Sunday, October 18

Perokok yang Mati Dibakar Es


Sejak kecil, Es menelan bibit api. Satu-dua kali dalam seminggu. Tanpa sengaja: bibit api terselip di bubur yang menjadi sarapan, makan siang, atau makan malam Es.

 Ia tak memuntahkannya, panasnya saru dengan hangat bubur yang ia emut.

 Merah darah yang sewarna dengan bibit api menjadi pupuk yang baik untuk merawatnya tumbuh, di dalam dekaman tubuh, bibit api hidup.

 Es adalah si dingin. Sebagaimana siapapun tahu. Seringnya, ia menyejukkan. Ia pohon rindang  di siang menjelang sore yang digemari siapa pun yang sedang jatuh cinta untuk berteduh. Atau bercumbu. Sesekali, ia bikin menggigil. Kata-katanya menyengat. Siapa pun, entah yang berjaket atau yang bertelanjang bisa tertusuk dinginnya. Beku parsial. Sekali sentuh, bagian tubuh beku itu bisa patah.

 Tak ada sesiapapun yang tahu kalau Es memelihara bibit api, hingga akhirnya seorang  perokok lusuh, ingusan, nan bau, menyembur bara setelah asap rokok ia telan, dan busa filter-nya ia kunya. Dengan penuh kesengajaan tentu. Biasanya ia sembur ke arah asal. Serampangan, persis seperti hidupnya. Tapi, ketika Es datang--barangkali karena ia terganggu dengan dinginnya--semburannya diarahkan pada Es.

 Satu-dua bara masih tak apa. Sekepul asap masih bisa dihadang, pikir Es. Namun yang si Perokok lakukan kian brutal. Ia memaksa Es menelan asap, dan menjetikkan rokoknya di tangan Es.

 Udara pun  menjadi bensin. Menyulut bibit api berkobar meminta keluar. Ia ingin menendang si perokok. Membenturkan kepalanya ke ujung meja, menarik kursinya lalu membanting ke badannya, mengambil patung budha di mejanya lalu menusukkannya ke mulutnya.

 "Selamat merokok!" kata bibit api dalam tubuh Es kelak, sambil menjilat si perokok. Membakarnya.

 Bara api terpercik lagi, kali itu tak menyisakan abu dan bau tembakau, melainkan bau daging terbakar.

No comments:

Post a Comment