Tuesday, June 23

Cerita Tentang Mimpi


Saya sering bermimpi tentu. Tapi bermimpi yang benar-benar berkesan--entah itu karena buruk, menegangkan, indah atau basah--sehingga membuat saya mencatat mimpi tersebut sebangunnya dari tidur, jumlahnya hanya hitungan jari. Yang paling saya ingat, saya pernah bermimpi saya akan mati dalam hitungan jam. Setelah mimpi itu saya bahkan sampai menset diri untuk siap mati.

Nah, belum lama lalu, saya mengalami mimpi yang tak kalah menegangkannya lagi. Terasa sekali itu nyata. Saya lupa kalau saat itu saya bermimpi.

Begini ceritanya:


Mimpi itu muncul setelah sebelum tidur saya membaca cerita pendek karangan Eka Kurniawan, Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi (ini tulisan Eka Kurniawan yang pertama kali saya baca dan saya ketagihan). Cerpen itu ada di buku kumpulan cerpennya yang berjudul sama. 

Kisah dalam cerpen tersebut kira-kira begini: ada seorang perempuan, Maya namanya,  yang patah hati karena ditinggal pergi calon suaminya. Tepat di malam sebelum pernikahan mereka. Calon suaminya itu jatuh cinta pada perempuan lain, yang adalah sahabat Maya. Maya depresi berat. Pernah mencoba bunuh diri bahkan. Ia dibawa ke dokter kejiwaan, lalu berhenti bekerja dan mendekam di rumah berbulan-bulan. Sampai akhirnya tidurnya berbunga mimpi yang sama dalam beberapa malam. 

“Dalam mimpinya, si kekasih tinggal di kota kecil bernama Pangandaran. Setiap sore, lelaki yang akan menjadi kekasihnya sering berlari di sepanjang pantai ditemani seekor anjing kampung.” – (h. 28)

Yakin betul bahwa mimpi tersebut adalah doa yang mewujud, ia mendatangi pantai tempat pria dalam mimpi ia temui: pantai Pangandaran. Namun, setelah berhari-hari di Pangandaran, Maya tak kunjung bertemu lelaki yang ditemani anjing di pantai. 

Hingga ketika Maya mulai patah semangat, ia bertemu seorang nenek yang punya cerita mengejutkan. Si nenek punya cucu, pria, yang tengah pergi ke Jakarta demi mencari gadis yang ia temui dalam mimpinya. Tak jauh beda dengan Maya, cucu si Nenek pun baru mengalami patah hati yang hebat. Singkatnya, mereka keselisipan, saling mencari. 

Nah, kalau cerpen itu berakhir menyenangkan, beda lagi dengan cerita dalam mimpi saya. Ceritanya begini: ada lelaki, sebut saja si S, yang diberi kesempatan untuk bertemu dengan seorang perempuan, sebut saja A, yang S percaya bahwa ia adalah cinta yang S cari. A dan S akan menjadi sepasang kekasih. 

S girang bukan main. Hingga akhirnya S menemukan fakta mengejutkan. Jika Maya dipertemukan oleh nenek pembawa kabar baik, S justru dibenturkan pada kabar buruk. A sudah punya kekasih. Dan tahu kah kamu, lelaki yang menjadi kekasih A adalah kawannya S. Dengan bijak dan tetap manis seperti biasanya, A akhirnya memberi tahu S bahwa ia akan setia pada kekasihnya. Di satu waktu, S merasakan marah sekaligus pasrah. 

Yang bikin ngeri adalah dalam dunia nyata, baik S, A maupun kekasih A benar-benar ada. S dan kekasih A berkawan, S mengenal (dan naksir) A, tapi A tak mengenal lelaki yang jadi kekasihnya itu. 

Mimpi itu terasa nyata sekali, kawan.

Saya ingat cerita seorang kawan. Ay namanya. Dia sering banget kedatangan mimpi buruk di tidurnya. Selain itu firasat buruk juga kerap mampir ke pikirannya. Bukan sedikit firasat itu yang kemudian bikin Ay kaget karena ternyata benar-benar kejadian. Ngerinya, Ay sering kedatangan firasat tentang kematian orang-orang dekatnya juga. Duh! Ngeri juga kalau mimpi satu ini kejadian. 

Saya belum pernah mengalami yang seperti Ay. Kalau diingat, satu-satunya mimpi yang paling berpengaruh pada hidup saya ya mimpi yang saya ceritakan di awal tadi. Setelah mimpi itu, saya jadi bersiap untuk mati. Tak begitu takut. Barangkali karena dalam mimpi itu saya sudah merasakan ketegangannya dan tau apa yang perlu dipersiapkan.

Menutup tulisan ini, saya ingin mengutip ucapan si Nenek dalam cerpen. Barangkali cocok untuk saya ecamkan saat ini guna menangkal keresahan akibat mimpi buruk tadi. 

“Kalian orang-orang tolol yang percaya pada mimpi.” (h. 34)
O ya, saya pernah menceritakan kejadian ini pada si  'pawang' firasat tadi. Ia menanggapi, "Mungkin akan jadi, Pria Patah Hati Dalam Mimpi Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Kenyataan."

Amin!



No comments:

Post a Comment