya juga jadi Joko boleh ya, Pak? NaJoko Shihab. Hehe.

Kalau karyanya, bapak melihatnya gimana?

S: Dia menulis lebih baik dari itu, coba lihat. (Pak Sapardi mengambil buku Duka-Mu Abadi milik Jokpin) Ini bukunya dicetak tahun ‘69, oleh seorang temen namanya Jeihan. Kami tuh sejak SMA keluyuran sama-sama, sama-sama dhuafa pada waktu itu. Sampai sekarang juga sebenernya.

Kami suka belajar sama-sama di tempat yang sepi, yaitu kuburan Belanda. Di Solo tuh ada kuburan Belanda. Kami suka ke sana. Kami berangan-angan. Aku mau jadi penyair. Yang satunya, “aku mau jadi pelukis”.

Kami berjanji, nanti siapa yang duluan kaya akan membantu yang lain. Saya senang. Nggak mungkin penyair kaya, kan. Kalau misalnya pelukisnya kaya, jelas. Dan ternyata benar, ketika dia sudah agak-agak kaya. “ini saya punya buku, kamu terbitin deh.” Diterbitin beneran. Tahun berapa itu.. Oh, ‘69.

Nah, pada waktu itu saya sudah janji. Saya mau hanya berbicara di Taman Ismail Marzuki kalau saya punya buku. Tapi buku saya belum terbit. Ketika saya naik panggung, di depan saya itu singa-singa semua, yang pinter-pinter. Saya deg-degan. Saya kan anak kampung. Anak Solo. Buku saya kok nggak ada.

Tiba-tiba muncul seseorang namanya Salimto Yuliman, almarhum, seorang kritikus seni, dia membawa bundel buku, katanya ini dari Jeihan. Untuk  mas Sapardi dikasihkan.

Ketika itu saya kaget. Oh ternyata saya ditolong sama Jeihan, bener. Saya sekarang ceramah, dan buku saya dicetak sama dia. Ini betul-betul buku yang berharga bagi saya, dan bagi pak, eh mas Joko Pinurbo. Itu ceritanya seperti itu.

N: Itu buku pertama, sampai sekarang total ada berapa buku? Apakah sudah tidak bisa terhitung?

S: Belasan lah. Tapi saya kira yang paling baik itu.

N: Pak Sapardi, yang paling banyak diingat orang, dijadikan lagu, dijadikan kalimat di undangan pernikahan, dijadikan kado atau cara merayu orang, itu ada dua puisi. Aku Ingin dan Hujan di Bulan Juni. Saya ingin tahu, proses ketika menciptakan itu. Sekali jadi, atau diulang-ulang?

S: Cara merayu orang itu loh.

(Penonton tertawa)

N: Soalnya saya pernah dirayu dengan kalimat itu, Pak Sapardi. Dan berhasil. agak menyesal sekarang.

S: Halah. Jangan percaya mulut Sapardi.

(penonton tertawa)

S: Jadi begini, memang dua sajak itu, antara lain, yang istimewa itu sekali jadi. Nggak tau kenapa. Kemudian, pada waktu itu dimuat pada sebuah koran, Suara Pembaruan atau apa gitu, tahun ‘69. Saya temukan di Yogya, kebetulan waktu itu ujan-ujan. Di situ ada tiga sajak, Hujan bulan Juni, sama itu (Aku Ingin).

Andaikan sajak itu tidak dijadikan lagu, tidak dinyanyikan Reda, orang tidak akan mengenal. Siapa yang akan membaca puisi kecil si sebuah sudut Koran. Koran sore. Siapa yang baca? Tapi sekarang karena lagu itu, anda sekalian mengenal saya. Jadi, bukan karena anda mengenal puisi saya dulu. Tapi lagu itu dulu. Dan kebetulan, mereka itu adalah bekas-bekas mahasiswa saya. Bukan bekas, tapi mahasiswa. Mereka mencuri sajak saya, saya nggak dikasih uang apa-apa.

(Penonton tertawa)

N:
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan 
kayu kepada api yang menjadikannya abu.

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan 
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.”

Seperti apa mencintai dengan sederhana, mas Jokpin? Saya nanya ke mas Jokpin sekarang. Mencinta dengan sederhana itu seperti apa?

J: Itu puisi yang paling tidak sederhana. Jadi mencintai dengan sederhana itu mencintai yang paling tidak sederhana. Paling sulit. Sesuatu yang mustahil itu yang ditulis Pak Sapardi. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, justru itu yang tidak sederhana. Susah orang mencintai apa adanya.

N: Mas Jokpin kalau mencintai orang seperti apa?

J: Ya itu, seperti kayu kepada api yang menjadikannya tiada.

(Penonton tertawa)

N: Kalau begitu saya tanya ke penciptanya. Mencintaimu dengan sederhana, adakah maksud lain ketika menuliskan itu, Pak Sapardi? Ada banyak sekali interpretasi orang terhadap kalimat terkenal itu.

S: Ya tentu. Memang puisi itu hidup kalau interpretasinya macem-macem. Kalau cuma satu ya sekali baca sudah habis. Jadi orang mikir-mikir: sederhana, ada api, ada kayu. Kayu, dibakar api, toh. Ini kan percintaan bagi saya. Kayu dan api itu bercinta. Sebelum sempat menyampaikan cintanya, sudah jadi abu. Jadi nggak sampai.

N: Jadi ini tentang cinta tak sampai?

(Penonton tertawa)

S: Lho, bukan. Cinta beneran itu, cinta beneran.

(penonton tertawa)

N: Jadi ketika itu sekali jadi, berapa lama prosesnya?

S: Satu hari? Ya berapa menit. 15 sampai 20 menit barangkali. Waktu itu ditulis tangan.

(penonton tepuk tangan)

N: Hujan di Bulan Juni juga seperti itu, secepat itu?

S: Sama.

N: 15 menit saja?

N: Saya mau ke mas Jokpin. Yang menarik dari anda, mas Jokpin, peristiwa sehari-hari itu bisa jadi puisi. Benda-benda sehari-hari: celana, telepon genggam, tiang jemuran, kamar mandi, kuburan, sarung. Dari mana sih celana itu datang ke otak mas Jokpin? Puisi, kok, celana, mas?

(Sapardi terlihat tertawa)
(penonton tertawa)

J: Ya saya juga membayangkan bagaimana  Ari Reda bisa menyanyikan Di Bawah Kibaran Sarung, misalnya. Itu sebetulnya, aduh itu ceritanya panjang. Kalau orang ingat, kan, saya baru menerbitkan buku puisi celana itu tahun 1999. Usia saya saat itu 37 tahun. Sudah sangat terlambat karena apa, karena saya sangat lama untuk mencari celana saya yang hilang.

Kepenyairan saya tumbuh ketika saya harus berhaadapan dengan penyair-penyair besar yang sudah mapan saat itu. Ada Sapardi, ada Goenawan Mohamad, ada Sutardji, ada Rendra, Subagio Sastrowardoyo, saya berhadapan dengan karya-karya yang begitu dahsyat, apa yang saya harus lakukan. Maka yang saya lakukan saya harus belok kiri. Kalau saya jalan lurus mengikuti jalan mereka saya tidak bisa sampai ke Taman Ismail Marzuki.

