Tuesday, September 15

Nikahan Nyoe-Decky


Saat itu adalah November 2014. Senggaknya ada dua perubahan pada Decky yang saya tangkap. Pertama, Decky jadi rajin solat. Jika biasanya ia selalu bersepatu, saat itu Decky jadi sering bersendal. Agar mudah wudhu jika waktu solat tiba ternyata. Tiap kali Mada, yang lebih dulu jadi rajin solat, turun ke mushola, Decky kerap minta ditunggu. Agar bisa berjamaah

Kedua, Decky yang (sangat) hobi browsing dan menonton film, terutama setelah jam kantor usai--pukul 18.00--jadi sering pulang tenggo. Pokoknya, nggak sampai pukul tujuh, kami sudah mendapat pamit dari Decky. Lepas dari kebiasaan sebelumnya Decky bisa mantengin komputernya sampai batas maksimal waktu ngantor, 21:00. 

Tak lama setelah itu, di kantin sebuah SMA, saat kami berdua turut membantu event kantor, Decky bercerita. "Sabtu ini gue lamaran, Ram," 

Pantes, pikir saya tegas.

Tanpa saya banyak tanya, Decky menghamburkan ceritanya. Dia dan Ayu alias Nyoe sudah pacaran lima tahun. Sejak mereka kuliah di Unpad. Nyoe yang anak tunggal, Decky bontot dari tiga bersaudara. "Apa lagi yang ditunggu gitu. Nikah aja,"kata Decky

Oke, saya akan bertanggung jawab mengapa saya mengaitkan dua perubahan Decky tadi dengan rencananya menikah. Yang saya tahu, menikah itu butuh kesiapan mental dan material. Sementara pulang cepat--yang bisa kita anggap sebagai usaha Decky untuk bertemu Nyoe--adalah usaha menyiapkan segala urusan material, maka rajin solat adalah usaha Decky untuk menguatkan mentalnya. Tiga-lima menit solat adalah momen spiritual: sebuah arena untuk menghimpun restu, memantapkan tekad, barangkali.

Hingga pada Minggu pertama milik Mei 2015, enam bulan sejak prosesi lamaran, di sebuah masjid bilangan Dago, pernikahan dihelat. Saya beserta rombongan Provoke! menyengajakan diri bertandang ke Bandung dari Jakarta demi bisa ikut merayakan pernikahan mereka.

Kami sudah menebak bahwa pesta pernikahan Decky-Nyoe ini akan menarik. Walau Decky tak banyak menceritakan proses perencanaan dan persiapannya, tapi sedikit-sedikit terintip juga. Salah satunya dari desain undangannya. Di luar itu, kami mengenal Decky-Nyoe sebagai duo konseptor kreatif. Jadi, ya, pernikahan mereka pasti menarik.

Nyatanya, setelah tiba di lokasi, saya merasa perlu mencoret kata 'menarik' tadi dan menggantinya dengan memukau. Ini adalah pesta pernikahan yang paling manis yang pernah saya kunjungi. Pernak-pernik unik ditebar tertata menjadi hiasan. Benda-benda rumahan jadi pelengkap dekorasi.Tumpukan barang-barang jadul disatukan menjadi photobooth. Pelaminannya dihias dengan potongan jendela-jendela tua. Kursi-kursinya rendah, jauh dari kesan megah sebagaimana biasanya. Ada sensasi merumah, merumput, sekaligus melangit saat itu. Dan siapa sangka di sebuah pesta pernikahan, pengunjungnya disuguhi temu lawak dan kudapan ciki. Bikin senyum-senyum sendiri.

Saya merangkum, "nikahannya Pinterest banget." sementara kawan saya yang juga rekan sekantor Nyoe, Abriany berkata, "ini Nyoe banget."

Dalam dua puluh empat jam pada hari itu, saya nggak tidur. Sejak sampai di Bandung dari Jakarta, saya ikut rombongan nyemplung ke Ciater, subuhnya, saya nemplok ke rombongan lain, main ke Curug Layung. Dari situ, sekitar pukul 10.00, langsung bergegas ke tempatnya Decky. Pulang dari Decky, ikut main lagi ke Dago Pakar lalu lanjut pulang ke Jakarta.

Kunjungan ke Bandung kali itu padat piknik. :)

Ah, iya, Nyoe dan Decky memulai pernikahannya dengan pesta ala piknik. Bisa jadi itu adalah doa, agar di tahun-tahun ke depannya, hidup mereka selalu menjadi sebuah pakansi.

Selamat kawin, kawan.




Salah satu hal yang pernah ditanyakan teman-teman Provoke! kepada Decky adalah tentang bagaimana dengan kakaknya yang ia dahului menikah. Momen ini menjawabnya.

















-tulisan ke-9 30 Hari Bercerita-




* Foto menggunakan kamera Nikon F 90 berfilm Fuji Superia. Kecuali foto terakhir, dengan film Agfa basi. Huek.. 
* Mulai ditulis pada Mei, tapi baru dilanjutin dan diselesaikan sekarang. Haha. 





No comments:

Post a Comment