Friday, May 13

Menulis Bebas


Dari sebuah buku yang judulnya lebih baik saya rahasiakan, saya membaca bahwa free writing itu bisa bermanfaat untuk kita reverie, alias melamun, alias meladeni pikiran kita sendiri. Ya, kadang, meladeni pikiran kita sendiri itu perlu kan? Daripada memikirkan pikiran orang lain melulu, apalagi memikirkan pikiran orang lain tentang pikiran kita. Ruwet jadinya!

Karena itulah saya sekarang, di posting yang tersayang ini, ingin mencoba melakukannya. Menulis tanpa berpura-pura, menulis benar-benar apa yang muncul di kepala.

Nah, lho. Apa saja tuh yang ada di kepala?!

Sekarang ini musik Barefood yang judulnya Deep and Crush lagi memutar, asalnya dari Youtube. Iya, saya doyan dengerin musik dari Youtube. Soalnya, dari satu lagu, kita bisa diantarkan ke lagu baru lainnya sesuai rekomendasi dari Youtube. Dari situ, suka nemu lagu-lagu baru yang seru. Tapi, sekalinya nemu lagu yang seru, saya suka banget mengulang-ulang. Nah, seminggu ini saya lagi suka banget mengulang-ulang lagu Barefood, yang judulnya Truth. Mau denger? Cari sendiri aja di Youtube. Eh, tapi, cari  berdua juga boleh kok.

Ngomong-ngomong soal mengulang-ulang suatu hal, saya jadi ingat bahasan tentang penggolongan kepribadian, katanya saya adalah INFP, salah satu cirinya adalah sangat memedulikan gimana bedanya rasa ketimbang bedanya pengalaman. Mirip sih, saya emang doyan mengulang-ulang sesuatu. Walaupun pengalamannya sama, pasti rasanya beda.  Contohnya, saya suka dateng ke tempat yang sama berkali-kali. Hasilnya, saya jadi punya tempat favorit. Salah satunya adalah bangku penonton lapangan sepak bola di GOR Sumantri, Kuningan. Ngobrol tentang ini-itu sambil ngeliatin orang joging, atau main bola tuh bukan main relaxing-nya. Pun, orang-orang yang ada di sana nggak peduli apakah seluruh yang ada di bangku penonton itu benar-benar menyaksikan pertandingan atau memang punya hajatnya sendiri, termasuk hajat untuk bengong, ngomongin hal-hal yang mungkin kalau lampu sorot bisa denger pun dia bakal kebingungan, atau ya hajat untuk sekedar ngamatin aja siapa-siapa aja yang joging: mereka pakai baju apa, gimana kecepatan lari mereka, dan menebak kira-kira apakah tujuan mereka lari? Sekedar untuk membuat sepatu lari yang dibelinya dengan harga lebih dari Rp 700 ribu itu jadi bener-bener berguna? Atau memang pengin lari atas nama kebugaran.


Saya juga pernah ke lapangan bola ini sendiri, sepulang liputan kalau nggak salah. Kebetulan liputan di Epicentrum, dan sebelum pulang mampir dulu ke sini. bengong. Memfoto apa yang ada di depan mata, lalu mengirimkan foto itu ke seorang kawan yang saat itu sedang pergi solo traveling. Saat itu minggu keduanya pergi, kalau tak salah ingat.   “Curang,” balasnya. Dia lupa, dia lebih curang. Dia pergi tanpa  mau memberi tahu siapapun ke tempat mana saja ia pergi.

Barang kali tiap individu memang punya haknya untuk menghilang dari realitas yang hampir selalu pasti ia temui tiap hari, menjalani realitasnya yang baru sama sekali. Tiap orang punya haknya untuk sendiri. pun, tiap orang perlu mempunyai kemampuan untuk sendiri. ini penting, soalnya, sekarang ini kita selalu menegasikan kesendirian. Dari buku yang lebih baik saya tidak sebutkan judulnya itu pun disebutkan kalau masyarakat kita ini emang selalu menganggap mereka yang suka asik sendiiri itu, “sad, mad, or bad”.  Hal ini sangat aneh. Kok bisa, di era di mana kita mengembor-gemborkan semangat untuk percaya diri, dan menjadi diri sendiri, tapi kita masih heran sama orang-orang yang suka asik sendiri, sama orang-orang yang memilih untuk menjadi pribadi yang khas, yang eksentrik.