Nah, ternyata setelah saya belok kiri saya menemukan banyak hal. Itu kejadian saya simpel. Saya hanya meneliti, membaca puisi dari Amir Hamzah sampai Sapardi sampai Rendra, kira-kira yang belum mereka kerjakan apa. Oh, ternyata nggak ada celana, tidak ada kamar mandi, tidak ada sarung. Nah, ini modal saya. Jimat saya. Kira-kira begitu. Jadi saya hanya meneliti kira-kira yang belum pernah dikerjakan penyair lainnya apa. Yaudah saya kerjakan, yang dibilang sehari-hari itu tadi.

N: “Sajak Memo Celana

Kadang, tengah malam, sambil mengigau kau ngeloyor
ke halaman belakang, ingin mencoba bagaimana rasanya
tergantung di tali jemuran, sendirian dan kehujanan.

Joko Pinurbo. Sajak Memo Celana. Dan setelah itu ada banyak celana-celana yang lain, mas Jokpin.

J: ya ada periode celana, kamar mandi, kemudian juga ada periode tahi lalat. Pokoknya yang tampaknya nggak berharga gitu lah.

N: Sekarang periode apa?
J: Sekarang, periode bahasa Indonesia. Saya sekarang sedang mengerjakan puisi-puisi yang menunjukkan keunikan bahasa Indonesia. Saya bermain-main dengan kata-kata bahasa Indonesia. Oh, ternyata bahasa Indonesia itu luar biasa. Jadi, saya ingin menunjukkan kalau bahasa Indonesia menyimpan potensi yang menarik untuk digali oleh para penyair.

N: Bisa dibocorkan sedikit?
J: Ya nanti saya bacakan. Salah satu saya bacakan.

N: Kita tunggu nanti
J: Kalau saya tidak lupa yah.

N: Tugas saya mala mini mengingatkan.

(penonton tertawa)

N: pak Sapardi saya pernah membaca, jangan pernah menulis saat keadaan emosi tidak stabil. Saya agak kaget, Karena saya pikir kalau kita lagi patah hati, lagi jatuh cinta, lagi marah luar biasa, bukannya tulisannya justru mengalir deras, ya, pak? Atau itu salah?

S: Wah itu salah sama sekali. Kalau kita marah, ada yang tidak beres di dalam masyarakat, atau korupsi, atau segala macem, kalau kita marah ya jangan nulis puisi. Banting gelas aja. Kalau udah lego, baru nulis puisi. Kalau cinta sama orang juga gitu, nggak usah buru-buru. Kalau udah selesai, kita tenang, kita punya jarak dengan apa yang ingin kita tulis, kita menulis.

N: Jadi justru harus berjarak?
S: Oh iya. Namanya jarak estetika. Harus. Kalau nggak cengeng. Lebih baik demo, kalau marah, daripada nulis puisi.

(penonton tertawa)

N: jadi pak Sapardi paling sering menulis dalam keadaan apa?

S: Ya dalam keadaan kalau sudah tidak ada rasa yang menggebu-gebu. Saya setenang-tenangnya dalam perasaan saya itu, dan kemudian bisa melihat apa yang saya tulis itu dengan cara yang estetis, dengan jarak yang terjangkau dengan saya. Dan saya mencoba untuk menyampaikan itu secara sangat objektif, itulah sebabnya sajak saya itu gampang sekali dipahami. Karena itu saya cuma gambar kok itu. Ada hujan bulan Juni, itu kan cuma gambar. Kemudian Aku Ingin, itu kan ada gambar, apa namanya, api melalap kayu. Perkara itu ditafsirkan gimana, ya itu salahnya yang menafsirkan. Saya barusan menerima undangan kawin yang ada sajak saya itu, yang Aku Ingin, yang pernah dianggap sebagai sajaknya Khalil Ghibran. Ada teman di Yogya cerita begitu, ketika mengingatkan begitu, “Ini sajaknya mas Sapardi, bukan sajaknya Khalil Gibran”. Apa jawabnya, “wong Indonesia kok bisa bikin sajak seperti itu?!”

N: Underestimate banget. Jadi bahkan sajak Aku Ingin disangka tulisan Khalil ghibran.
S: Iya dan ada sebuah buku yang mencantumkan itu sebagai karya Khalil Gibran.

N: Tapi membuat geer nggak, prof?
S: Nggak. Bagi saya itu lucu aja. Lucu banget itu.


N: Jadi menulis harus berjarak. Jangan dalam keadaan emosi berlebihan. Berarti inspirasi tidak perlu dicari?

S: Inspirasi kok dicari, kita tuh punya niat nulis. Kebetulan ada kesempatan. Nah, apa yang menjadi bahan kita adalah pengalaman kita sehari-hari, apa yang terjadi di kehidupan kita. Seperti yang tadi Jokpin bilang, ada celana, ada sarung, ada kamar mandi. Tapi saya lebih tertarik pada yang ada di dalam celananya itu. Bukan celananya,  tapi yang di dalamnya. Ada kan sajaknyayang begitu? Ada. Porno, dia porno memang.

N: Setuju, mas Jokpin? Anda porno, mas?

(penonton tertawa)

J: Hmm. Iya. Saya ingat puisi itu tapi tidak ingin membacakan puisi itu. Karena nanti pembaca lebih memperhatikan yang di dalam celana itu.

N: Mas Jokpin, menulis biasanya kapan?
J: Hmm. Pada dasarnya saya sembarang waktu. Tapi seringnya tengah malam ke atas, sampai kira-kira jam tiga, itu waktu saya untuk menulis.

N: Sampai jam tiga dini hari?
J: Iya.

N: Di kertas dengan pena, mengetik dengan komputer?
J: Kalau dulu ya tulis tangan, sekarang ya dengan komputer. Tulisan tangan saya semakin jelek sekarang. Karena tangan saya jarang digunakan.

N: Berapa lama biasanya kalau tadi 15 menit sajak pak Sapardi yang legendaris itu tercipta, kalau mas Jokpin berapa lama?

J: Biasanya sajak-sajak saya yang saya suka, yang berhasil itu justru sajak yang saya tulis cepat. Sajak yang terlalu saya persiapkan itu jadinya malah nggak keruan gitu, lho. Malah saya anggap kurang kuat. Jadi pengalaman saya sajak-sajak yang suka yang saya anggap berhasil adalah sajak yang saya tulis dalam waktu cepat. Saya ini kan musiman, dalam satu bulan bisa menulis 12 puisi, lalu enam bulan saya tidak bisa menulis apa-apa. Begitu, jadi saya tidak punya rutinitas menulis puisi, jadi misalnya satu bulan menghasilkan rata-rata berapa, tidak. Saya menulis satu bulan enam, setelah itu sudah, bisa satu tahun tidak menulis.

N: Susah tidak memanggil musim menulis puisi itu?

J: Kalau saya musimnya tidak jelas, tidak pernah menentukan. Saya tidak punya bulan favorit kapan menulis.

N: Bulan Juni seperti pak Sapardi?

J: Saya jarang sekali menulis puisi pada bulan juni. Kan sudah ada Hujan Bulan Juni. Tapi kalau diperhatikan, saya baru sadar belakangan, ternyata pada bulan-bulan yang banyak ‘er’-nya itu. September, Oktober, November, Desember itu saya banyak menulis puisi. Saya nggak tahu kenapa.

