Monday, May 23

Ada Bayi di Rumah (2)


Tapi kali ini si bayi sudah beda rumah dengan saya. Ia ikut ibu dan bapaknya pindah ke rumah baru. Rumah saya kini menjadi kampung halaman, yang hanya ia akan dikunjungi satu-dua minggu sekali. 

"Ini udah hari ke-20 tinggal di sini. Nggak terasa yah," kata ibunya, kakak saya. Ia mencatat baik tanggal ternyata. 

Pun, si bayi ini sudah bukan bayi lagi. Usianya sudah satu tahun setengah. Udah lihai berjalan, udah bisa makan banyak cemilan (terutama kerupuk, tahu, buah, biskuit, dan coki-coki),  udah bisa nunjuk-nunjukin arah ketika lagi digendong, udah bisa selalu milih Yakult yang ada di kulkas berkaca kalau diajak ke warung depan rumah, udah bisa salam cium tangan, udah bisa diminta kecup dengan bilang,"sun dulu dong", udah bisa membedakan orang berdasarkan namanya, udah bisa joged-joged kalau disetel lagu anak, dan udah bisa minta nyalain laptop kalau lagi pengen nonton Youtube. Dan yang paling penting, sekarang ini parasnya berubah, apalagi setelah potong rambut, jadi nggak keliatan kayak bayi. Dia udah termasuk golongan balita dewasa kayaknya. Haha.

lagi asik nonton video musik anak di Youtube

Siang tadi adalah kali pertama saya main ke rumah barunya itu.  Nggak jauh dari rumah sih sebenernya. Cuma butuh 40 menit paling lama. Tapi tetap saja, dia dan saya nggak ada di rumah yang sama. Saya, mamah, papah, dan adik udah nggak bisa melihat dan merasakan kehadirannya tiap saat. Paling-paling cuma dari update grup WhatsApp keluarga. Kakak cukup rajin memberitakan kegiatan anaknya. 

"Nih, lihat. Si Akang punya temen baru," kata kakak suatu hari. Setelahnya ia mengirim foto si akang lagi melakukan sesuatu dengan seorang anak cowok lainnya. Anak tetangga sepertinya. 

Itu kabar baik! Dia punya teman. Di perumahan kakak yang cluster itu, memang banyak orang tua muda. Jadi, si akang punya beberapa teman sepantaran. "Makin lucu. Kalau siang bobo, kalau sore main dia," kata kakak lagi. Saat masih tinggal di rumah saya, jam tidurnya adalah pukul 8-10 pagi. Jam mainnya berubah.



"Akang lagi mandorin kerja bakti nih," kali ini kakak ipar saya nyahut di grup. Setelahnya ada foto akang lagi berdiri di depan sekumpulan ibu-ibu yang memegang sapu dan perkakas 


O ya, Akang adalah nama panggilan si bayi ini. Panggilan untuk kakak laki-laki dalam bahasa Sunda. Oke, karena udah dikenalin, maka selanjutnya si bayi saya sebut si Akang aja yah. 

Awalnya, saya ragu kalau si Akang akan betah di rumah barunya. Takut kesepian. Kalau di rumah saya kan, pagi bisa main sama neneknya, siang kalau bosen bisa minta digendong kakeknya. Sore hingga malam bisa diajak becanda lagi oleh om dan tantenya. Tapi ternyata di rumah barunya, ia lebih seru berkembangnya. 

Bagaimana pun, kejadian ini bikin nggak enak kami yang di rumah. Bikin kangen mulu. Mamah dan papah suka memanggil-manggil nama Akang tiap pagi sebagaimana biasa. Tiap malam juga, "manah nih si Akang. Malam ini tidur di kamar Enin yah," kata Mamah tidak kepada siapa-siapa. Biasanya mamah selalu ngajak main Akang sepulang kerja. Adik saya nggak kalah, dia sering banget minta dikirimin foto si Akang di grup WA. 

Rumah jadi berasa sepinya. Kalau seharusnya dihuni oleh 8 orang, kini hanya sisa 4. Selain kakak, kakak ipar dan si akang, yang nggak di rumah lagi adalah adik bungsu saya. Ia kuliah di luar kota. 



Betapa oh betapa, yah. Anak kecil bisa bikin keluarga jadi "besar"...


 :D 

--

Cerita Ada Bayi Di Rumah sebelumnya bisa di baca di link ini <- font="" klik="">





2 comments:

Sundea said...

Sentimentil tapi lucu. Co cwit, Kiw, cara ceritanya, dan endingnya gong banget :)

Btw, iya, yah, ponakan lo udah gede aja. Padahal nikahan kakak lo kayaknya barusan aja dan gue masih dateng...

terlalurisky said...

Iya, De. baru nggak ketemu satu minggu aja udah keliatan banget bedanya. Lagi gencar-gencarnya tumbuh kayaknya.

Bentar lagi bisa diajak camping nih. haha.

Post a Comment