Monday, November 30

BersaTOE Kita Luruh


“Gue dateng ke sini cuma untuk TOE,” ujar seorang pengunjung.

“Iya, kita juga nih,” dua teman yang ia temui tanpa sengaja, menyahuti.

Para penggemar musik instrumental TOE di Jakarta mendapat kesempatan kedua untuk bisa menyaksikan idolanya perform langsung. Di Monkeylada Festival yang dihelat di Krida Loka Park, Senayan pada Sabtu (28/11) kemarin, TOE jadi salah satu penampil andalan.

Berbeda dengan konser di Jakarta pertamanya pada 2012, di Monkeylada Fest. TOE mesti berbagi atensi pengunjung dengan 23 pengisi line up lainnya. Namun, bagi para penggemar band asal Jepang ini, goyang ngawang berjamaaah diimami TOE tetap jadi menu utama festival ini.

TOE tampil tepat waktu. Pukul 20.30, Mino Takaaki (gitar), Kashikura Takashi (drum),  Yamane Satoshi (bass), dan Yamazaki Hirokazu (gitar) sudah menempati posisinya masing-masing di Promise Land stage, satu dari tiga panggung penyuguh musik di festival itu.

Nggak menyapa dengan perkataan, TOE justru tampil komunikatif  dengan petikan gitar akustik dengan melodi-melodi sederhana dan cenderung monoton, yang diiringi latar bebunyian musik elektronik. Premonition (Beginning Of A Desert Of Human), singel album terbaru mereka, dimainkan disambung dengan tiga lagu “dingin” lainnya. Sebagai pemanasan.

TOE ingin mengajak pemirsanya memuncak sejak awal. Bahkan, Goodbye, lagu TOE yang paling anthemic—karena memuat lirik berbahasa dominan Inggris yang asik untuk dinyanyikan—dimainkan di giliran keempat, bukan sebagai encore sebagaimana banyak diduga.

“There is no one can understand me truly. I don't go out, I will keep silence (…)”


Lagu tentang pengasingan diri itu membuat penonton makin menyatu, kompak ikut bernyanyi. Ponsel dan kamera yang sebelumnya dikeluarkan banyak penonton untuk merekam dan ber-selfie ria mulai ditaruh lagi, tanda kalau mereka sepakat untuk khusyuk menikmati musik.

Musik math-rock ala TOE banyak digemari karena emosional. Petikan gitar yang sederhana namun diulang-ulang disahuti gebukan drum yang bergemuruh.Di tengah-tengah lagu, petikan gitar tadi hilang, diganti chord yang digeber kencang. Selama di panggung, para personel seperti asik dengan dirinya sendiri, menikmati musik yang mereka mainkan sendiri. Mereka menggeleng-gelengkan kepala, memejamkan mata, berteriak tanpa suara dan sesekali melompat. Kalau sudah disuguhi pertunjukan emosional sederas itu, mana mungkin penonton nggak ikut hanyut

Kurang lebih satu jam TOE pentas.  Beberapa nomor lainnya yang dibawakan adalah After Image, Run For Work, Song Silly dan I Dance Alone. Total 10 lagu dimainkan TOE sebelum akhirnya mereka menjeda penampilan, membiarkan penonton berteriak memanggil mereka kembali, lalu menutup konser dengan satu lagu terakhir.

Keempat personel TOE tampil sebagaimana biasanya. Bercelana jins, berkaos polos, dan sneakers. Begitu pula dengan Yamazaki Hirokazu, memakai pelindung lutut sebagaimana ciri khasnya. TOE malam itu memang tak semaksimal TOE pada 2012 di halaman Gedung Arsip Jakarta. Beberapa penonton bahkan mendapati kalau ada yang janggal dari tata suara panggung. Tapi bolehlah itu dikesempingkan dan kita tetap mensyukuri hajatan malam Minggu itu. Toh, konser kemarin terasa akrab (bahkan walau TOE jarang menyapa) dan TOE tetap total beraksi di atas panggung. Untuk hal itu, penggemar TOE mesti berterima kasih atas tak begitu ramainya festival, mereka tak perlu repot berdesak-desakan untuk bisa berdiri tak jauh dari panggung.

Menyaksikan antusiasme massa terhadap musik TOE, semoga promotor konser lainnya jadi tertarik untuk mendatangkan band-band post-rock/math-rock asal Jepang lainnya. Sekalian dibuat festival musik post-rock  pun, kenapa nggak. Daripada mesti dipadupadakan dengan musisi-musisi lain yang terlalu jauh berbeda warna musiknya, ya kan?!

No comments:

Post a Comment