N: Tadi mas Jokpin mengatakan ‘puisi yang dianggap berhasil’. Boleh tidak saya minta mas Jokpin membacakan puisi yang berhasil di mata Jokpin.
Waduh, banyak sekali. Mana yang saya pilih yah.

N: Sangat rendah hati memang mas Jokpin.

(penonton tertawa)

J: Ya apa yah, sekali-kali penyair membanggakan dirinya lah. Karena kan tidak ada yang dibanggakan.  Rezekinya tidak jelas.

N: Apa ini judulnya, mas Penyair

J: Puisi ini pernah berkali-kali saya bacakan. Tetapi akan saya bacakan lagi, karena puisi tentang bahasa Indonesia tadi. Main-main saya dengan bahasa Indonesia. Boleh saya bacakan?

N: Silakan mas. Kita kasih tepuk tangan dulu dong

J: Judulnya Kamus Kecil

Saya dibesarkan oleh bahasa Indonesia yang pintar
Dan lucu walau kadang rumit dan membingungkan.
Yang mengajari saya cara mengarang ilmu sehingga saya tahu sumber segala-gala kisah adalah kasih.
Bahwa ingin berawal dari angan
Bahwa ibu tak pernah kehilangan iba
Bahwa segala yang baik akan berbiak
Bahwa orang ramah tidak mudah marah
Bahwa untuk menjadi gagah kau harus menjadi gigih.
Bahwa seorang bintang harus tahan banting
Bahwa orang lebih takut kepada hantu ketimbang kepada tuhan

Hantunya itu banyak di kiri atau di kanan nggak jelas.

(Penonton tertawa)

Bahwa pemurung tidak pernah merasa gembira
Sedangkan pemulung tidak pelnah merasa gembila

Bahwa orang putus asa suka memanggil asu.
Bahwa lidah memang pandai berdalih
Bahwa kelewat paham bisa berakibat hampa
Bahwa amin yang terbuat dari iman menjadikan kau merasa aman.
Bahasa Indonesiaku yang gundah

Membawaku ke sebuah paragraf yang merindukan bau tubuhnya.
Malam merangkai kita menjadi kalimat majemuk yang hangat
Di mana kau induk kalimat, dan aku anak kalimat.
Ketika induk kalimat bilang pulang,
Anak kalimat paham bahwa pulang adalah masuk ke dalam palung
ruang penuh raung, segala kenung tertidur di dalam kening.
Ketika akhirnya matamu mati, kita sudah menjadi kalimat tunggal yang ingin tetap tinggal dan berharap tak ada yang bakal tanggal .

Demikian bahasa Indonesia.

(Penonton tepuk tangan)

N: Pak Sapardi apa komentar bapak atas puisi tadi, pak?

S: Saya sedang mikir-mikir nih. Jokpin ini kok mendahului saya. loh. Bukan , artinya, tanpa mengatakan pun, sesungguhnya sajak tadi menjelaskan bahwa puisi itu bunyi. Bahasa itu bunyi. Itu kan permainan bunyi. Ini itu, ini itu. Dan menurut saya itu memang—yang saya sudah siapkan dari rumah untuk menjelaskan ini—puisi iitu bunyi sebenernya. Kalau dalam khasanah bahasa jawa pusi itu ditulis dalam bentuk tembang puisi itu harus dinyanyikan. Dalam diri puisi itu sendiri itu ada bunyi. Jadi puisi yang belum jalan  bentuk bunyinya, itu tidak akan disukai orang. Itu masalahnya.

Tadi dijelaskan, sebenernya Jokpin berteori bahwa puisi itu adalah permainan bunyi. Titik. Perkara maksudnya apa terserah pada kita semua. Mungkin Jokpin tidak memaksudkan sesuatu. Begini, begitu, tapi karena bunyinya indah, puisi menghasilkan sesuatu yang mungkin di luar pemikiran si penyairnya sendiri. Itu saya kira.

N: Bunyinya yang indah?

S: Ya.

(penonton tepuk tangan )

N: Penilaian itu tepat, mas Jokpin?

J: Ya tentu saja jauh lebih tepat dibanding yang saya bayangkan. Jadi ya memang sebetulkan saya ingin memberi pengertian, atau persepsi bahwa puisi seperti itu. Saya bermain-main dengan kata. Saya sendiri tidak paham kok maksud puisi ini apa. Saya tidak paham.

Saya juga sering menafsirkan puisi saya sendiri. Jadi ketika saya menulis puisi Celana 18 tahun lalu, sekarang saya membacanya lagi, posisi saya sebagai pembaca. Saya menafsir lagi puisi saya. “Wah  kok bisa gila kayak gitu yah” saya kadang-kadang begitu.

N: Dan berbeda 18 tahun lalu ketika dituliskan, dengan sekarang ketika dibaca ulang?

J: Bisa berbeda maknanya.  Bisa berbeda atau bisa menjadi berkembang maknanya. Itu yang besok ingin saya sampaikan dalam acara Ibadah Puisi. Bagaimana cara saya menafsirkan puisi saya sendiri. Sama seperti saya menafsirkan puisinya pak Sapardi. Misalnya begini, buku puisi DukaMu Abadi ini sangat berkesan bagi saya karena ini saya baca sejak remaja puisi-puisi ini kan ditulis tahun 67-68. Ini saya mau member tafisr sedikit. Pak Sapardi nggak usah campur tangan yah.

(penonton tertawa)

N: Silakan mas.

J: Nah, ini buku puisi  yang sangat liris tetapi saya punya penghayatan sendiri. Puisi-puisi ini lahir persis setelah tragedi 65. Kalau kita membaca puisi-puisi ini sama sekai tidak ada petunjuk peristiwa politik yang terjadi. Tetapi saya bisa merasakan bahwa suasan yang dilukiskan dalam DukaMu Abadi itu suasana setelah terjadi tragedi yang sangat besar. Tragedi berdarah. Ada bau kematian. Ada suasana sunyi yang ngelangut stelah terjadi pergolakan yang laur biasa. Baris pertama puisi DukaMu Abadi aja begini: “Masih terdengar sampai di sini, dukaMu abadi”

Nah yang belum pernah diungkap orang bahwa di dalam puisi itu ada disebut-sebut kata Golgota, misalnya. Jadi saya mempunyai tafsir bahwa tampaknya puisi ini ingin menunjukkan bagaimana tragedi penyalipan Yesus itu terjadi secara masal pada tahun 65. Ini sangat terlukis di dalam puisi-puisi ini menurut penghayatan saya.

Saya pernah membuat tafsir terhadap serangkaian puisi pak Sapardi lewat cerita pendek saya, Laki-laki Tanpa Celana, di sana saya menunjukkan melalui teks-teks pak Sapardi memang ada tragedi ada trauma yang baunya bisa saya cium dari puisi-puisi beliau. Jadi memang puisi-puisi ini ditulis pada suasana yang sangat kontemplatif ketika sesesorang sudah mengambil jarak dari tragedi itu. Lalu tragedi sosial yang terjadi sejarah itu akhirnya menjadi trauma psikologis yang sifatnya individual. Jadi kalau say abaca ulang bau kengerian itu masih ada. Makanya puisi ini jadi sangat menarik, karena tidak ditulis dengan nada yang berkobar-kobar. Tetapi malah justru jadi lebih mencekam. Saya sangat ngeri kalau membaca DukaMu Abadi

N: Sangat ngeri, mas?

