Wednesday, May 25

Rabu Rasa Jumat


Sungguh suasana hari ini mirip sekali Jumat. Padahal sekarang Rabu. Alasannya, deadline maju! Jadi, mulai minggu ini hingga sebulan kedepan, kami akan mengerjakan dua edisi sekaligus. Senggaknya, masing-masing edisi mesti beres digarap dalam tiga hari. Dalam semingguada sisa satu hari yang bisa benar-benar dikosongkan untuk dianggap libur, sih. Lumayan(?)

Jadwal baru ini seharusnya nggak bikin saya shock, andaikan saja saya lagi nggak sepayah ini. Kepayahan ini paling kentara ketika saya mengerjakan artikel feature. Nggak pernah bisa selesai di hari ketiga keempat. Mesti di hari kelima. Di luar alasan sumbangan tulisan yang suka macet,  otak saya juga sering mampet. Di tengah keinginan bisa menulis dengan story telling yang asik, diselipin kalimat kreatif dan sesekali mengeluarkan guyonan santai, saya malah malas memikirkannya ide dan konsep tulisan sejak jauh hari, baru di hari tulisan harus selesai semua itu dimampatkan di pikiran saja. Berjejal.

Kemarin, saya membaca-baca ulang artikel feature yang saya tulis. Hasilnya, duh! Malu sendiri. Pengen bisa buka jendela terus terjun dari lantai 6 (nggak usah takut saya kenapa-kenapa, saya Spiderman). Saya menemukan beberapa logika kalimat yang ngawur, ada bahasan di beda kalimat atau paragraf yang nggak terjembatani dengan baik; kadang merasa tulisan saya itu salah sasaran: garing banget; kadang nemu ada data yang kurang kuat, ada juga penempatan koma yang malah bikin tulisan saya terasa trying to hard untuk banyak menggunakan tanda baca, padahal nggak perlu-perlu amat.  Dan soal judul, sesusah-susahnya bikin judul, lebih susah lagi melupakan judul yang kurang cihuy tapi terpaksa dipakai. Haha!

Celakanya, saya malah mencari pemakluman untuk menyelimuti kesalahan saya itu. Saya jadi bertanya, kemampatan pikiran saya dalam menulis kreatif itu kayaknya disebabkan karena kuota kerja yang aduhai ini deh. Gimana nggak, saat kerjaan rutin mingguan belum juga rampung, sudah disela oleh kerjaan-kerjaan selewat dari pak bos.  Di pekerjaan ini, fokus adalah barang pecah belah yang kalau terlalu sering didistrak oleh “notifikasi” dari sana-sini, bisa lepas dari tangan dan “pyaar”. Pecah! 

Hasilnya, gejala ini sering sekali terjadi: ketika sedang memiliki lima pekerjaan, saya malah mulai menyelesaikan pekerjaan yang keenam. Runyam. 

Okein aja dulu.

Saking derasnya perintah kerja di sela-sela kerjaan rutin, terasa sekali kalau saya dan teman-teman kerap pura-pura bisa menyanggupinya dulu. Tiap kali perintah datang, saya, misalnya, sering banget tuh akhirnya cuma bisa mendengarkan, lalu manggut-manggut sambil mengeluarkan tanggapan-tanggapan default. “Oh gitu?! Sip sip.”, “Oke, mas.”,  “Ohh. Siaap!.”  Haha. Kalau diinget-inget geli juga. :D

Saat menjawab, ya tentu nggak kepikiran gimana beratnya kerjaan itu nanti. Yang penting okein dulu, biar kerjaan yang ada di depan mata bisa balik dilanjut lagi.

Kok lo nggak nanggepin sih, atau malah protes?

Alasan utama sih, karena saya yakin kalau pak bos saya itu ya ngalamin kondisi yang nggak jauh beda sama kami. Pikiran mereka juga seramai pasar, atasan mereka juga mungkin sering impulsif mengintervensi. Dan faktanay, sering juga tuh perintah-perintah dadakan itu menguap begitu saja. Hehe. 

Di luar itu, kami beberapa kali protes kok kalau ada intervensi kayak gitu.

Suasana hari ini mirip sekali dengan Jumat. Saya sudah selesai dengan tugas-tugas saya untuk edisi ini, tapi belum bisa pulang karena masih menunggu para desainer melayout artikel saya. Sambil menunggu, saya menulis blog, sebuah kebiasaan yang belakangan saya sering saya lakukan pada Jumat.

Jadi, lo sibuk banget nih, ki? 

Nggak dong, sibuk hanya milik orang-orang yang busy. Walau seminggu ini akan ada dua tenggat, tapi saya tetap nggak sesibuk itu untungnya. Tadi pagi, sebelum ngantor masih bisa nonton film di rumah. Dua hari kemarin, sebelum sampe rumah masih bisa mampir nyemil malam, Menukar penat dengan kehangatan jahe, indomie, atau es campur. Mari bersyukur. 

Oke, curhat selesai. 

Kayaknya seru nih menutup tulisan dengan pantun. Gini: 

Satu minggu dua Jumat 
Mengejar tenggat kok gini amat! 

Jangan digugu, saya nggak hebat. 
Jangan ditunggu nanti nggak kuat. 


#lho

No comments:

Post a Comment