Udah gitu, di era “aku pacaran maka aku ada” ini, orang yang memilih untuk hidup tunggal tanpa pasangan itu perlu dikasihani. Udah gitu (lagi), di era ketika kreatifitas dan daya cipta itu dijunjung tinggi sekali, tetapi kita masih saja suka menganjurkan untuk menjauhi keadaan yang sebenernya dibutuhkan untuk menghasilkan ide kreatif: kesunyian (solitude). 

Kalian boleh percaya, boleh juga tidak. Boleh setuju, boleh juga tidak setuju. Boleh pesan roti bakar lalu panjang mendebat, atau siapin uang parkir, ambil jaket, masukin hape ke kantong dan kendarai motor kalian pergi dari sini. Terserah.

Terserah… terserah… terserah… Kipas angin pun akan tetap berputar kalau kalian pergi. Asalkan kabelnya kalian cabut dari colokan. Komputer di depan mata saya ini juga akan tetap menyala asalkan kalian tidak dengan cepat menekan tombol CTRL + ALT + DEL sekaligus, terus menekan tuts “U” sebagai jalan pintas untuk langsung meng-SHUT DOWN komputer ini. Saya yakin, kalian tidak sejahat itu.


Kalian tak boleh sejahat itu. sejahat Rangga yang meninggalkan Cinta yang kemudian tiba-tiba muncul kembali, lalu membuat Cinta menjadi jahat sama Trian, tunangannya. Sungguh rumit, menyelesaikan kejahatan dengan kejahatan! Dan pagi tadi saya mendapatkan info tentang angka penonton film AADC? 2 ini. Tercengang! Gawat, sudah ada 3 juta orang yang belajar cara-cara jahat untuk meninggalkan orang. Dan sudah ada tiga juta orang yang jadi tahu gimana mudahnya meninggalkan kekasih mereka demi mengejar mantan legendarisnya. Hati-hati dengan hati, gaes!

Sekarang pukul 21:25, lagu Jingga yang Tentang Aku baru saja selesai mengalir dari headset ke kuping, berganti lagu Bernyanyi Menunggu yang dimainkan Rumah Sakit

Saya masih di kantor yang namanya terdiri dari tiga huruf. Saya lagi dapet giliran piket jadi proofreader atau disebut satgas kalau di sini. Kenapa satgas, bisa jadi karena tugasnya adalah menjaga (baca: memastikan) kalau artikel yang sedang di layout terus lanjut difinalisiasi oleh para desainer benar sebenar-benarnya. Nggak ada saltik alias salah ketik, nggak ada logika kalimat yang ngaco, nggak ada salah judul, nggak ada salah foto, nggak ada salah nama. Tiap minggu ada dua petugas satgas. Tapi sudah dijaga dua orang pun masih aja suka salah, lho. Pernah, nama Tatjana Saphira tertulisnya Tatjana Spahira. Pernah juga di artikel profil kami salah memuat foto. Seharusnya foto si A, eh malah foto si  B yang ditampilkan.

Ah.. kok jadi ngomongin kerjaa. Tapi tak apalah, sekalian aja dituliskan. Minggu-minggu belakangan ini saya agak kerepotan membagi peran. Harusnya fokus memerankan diri sebagai seorang pekerja kantoran sebaik-baiknya: sudah merampungkan artikel sejak awal minggu, sudah menghubungi narasumber sejak minggu sebelumnya, dan sudah selesai menulis artikel sebelum tenggat. Tapi, gimana dong, saya ingin juga menjadi diri saya sendiri seutuh-utuhnya. Saya pengin ngerjain ini-itu yang tiba-tiba muncul di kepala dan itu sama sekali nggak ada hubungannya sama kantor, bahkan nggak ada urusannya sama sekali sama penghasilan. Keisengan yang rewel sekali minta diseriusi

Oke. Cukup. 


Saya ingin menutup tulisan ini dengan kalimat-kalimat berima. Semoga bisa. Begini, sudah hampir seribu kata tumpah belepotan di atas kertas maya. Masih banyak ini dan itu yang berkeliaran di kepala. Tapi, tak apalah, mereka-mereka itu adalah kawan saya. Sementara kamu, dimana? masih perlu saya sapa, atau mau juga diajak duduk di bangku lapangan bola?

No comments:

Post a Comment