J: Sangat ngeri.

N: Bacakan sedikit saja.

J: Oke saya bacakan.

N: enak yah bisa nyuruh-nyuruh.

J: Ini masih ejaan lama, mbak Nana. Wah sangat berkesan. Beruntunglah saya memiliki. Kapan-kapan mau saya lelang ini.

(penonton tertawa)

J: Jadi puisi pertama judulnya Prolog. Kita membayangkan sehabis terjadi tragedi 65. Mungkin penyairnya tidak bermaksud begitu tetapi, ini urusan saya sebagai pembaca.

(pak Sapardi menutup kuping)

J: Masih terdengar sampai di sini
DukaMu abadi
Malam pun sesaat terhenti
Sewaktu diri pun terduduk, terdiam
Di luar langit yang membayang samar
Kueja setia
Semua pun yang sempat tiba
Sehabis mengukuh ladang kain dan bukit golgota
Sehabis menyekap beribu kata
Di sini, di rongga-rongga yang mengecil ini
Ku sapa dukamu juga
Yang dahulu yang meniupkan jarak ruang dan waktu
Yang capai menyusun huruf dan tepat dan terbaca
Sepi manusia, jelaga”

Itu puisinya.  Dengan nada berkobar-kobar. Malah justru jadi lebih mencekam. Saya justru jadi sangat ngeri ketika membaca duka mu abadi

N: sangat ngeri mas?

J: Ya.

N: kita tepuk tangan dong. Puisi Sapardi dibacakan oleh Joko Pinurbo. Saya ingin tanya yang membuat, intrepretasi itu mendekati dengan apa yang bapak pikirkan ketika menulis?

S: bukan mendekati, itu melompati. Itulah yang saya katakan tadi. Sajak itu jauh lebih jauh dari apa yang diketahui oleh si penyair tentang sajaknya sendiri. Kalau saya boleh menjelaskan ini, saya akan menjelaskan dengan cara lain.

Tahun 67 dan 68, berarti umur saya 27 atau 28. Menurut teori yang tidak saya percaya, jadi pada umur itulah orang untuk pertama kalinya sadar bahwa dirinya akan mati. Ini pernah dikatakan oleh Sartre, dia mengatakan pada tahun-tahun segitu orang mulai sadar, dia akan mati. Dan mungkin ini yang saya tulis. Ini banyak tentang kematian segala macam itu. Saya dalam keadaan, ada sajak saya yang betul-betul takut sekali, takut mati. Tapi hasilnya seperti ini. bukan kemudian, saya membuat sajak yang menyebabkan anda nangis. Saya mengambil jarak dari ketakutan mati itu. saya menulis sajak seperti ini. Itulah sebabnya, mungkin ditafsirkan lain.

Dukamu itu “Mu”-nya besar. Bagi saya, Tuhan kok berduka terus sampai sekarang melihat umat-Nya. Apa nggak pernah jadi beres kita ini. kemudian ditambah ketakutan akan mati itu tadi. Menurut saya penting sekali, itulah yang mendasari puisi saya. Beberapa buku saya yang banyak dibicarakan mungkin yang ini. dan banyak sekali tafsir, dihubungkan sana dihubungkan sini. Itu saya senang sekali. Puisi memang seperti itu. tafsir Jokpin sangat saya hargai. Sajak yang pertama tadi. Saya menganggap, ketika ini dikumpulkan saya merasa ada semacam benang merah antara sajak dengan yang lain. Ada seorang kritikus, menganggap tiga sajak dijadikan satu. Meskipun saya tulis secara terpisah.

N: Jadi betul-betul tergantung intrepretasi siapa yang membacanya?

S: Iya betul.

N: Pak Sapardi tadi Jokpin sudah membacakan puisi yang menurutnya berhasil. Saya ingin meminta bapak membacakan puisi yang bapak anggap berhasil, karya bapak.

S: Kalau saya membaca puisi Aku Ingin semua orang hapal. Baca Hujan bulan Juni orang juga hapal. Jadi bosen. Nanti dinyanyikan lagi. saya mau membacakan sesuatu yang pernah saya bacakan di sini. Saya tahu saya akan dipaksa untuk membaca sajak. Sebenernya pekerjaan saya ini kan menulis bukan membaca.

N: bukan dipaksa tapi diminta dengan hormat dan diiringi tepuk tangan yang meriah.

S: Ini juga untuk menambah pengetahuan kita semua. Saya bukan penyair cinta. Judulnya Tentang Mahasiswa yang Mati 1996

Aku mencintainya sebab ia mati ketika ikut
rame-rame hari itu. Aku tak mengenalnya,
hanya dari koran, tidak begitu jelas memang,
kenapanya atau bagaimananya (Bukankah semuanya
demikian juga?) tetarpi rasanya cukup alasan
unutk mencitainya. Ia bukan
mahasiswaku. Dalam kelas mungkin saja
ia suka ngantuk, atau selalu tampak sibuk mencatat,
atau diam saja kalau ditanya,
atau sudah teralanjur bodoh sebab ikut saja
setiap ucapan gurunya. Atau malah terlalu suka
membaca sehingga semua guru jadi asing baginya.
Dan tiba-tiba saja, begitu saja, hari itu ia mati;
Begitu berita yang ada di koran pagi ini—
Entah kenapa aku mencintainya
Karena itu. Aneh, koran ternyata bisa juga
Membuat hubungan antara yang hidup
Dan yang mati, yang tak saling mengenal.
Siapa namanya, mungkin disebut di koran,
Tapi aku tak ingat lagi,
Dan mungkin juga tak perlu peduli. Ia telah
Mati hari itu—dan ada saja yang jadi ribut.
Di negeri orang mati, munkin ia sempat
Merasa waswas akan nasib kita
Yang telah meributkan mahasiswa mati.

Terima kasih

N: Tentang Mahasiswa yang Mati Tahun 1996. Jadi pas saat itu pak Harto masih berkuasa. Sempat ada ramai-ramai ketika puisi itu muncul di koran?

S: Puisi ini saya baca di sini, di TIM. Kemudian wartawan KOMPAS,  katanya tidak biasa. Dalam beritanya puisi ini dikutip utuh. Seingat saya begitu. Kemudian saya kirim ke sebuah majalah di Jogja, Basis. Kemudian saya ditanya editornya, “apa mas Sapardi berani menulis puisi seperti ini?” Puisi ini ndak galak toh? Saya kan nggak marah. Nggak ada tanda pentung. Saya cuma cerita saja saya mencintai mahasiswa yang mati karena dibedil.

Sajak seperti ini, membutuhkan seperti yang saya sampaikan tadi, jarak itu. kalau saya menggebu-gebu membaca koran itu bubrah semua. Nggak jadi. Saya pernah membaca sajak yang satu buku isinya tanda seru semua. Membacanya gimana? Masa teriak-teriak terus? Nggak mungkin kan saya teriak.

