Wednesday, August 26

Ikut Wisuda atau Nggak, Yah?


Wisuda Universitas Indonesia ternyata cukup merepotkan. Gimana nggak, wisudanya dibagi menjadi dua sesi. Tak apalah kalau dua sesi itu ada di hari yang sama, lah, ini, ada di dua hari yang berbeda. Jadi, kami, para wisudawan dituntut untuk meluangkan waktu dua hari hanya untuk merayakan kelulusan. Bisa saja kami memilih untuk ikut salah satunya, tapi, apa siap rugi?

Sesi pertama adalah gladi resik, dijadwalkan hari ini, Rabu (26/08). Ya, betul hari kerja! Jangan kira ini adalah gladi resik yang sekadar formalitas, yang tak apa jika tak dihadiri. Nyatanya, nama gladi resik ini hanya embel-embel. Sebenarnya, ini adalah wisuda sesi 1. Pasalnya, ada prosesi penting, yaitu pemanggilan tiap wisudawan untuk naik ke panggung dan bersalaman dengan rektor dan yang paling pentingnya, berfoto dengan rektor.

Sesi keduanya adalah sesi upacara yang bisa dihadiri undangan, dijadwalkan pada Sabtu (29/08). Di sesi ini seperti wisuda pada biasanya. Orangtua hadir, upacara, dan pidato dari rektor. Sudah terasa kan gimana membosankannya?

Saya dilema. Apakah mesti saya ikuti kedua sesinya? inginnya sih ikut salah satunya saja. Apalagi di hari ini, Rabu, saya mesti kerja. Bisa aja sih ijin, tapi saya yakin jika ijin maka saya sendiri yang kemudian akan repot karena waktu menunda pekerjaan.

Dateng aja, Ki. Sayang, lho, foto-foto! Nggak pengen banget punya foto sama rektor untuk dipajang?!

Ah, gue nggak obsesi banget kok punya foto lagi wisuda. Waktu kuliah sebelumnya aja foto wisudanya nggak ada satu pun yang dipajang. Gue biarin aja menumpuk di laci.

Temen-temen pada dateng, lho, nanti. Bahkan mereka aja pada bela-belain cuti. Pasti bakal seru. Foto rame-rame!

Nah, iya. Gue nggak mau kelewatan momen sama temen-temennya sih. Tapi, tetep males, ah, kalau orientasinya cuma untuk  foto-foto.

Lagi pula, nih, yah. Kalau gue foto-foto, nanti bakal muncul kecenderungan gue bakal ikutan publis ke media sosial. Gue masih belum nerima  kalau kami, para akademisi semangat banget mempublis foto-foto saat wisuda, tapi malu-malu, bahkan merasa nggak perlu mempublis karya-karya tulis selama kuliah, termasuk tugas akhirnya. Menampilkan citra, menyembunyikan isi. Hmmm

Ah! Sok idealis. Emangnya kalau nggak ikut wisuda pun lu akan mempublis paper hasil kuliah lo? Tapi, kan, bokap nyokap lo pasti suka, ki. Lagian kan lo udah bayar. Masa nggak ikut semua sesinya, sih. Kan rugi?


Berencana! tapi masih belum, aja. Tunggu waktu yang tepat. Haha. Alesan banget yah?!

Iya, sih. Pasti diomelin sih kalau mamah tau gue nggak ikutan foto. Tapi tapi tapi. kan pas hari Sabtu juga bisa foto-foto. Walau cuma foto di depan danau UI. Nggak apa-apa lah. Yah, yah?!

Ya ya ya. Jadi gimana?! 

Balik ke tujuan awal deh. Gue kan ikut wisuda utamanya karena mamah. Biar kami punya momen untuk merayakan anaknya lulus dari kuliah yang ia bayari. Jadi, ikut yang Sabtu aja deh. Hehe

Tetep usahain aja. Kalau siang nanti bisa melipir ke Depok, maka lakukanlah! 


Deal!...... eh, tapi kan gue nanti ada liputan.


*Tepok jidat. Jidat nyamuk. Patahin toga*



-Tulisan ke-6 30 hari bercerita-

No comments:

Post a Comment