Tapi memang sajak semacam ini, karena ada jarak estetis itu tadi itu dikerjakan lama. Tadi saya katakan ada beberapa sajak saya yang ditulis beberapa menit. Ada sajak saya yang ditulis tiga tahun nggak jadi-jadi dan sampai sekarang saya belum puas dan harus diperbaiki lagi.

N: sajak apa itu?

S: namanya Dongeng Marsinah. Marsinah itu tahun ‘96 saya tulis baru selesai tahun ‘98. Lama sekali. Saya koreksi terus. Karena itu terlibat emosi saya, sajak saya nggak karuan. Isinya kemarahan mulu. dalam sajak kok orang marah. Dalam sajak nggak boleh orang marah, dalam sajak nggak boleh orang bercinta, dalam sajak nggak boleh macam-macam. Pokoknya dongeng saja. Seperti sajak Joko Pinurbo, mana aja sajak Joko Pinurbo yang marah? Dia mengajak kita, hidup tuh santai aja kayak yang dia utarakan. Nah itu saya kira hakikat puisi. Puisi tidak mengajak kita ke sana kemari, ke kanan atau kiri, ya terserah mau lurus atau tidak. Apalagi di tempat kita belum kiri boleh lurus.

N: Boleh langsung.

S: Nah kan kita bingung mau kiri atau langsung. Dalam salah satu lagu dikatakan saya dikatakan lefthanded bukan leftish. Meski di negara saya di Depok sana, lefthanded pun dilarang.

N: Karena itu menarik untuk bicara yang tengah terjadi di negeri kita saat ini. Bicara soal korupsi, soal Pilkada, soal pemimpin, penguasa Jakarta, atau yang mau jadi penguasa Jakarta. Hal-hal itu menarik tidak dijadikan puisi, mas penyair?

J: Ya saya ini biasa menulis hal-hal yang remeh: celana, kamar mandi,dsb. Jadi kalau tiba-tiba harus bicara soal pemimpin itu rasanya berat. Saya masih menyimpan rasa penasaran soal pemimpin ya.

Saya punya pemimpin negara, namanya Joko, Joko widodo. dari Solo, orangnya kurus. Saya punya pemimpin puisi, namanya juga Djoko, Djoko Damono dari Solo, kurus juga. dari situ saja sudah terasa bagaimana semesta mengatur ini. Masih ditambah lagi, saya memiliki diri saya sendiri, namanya Joko, Joko Pinurbo. Kurus, berasal dari dekat-dekat Solo. Saya lalu teringat puisi pak Sapardi,  yang fana adalah waktu. Saya merasa yang fana adalah Joko. Najwa abadi.

(penonton tertawa)

J: Kalau tentang Ahok saya ingat puisinya Wiji thukul. Wiji Thukul kan puisi yang paling dihapal hampir semua aktivis adalah “hanya ada satu kata, lawan!”. Kalau Ahok, hanya ada satu kata yang benar-benar menohok, Ahok!

N: pak Sapardi, situasi negeri menarik untuk dijadikan karya?

S: selalu menarik. Tapi karena puisi pendek, dan saya nggak bisa cerewet di situ. Saya nulis novel. Di novel saya, Trilogi Sukram, Anda akan tahu saya protes keras terhadap segala macem. Pengarang telah mati itu 1998. Pengarang yang belum mati 1964. Ketiga, itu yang terjadi ketika pemberontakan di Sumatera Barat, datuk maringih melawan belanda. Kemarahan saya itu saya tuliskan di sana. Jangan percaya saya pokoknya dibaca saja. Nanti pulang kan ada Gramedia bisa mampir. Baca bener-bener. Jadi cara saya marah itu begini, pada buku ketiga itu, saya jadikan Datuk Maringgih itu pahlawannya. Bagi saya dia pahlawan. Yang sontoloyonya itu, Syamsul Bahri itu gombal banget, dia kan antek Belanda. Kenapa dia jadi pahlawan? Sedangkan Datuk Maringgih itu dia keliling dari surau ke surau untuk ngumpulin orang islam karena tidak ingin bayar pajak. Kenapa dianggap bajingan? Itu kan susah, nggak bisa dong. Saya jadikan pahlawan di situ. Itu cara saya melawan. Bukan dengan marah, itu dongeng. Jadi dalam cerita itu, Datuk Maringgih adalah pacarnya Siti Nurbaya. Sama sekali berbeda. Itu cara saya menafsirkan politik di negeri saya ini.

N: Kalau yang dialami sekarang, adakah penafsiran khusus ala Sapardi?

S: Saya sedang nulis dua novel. Tunggu sampai akhir tahun. anda akan kaget. Saya nggak belok kiri, tidak belok lurus, tidak belok kanan. Kan bebas toh? Berhenti ya boleh. Saya nggak mau berhenti. Saya mau belok-belok. Sekarang ini khasanah sastra kita muncul macem-macam.

Yang perlu diperhatikan, kita bicara sastra dengan yang dibicarakan Joko tadi. Sastra itu, puisi itu, ya kata-kata itu. Bukan apa yang dikandung kata-kata itu. Sekarang yang dibicarakan itu apa yang dikandung kata-kata itu. caranya nggak berukuran ya nggak apa-apa, tapi yang dikandung seperti itu. itu yang bermasalah. Itu bukan sastra bagi saya. Itu masalah besar. Karena sastra itu cara pengucapan, seni kata, yang memang berbeda dengan yang lain. Maknanya beda-beda ya nggak apa-apa, cara itu yang penting.

N: mas Jokpin, penyair muda kita hebat-hebat tidak?

J: woh hebat-hebat. Pada saat saya seusia mereka, saya belum sehebat mereka. Dan ada cukup banyak. Ada Aan Mansur, Mario Lawi, Beni Satryo. Itu menurut saya mereka lebih cepat mencapai tingkat kematangan berpuisi dibandingkan saya dulu. Saya tidak tahu. Emang anak sekarang cerdas-cerdas dan didukung berbagai fasilitas oleh media, terutama teknologi digital. Dulu kan mau nerbitkan buku itu susahnya minta ampun. Masuk koran juga cuma koran tertentu. Sekarang iklimnya sangat mendukung untuk mereka mengembangan puisi Indonesia lebih besar lagi. Saya yakin masih banyak potensi yang masih bisa digali. Saya kira itu. saya harus mengakui, banyak penyair muda yang karyanya menjanjikan.

Persoalannya satu. Para penyair generasi saya jumlahnya ratusan. Tapi yang bertahan bisa dihitung dengan jari tangan. Jadi menurut saya ada faktor lain yang menentukan seseorang bisa bertahan di dunia kepengarangan yakni mentalitas dan etos kerja. Masalahnya situasi sekarang penuh godaan, karena semua serba mudah, lalu bisa jadi budaya instan di dalam menulis itu bisa merasuk ke penyair muda sekarang.

N: Waktu bilang penyair sekarang bagus-bagus, yang membedakan puisi bagus dengan yang tidak bagus, apa?

J: Kalau saya sederhana. Saya percaya seperti yang disampaikan pak Sapardi tadi. Sastra itu menyangkut cara seseorang mengungkapkan tanggapan atau penghayatnya terhadap peristiwa atau persoalan hidup. Dari segi itulah saya melihat sejumlah usaha kreatif untuk memperkaya puisi Indonesia. Misalnya gini, Mario Lawi, dia banyak mengangkat narasi-narasi yang selama ini terpendam. Kisah-kisah kitab suci kemudian diolah. Juga ada penyair lain yang mengolah tema-tema yang belum banyak disentuh.

N: Lebih berani-berani ngambil risiko?

J: Saya pikir begitu. Saya rasa sejak reformasi, Puisi saya lahir setelah reformasi  saya tidak membayangkan jaman orde baru, orang bikin puisi yang isinya candaan puisi seperti yang saya tulis. Saya nggak yakin kalau orba tidak runtuh saya bisa nulis puisi celana. Itu kan banyak hal-hal dalam politik yang tidak boleh dituliskan. Banyak puisi saya berisikan candaan politik hanya saya tuliskan dengan gaya saya. Gaya orang Jogja: halus, slengean, plesetan gitu. Saya tidak bisa menulis dengan gaya Rendra atau Wiji Thukul. Saya juga nggak bisa nulis dengan gaya pak Sapardi yang begitu sublim karena kultur hidup saya berbeda.

N: pak Sapardi melihat karya penyair muda kita, membesarkan hati anda?

S: Sangat membesarkan. Jadi begini, sewaktu saya remaja itu saya hanya bisa membaca di koran. Dan tidak semua koran ada sastranya. Majalah susah sekali, belum tentu kami mendapatkan itu. Dan sekarang yang muda-muda dengan mudah mendapat puisi tidak hanya dari buku. Karena sekarang sastra bukan hanya buku. Kalau kita masih mikir sastra adalah buku adalah keliru. Karena ada benda ajaib, komputer atau apapun yang menyambungkan kita dengan internet. Itu kita belajar. Anak-anak sekarang yang muda-muda itu kalau mau baca sajak siapapun tinggal ngetik namanya langsung keluar. Jaman saya dulu nggak mungkin. Saya dulu belajar dari Rendra. Kenapa Rendra? Karena Rendra, menurut saya, waktu itu satu-satunya sajak yang bisa saya baca dengan bahasa yang sederhana. Pada tahun 50-an puisi Indonesia itu puisi gelap. Susah sekali dipahami. Tapi ketika Rendra nulis ternyata orang bisa nulis dengan bahasa seperti itu. dengan cara demikian, pertanyaan anda meleset tapi saya yang memelesetkan. Anak muda punya bahan yang luar biasa untukbelajar. Orang bisa nulis kalau membaca. Sekarang bahan bacannya melimpah. Kalau saya baca karya seorang penyair saya bisa tahu anak ini banyak baca atau nggak.
Membaca berarti terpengaruh. Di dalam sastra terpengaruh itu harus. Bukan haram. Kita itu harus mencuri dari tempat lain. Dari penyair yang dulu. Dari syair orang lain.

N: Prof, sekarang masih seperti itu?

S: Jelas. Mencuri ya jangan meminjam. Kalau pinjam harus dikembalikan. Kalau mencuri jangan sampai ketauan.

N: Ada yang dicuri dari mas jokpin?

S: Wah, dia yang nyuri dari saya kok.

N: Internet, kemajuan teknologi memungkinkan orang untuk belajar dari berbagai sumber. Apa karena itu prof Sapardi Twitteran? Itu twitter sendiri?
S: iya sendiri. Cuma nggak selalu ta’ jawab. Nggak apa-apa. Kalau dijawab berarti itu dari saya. Saya pernah itu, apa namanya,

N: akunnya?

S: SapardiDD. Itu langsung. Sebelumnya saya ikut Facebook. Banyak sekali. Tapi habis itu saya tinggal. Orang banyak kirim karya ke saya terus saya koreksi. Saya ini nggak digaji kok disuruh koreksi. Dan kalau misal saya kritik, marah. Yasudah. Tapi kalau Twitter kan sedikit.

N: Lebih in lagi snapchat sekarang prof

S: Nah itu lebih bagus lagi. tapi saya belum ke sana.

N: Saya baru tau prof Sapardi sangat melek gadget yaa

S: Saya nggak cuma melek gadget, saya tuh seorang yang tau teknologi kelas tinggi. Buku-buku saya, saya terbitkan sendiri saya jual sendiri cover-nya buat sendiri, saya kirim ke percetakan sendiri, ke penerbitan sendiri, kalau nggak percaya tanya Gramedia. Sampai sekarang. saya nggak punya asisten apapun. Maka dari itu penerbitan saya nggak mati-mati lah wong nggak gaji orang, karena saya gaji diri sendiri. Apapun yang saya tulis itu saya ajarkan di kelas, saya paksa mahasiswa saya beli. Nah kembali itu.

(penonton tertawa)

N: Itu dia tips jadi penyair abadi. Hahaha.  Kalau mas Jokpin, kenapa sudah jarang Twitteran mas?

J: cita-cita saya dengan twitter sudah tercapai ya sudah.

N: apa cita-citanya?

J: Gini, awal 2000-an, saya menulis puisi tentang telpon genggam. Waktu itu baru demam hape. Waktu setelah reformasi. Waktu itu saya sudah punya feeling, saya meramalkan bahwa kita akan memasuki era digital. Ternyata benar yang diramalkan puisi saya waktu itu.

N: Sajak Telepon Genggam?

J: pak Sapardi tau itu, pernah diskusi itu di ui. Puisinya nggak karuan itu, puisi eksperimental sekarang.

N: yang awalnya azan subuh berkumandang itu bukan?

J: iya ada itu.

N: saya bacakan yaa?

J: Silakan kalau mau dibacakan. Saya tidak tega membacakannya.

(penonton tertawa)

N: Supaya ada bayangan. (Ini) Salah satu sajak favorit saya.

Sajak Telepon Genggam, Joko Pinurbo

Azan subuh berkumandang
Penuh hujan
Dia buka telepon genggam
Tumben ayah kirim pesan
Ibu sakit, kangen berat
Nenek sudah tiga hari hilang
Makam kakek belum sempat dibersihkan
Sarung ayah dicuri orang
Utang stabil
Pohon nangka di samping rumah tumbang
Bisa pulang?
Bisa minta ijin telepon genggam
Pesan berakhir

Musik telepon genggam menyanyikan The Beatles, Mother”

Favorit, mas Penyair. Itu bisa membayangkan era digital?

J: iya. Kalau boleh menggunakan istilah, itu sastra profetis.  nggak percaya. Era sekarang menjawab kegelisahan saya waktu itu. lalu saya buat twitter. Cita-cita saya bikin puisi dari twitter. Saya mencoba nulis puisi pendek di twitter. Dirangkai jadi buku. Dan sekarang belum punya kegelisahan lagi.

N: tercapai karena bukunya sudah terbit?

J: tercapai bukunya sudah terbit.

N: apa membuat Jokpin biasanya gelisah?

J: kan orang paling gelisah dengan dirinya sendiri. Kalau saya gelisah dengan diri saya sendiri. Saya merasa, diri saya tidak jelas. Rejekinya juga tidak jelas. Walaupun tidak jelas, setiap rejeki harus dirayakan dengan kopi. Makanya saya suka kopi. Sebetulnya kegelisahan saya itu begini ada satu soal yang membuat saya bertnya, kenapa semakin lama kita semakin sensitif? Semakin mudah berprasangka dengan label-label ini. tadi saya mengatakan. Masa negara sebesar ini dengan satu kata “kiri” ini bisa kalang kabut. Saya heran. Itu yang menggelisahkan saya.

Kalau kita pelajari sejarah siapa yang mengisi makna kata kiri ini. kata kiri ini sudah diberi konotasi tertentu sehingga orang takut mengatakannya. Padahal kiri dan kanan adalah yang niscaya hidup sehari-hari. Tetapi konotasi ini membuat hubungan negara dengan warganya menjadi kikuk jadi nggak nyambung. Karena ada label-label yang diberi intrepretasi tertentu. Nah sebetulnya itu yang sekarang menarik perhatian saya. Cuma saya nggak tau gimana menuliskannya. Tapi ini kegelisahan saya, karena menyangkut hubungan negara dan warganya itu. 

Jadi kita itu ternyata bukan menguasai kata-kata tapi malah dipermainkan oleh kata-kata. Kata kiri aja kita nggak bisa menguasai tapi dipermainkan. Hanya satu kata kiri. Simple sekali. Kiri itu pun biasa. Masalahnya kan konotasinya itu neraka. Kanan surga. Kalau belok kiri itu jalan neraka. Kanan itu jalan surga. Kadang itu iblis itu muncul dari kanan yang disebut surga itu. nah ini permainan apa ya. Puisi saya itu tadi hanya contoh kata-kata bahasa indonesia itu bisa menimbulkan kegelisahan tertentu bahkan bisa buat orang kalang kabut. Saya tertarik dengan fenomena bagaimana orang terkuasai oleh konotasi yang ada di kata-kata.

N: apakah akan segera dituangkan tidak hanya dalam bentuk sajak tapi ?

J: sebetulnya sudah. Saya kan pernah buat puisi judulnya Asu, yang dituliskan matanya kidal merah kiri itu sudah. Cuma kan orang nggak memperhatikan puisi itu.

N: judulnya Asu?

J: iya. Puitis sekali itu.

N: Dari judulnya sendiri sudah tergambarkan.

J: Jadi saya sudah menulis itu.

N: Saya ingin tanya, buku favorit. Adakah buku favorit sampai sekarang terus dibaca?

J: kalau saya salah satu memang DukaMu Abadi. Saya punya dua versi. Salah satunya versi Pustaka Jaya. (Bukunya) sampai lecek. Saya beli sampai tiga kali. Sebelumnya hilang diambil orang. Persisi yang saya tuliskan di cerpen saya Sebotol Hujan itu kejadian betul. Itu buku puisi pertama dan saya belinya di jogja. Padahal saya sekolah di magelang. Pas hari minggu saya ke jogja buat beli bukunya. Harganya masih tertera itu. dulu 25 rupiah. Ini versi pustaka jaya. Harganya 200rupiah atau 500. Ini salah satu buku favorit bukan masalah bagus atau tidak. Menurut saya paling menginspirasi. Yang paling membuka jalan kepengarangan saya ya dukamu abadi. Ini ingin saya sampaikan mumpun masih bertemu.

N: ini baru pertama atau sudah sering muji pak Sapardi?

J: saya sering. Tapi pak Sapardi tidak tahu. Ini buku pertama saya, sengaja saya bawa. Buku perdana dari penyair yang membuka..

N: yang membuka jalan anda jadi penyair, Kalau pak Sapardi?


S: saya tadi mau bilang, Joko Pinurbo aja membeli tidak buku saya. Tapi sampai sekarang saya tidak kaya. Satu orang baca tiga buku kalau ada ratusan orang baca tiga buku, tapi ternyata cuma dia itu yang baca buku saya. 

(penonton tertawa)

N: semua orang di ruangan ini sepertinya punya buku Sapardi



S: tadi apa pertanyaannya? Tadi saya katakan, pertama kali saya baca puisi dengan baik itu puisi Rendra. Seperti yang sudah saya katakan, ada masa yang kami sebut itu sebagai puisi gelap. Karena puisi setelah Chairil Anwar itu. apa sebabnya? Karena yang nulis itu orang sunda, orang batak, orang Jawa nggak bisa berbahasa indonesia. Bahasa Indonesianya belepotan. 

Ketika Rendra nulis, "ohh itu puisi". Waktu SMA saya beli buku Rendra judulnya Balada Orang-orang yang Tercinta, di samping itu saya membaca sebuah sajak drama bersajak karangan T.S Elliot kalau diterjemahkan jadi pembunuhan di Katedral. Sampai sekarang begitu saya baca lagi,"Sapardi itu nyuri dari T.S Elliot." Saya lihat itu sungguh luar biasa. Dia nulis beberapa buku  yang luar biasa bagi saya itu yang membuat saya menganggap puisi itu tidak bisa saya tangkap sepenuhnya tapi bikin saya terus baca. Ini apa? Kira-kira saya bisa ndak nulis seperti itu sampai sekarang. saya yakin bahwa ada seorang teman kalau ingin jadi penyair jadilah seorang modernis. T.S Elliot itu mbahnya modernis Eropa waktu itu. dia menemukan cara-cara pengungkapan yang luar biasa. Skripsi saya yang pertama mengenai itu.

N: dan itu prof Sapardi terjemahkan juga?

S: iya.

N: buku favorit

S: ya.

N: baik.

S: nanti saya beri terjemahan saya kalau mau.

N: hampir mendekati ujung. Pak Sapardi sudah 50 tahun berkarya. Jokpin kurang lebih 30 tahun. saya ingin tau sepanjang puluhan tahun itu, apa momen paling spesial yang kalau diingat bikin senyum2 sendiri?

J: ya ketika buku puisi pertama celana terbit. Saya nggak sengaja. Waktu itu saya sudah lama menyair tapi belum punya buku. Saya ragu apakah akan terus menyair atau tidak. Pada suatu saat, ada penerbit kecil di magelang minta saya ngumpulin puisi saya. Saya asal saja. Masih ketikan manual, tidak saya atur, terserahlah mau diterbitkan seperti apa. Jadi dan banyak salah cetaknya. Buku salah cetaknya itu urutan puisi nggak karuan, ternyata bawa berkah. Jadi suatu saat pak Sapardi bilang buku saya menang. Buku salah cetak bisa membawa saya menang. Ini yang membuat saya terkesan. Jadi buku puisi saya celana yang beredar yang salah cetak. Jadi ada yang menerjemahkan itu bingung. Karena ada "sebotol bir" tercetaknya "sebotol bibir". Sampai bingung. Karena banyak salah cetak. Itu momen berkesan. Salah cetak bawa keberuntungan. 

Setelah itu saya merasa okelah saya jadi penyair. Dari situ saya kembangkan menjadi sarung, kamar mandi. Kalau tidak menemukan celana saya nggak menemukan sarung, kamar mandi, atau asu. Penemuan celana ini yang paling luar biasa. Saya sendiri heran. Momennya sederhana saya harus menghadiri suatu acara saya beli celana. Semua longgar buat saya. Saya nggak dapet celana dapet puisinya.

N: prof Sapardi, adakah momen yang paling diingat?

S: sudah saya ceritakan, ketika saya bicara di depan orang-orang itu, tiba-tiba muncul utusan teman saya dari bandung dengan buku saya. Itu sangat berkesan bagi saya. Itu pertama kali buku saya diterbitkan dengan cara sederhana. Disusul buku-buku saya lainnya dengan cara sederhana lainnya, mata pisau, akuarium. Itu hanya 27-28 halaman. Itu ada salah cetak. Itu kemudian mengawali hidup sebagai penyair. Dan yang lainnya, setelah itu menggelinding semuanya gampang saja.

N: pertanyaan terakhir, ketika puisi begitu menggetarkan hati mengajarkan orang cinta mencintai, apakah dalam kehidupan sehari-hari skill membuat puisi yang menghanyutkan itu juga berguna?

J: skill terasah dalam proses. Salah satu cara mengasah skill ya menulis terus.

N: jadi banyak puisi cinta, surat cinta, tweet cinta dari Jokpin?

J:  kayaknya saya kurang bakat di cinta itu. jadi hampir tidak ada puisi cinta saya dikenang orang. Tampaknya saya tidak berbakat untuk menulis puisi cinta. Sangat susah. Saya juga tidak berbakat menulis puisi sosial yang menggebrak. Bakat saya rupanya merawat hal-hal yang sederhana, yang remeh. Supaya mendapat makna baru.

N: pak Sapardi, skill itu berguna?

S: amat sangat berguna. Kalau kita percaya puisi itu adalah kesenian, seni kata. Tugas kita adalah untuk mengembangkan skill dalam artian yang sangat dalam. Artinya kemampuan sebaik2ya untuk menciptakan bahasa yang baru. Itu yang saya sampaikan tahun 69 ketika buku ini diterbitkan. Saya ingat sekali di halaman pertama atau kedua kompas, Sapardi ini aneh penyair dipaksa untuk mencintai bahasa. Kalau penyair tidak mencintai bahasa mencintai apa lagi? jadi bagi saya skill itu harus terus menerus ditingkatkan. 

Bahasa itu cepat sekali berkembang. Penyair harus menghadapi semua itu. gimana dia mengolah itu semua tidak jadi cengeng, marah tapi jadi kebahagiaan. Itu memerlukan ketahanan yang luar biasa. Mengembangkan bahasa itu tugas penyair. Tidak ada negara runtuh karena penyair. Nggak ada korupsi habis karena penyair. Kalau ada jasa penyair karena dia menciptakan bahasa yang baru. Tidak ada lagi. 

Yang dituntut dari penyair adalah bagaimana dia menciptakan bahasa baru yang segara dan setiap harinya disampaikan itu berantakan jadi klise. Dalam puisi kata itu harus ditata ulang, ditambah lagi semakin lama semakin modern. Puisi chairil anwar dibanding kemenakan saya ini sama sekali berbeda. Nggak mugkin chairil anwar nulis ada burung dalam celana. Dengan demikian penyair itu ditulis dengan bahasa yang hidup. Bukan bahasa buku. Itu kembali ke jaman dulu. Beredarnya sangat cepat tidak hanya di masyarakat, tapi di internetitu menantang anda memasak itu semua. Itu yang dihadapi oleh penyair2 muda sekarang.nah sekarang kesempatan ini besar sekali. Tantangannya juga besar.

J: apa yang dikatakan pak Sapardi apa yang saya lakukan.

N:
Ada penyair yang masyur karena hujan,
ada penyair kondang karena jemuran.
Hujan dan tiang jemuran sama-sama penting.
Keduanya bertaut dengan urusan yang lumayan intim.
Jika hujan membasahkan maka jemuran mengeringkan.
Tak ada yang lebih arif dari tiang jemuran
dibiarkannya celana sendiri dan kesepian.

“Apa yang kamu lakukan ke saya itu jahat,” kata celana kepada jemuran
“Aku hanya ingin mengeringkanmu dengan sederhana,” balas jemuran kepada celana.

Celana dan jemuran kemudian tertawa sampai perut bergetar
sambil melihat mas penyair cuap-cuap dengan bapak penyiar.

“Mereka tadi bicara tentang apa,” tanya celana.
“Sepertinya tentang kesusastraan,” jawab jemuran.

Celana berkata betapa mulianya mereka berdua.
Tapi jemuran mencibir
apa pentingnya hari gini membaca syair.

Keduanya diam beberapa saat.
Seperti manusia yang mendadak ingat urusan tenggat.
Kemudian hembusan angin dari utara Jakarta,
mengabarkan kejadian-kejadian yang luar biasa.

Jemuran tiba-tiba bertanya, “lebih mendesak mana urusan reklamasi atau bicara soal puisi?”

Celana terdiam dalam senyap yang liat berbagai tanya tiba-tiba mendekat.
Sambil berjalan ke kamar mandi, jemuran nyeletuk soal hakikat puisi yang bisa bicara tentang hujan di bulan Juni hingga hidup buruh di tanggal 1 Mei

Sebab puisi dapat menampung segala sesuatu.
Dari yang syahdu dan sarat sendu,
tentang persoalan yang dianggap perlu
sambil meninju diktator berkepala batu.

Celana dan jemuran kembali riang dan gembira
lalu pergi bersama ke pasar santa
untuk memborong buku-buku sastra. 





---

revisi: 
* Tadinya tertulis Salimto Yuliman, tapi ternyata yang benar adalah Sanento Yuliman. (info dari Ahadi Bintang M Said) 
* bahasa Jawa yang diucap Jokpin  yang Artinya menyimpang dari jalan yang lazim adalah ngiwa. Tadinya saya tidak menuliskannya. (info dari Kurniadi Widodo)
*sebelumnya saya menulis Dihartoko, tapi ternyata yang benar adalah Dick Hartoko (info dari Robertus Roni Setiawan) 
*sebelumnya saya tak lengkap menuliskan judul puisi Rendra, ternyata judulnya adalah Balada Orang-orang yang Tercinta (info dari Robertus Roni Setiawan) 
*sebelumnya saya menulis Satre, tapi yang benar adalah Sartre (info dari Deasy Elsara)  
* sebelumnya saya  menulis Jehan, tapi nama yang benar adalah Jeihan (info dari Tampan Destyawan) 

7 comments:

Ahadi Bintang M said...

Kritikus seni yang dimaksud Pak Sapardi waktu di TIM itu (alm) Sanento Yuliman. Bukan Salimto Yuliman

baghendra said...

terimakasih kakak rizki

Robertus Rony Setiawan said...

Dihartoko --> Dick Hartoko.
Salimto Yuliman --> Sanento Yuliman.
Balada orang-orang ter---- --> Balada orang-orang tercinta

Puisi di akhir tulisanmu yang dibaca Najwa itu karyanya siapa? Lucu.

Iman Suligi said...

terimakasih untuk ketelatenannya mencatat, sedikit koreksi. Itu namanya SANENTO YULIMAN (y ATAU j lupa).

Steven S said...

Trims infonya.

eyi puspita said...

Terima kasih banyak atas transkripnya. Saya menyesal karena telat tahu info acara ini. Tapi terobati setelah membaca transkripnya :)

Endah SR said...

Romo YB Mangun Wijaya, bukan romo yudi atau yadi-kah tadi? hihihi :)

Post a Comment