Sunday, January 25

Menjadi Fotografer Konflik


Terhadap foto-foto konflik: ada yang acuh, ada juga yang pesimis. Di film ini, seorang fotografer konflik mencoba melawan pesimisme itu sambil menghadapi pertempuran hatinya sendiri.

Di tulisan ini saya ingin menceritakan kesan saya atas film A Thousand Times Goodnight. Disutradarai dan ditulis oleh Eric Poppe, diperankan oleh Julliete Binoche. Rilis pada 2013 lalu.

Alkisah, seorang pewarta foto wanita, Rebecca, memiliki renjana terhadap peliputan di daerah konflik. Demi mendapatkan foto yang kuat berkesan ia siap masuk ke area yang sangat berbahaya sekalipun. 

Ketika di Kabul, Afganistan, ia mengikuti prosesi perencanaan hingga peledakan bom bunuh diri oleh seorang warga perempuan setempat. Ia terus memotret hingga akhirnya bom pun diledakkan. Walau sudah menghindar beberapa meter dari si pelaku, kena juga ia imbasnya. Rebecca terluka hingga tak sadarkan diri.

Ia pun dipulangkan ke rumah. Awalnya sambutan keluarga terkesan ramah. Tapi, tak lama ia tahu bahwa anak dan suaminya menyimpan marah.

Siapa pula keluarga yang ingin didera rasa khawatir karena ibunya berlama-lama di daerah konflik penuh bahaya. Bahkan, Steph, anak Rebecca paling tua, sempat menganggap ibunya sudah tewas saking tak ada kabarnya.

Rebecca pun gelisah. Renjana dan idealismenya goyah. Ia memutuskan menutup kariernya sebagai fotografer konflik. Memilih mencoba selalu dekat dengan rumah, menjadi ibu yang baik.

Saya sangat-sangat tersentuh dengan film ini karena, pertama, film ini banyak menyadarkan saya tentang seluk-beluk profesi fotografer konflik. Kedua, film ini mempertontonkan pertempuran hati, krisis diri terkait karier, cinta dan idealisme dengan sangat baik. Setidaknya, ketika menonton saya merasa ditelanjangi, saya seperti melihat diri sendiri. Dan bukankah kita, terutama kita para pemuda di fase quarter life, hampir pasti mengalami masa krisis diri?  #nyaritemen. 

Terakhir, film ini mempertemukan saya dengan Julliete Binoche, aktris kawakan asal Perancis. Pesona ibu satu ini menyerap ke sanubari. Sejak menonton film ini saya jadi pendambanya. Nanti saya ceritakan alasannya.

Melawan Pesimisme Atas Foto Konflik

Pertama, soal fotografer konflik. Film ini menjawab pesimisme atas kekuatan fotografi dalam membawa perubahan (baca; kesadaran, kepedulian dan atau pergerakan massa). Sebelumnya, saya turut agak nyinyir kepada foto-foto yang mengumbar derita, entah itu dari konflik, bencana alam, atau derita pinggir jalan berkedok foto human interest. 

Foto-foto penderitaan kerap dimanfaatkan media dan para pehobi foto yang menganggap dirinya sepenting media, untuk meraup atensi. "If it bleeds, its leads" begitu kata Susan Sontag, dalam tulisannya Regarding The Pain of The Other, Semakin berdarah-darah, semakin dramatis nan tragis sebuah foto, semakin lakukah media tersebut. 

Dan media diuntungkan dengan massa (baca: kita) yang punya mata penuh nafsu atas derita. Berbalut rasa penasaran dan kehausan menyantap hal-hal sensasional, kita gemar melihat penderitaan dan tragedi. Singkatnya, jurnalisme media menumpang hidup dari citra tragis konflik.

Merujuk Susan Sontag, Nirwan Ahmad Asuka dalam salah satu eseinya juga bilang, tak menutup kemungkinan juga, ketimbang mengobati penderitaan, fotografi malah memantik munculnya penderitaan lanjutan pada subyek terpotret karena proses reproduksi dan distribusi citra foto yang tak bisa ia kontrol. 

Susan Sontag juga menyampaikan lagi rasa pesimisnya, menebar foto-foto penderitaan perang justru memperparah penderitaan subjek yang ada di foto tersebut. Dan sekarang ini, hal itu benar terbukti. Coba saja ingat-ingat, video rekaman orang jatuh dari sepeda jika diunggah ke Youtube, ia akan tersebar, dan bukan nggak mungkin ada stasiun televisi yang menukilnya dengan menambahkan backsound bernama humor. Kesakitan dibuat jadi kesenangan. 

Film ini piawai dalam cerita. Erik Poppe sang penulis sekaligus sutradara tak ingin pesimisme itu meraung. Dihadirkanlah Steph. Tokoh ini seolah sengaja dibuat utamanya untuk menjadi agen pengubah persepsi atas pentingnya foto konflik.



Di balik kemarahannya pada Rebecca, Stephlah yang paling merasakan heroismenya. Apalagi, di sekolahnya Steph sedang mendapatkan tugas The Africa Project. Semacam proyek pendalaman budaya dan keadaan sosial masyarakat Afrika. Foto jepretan Rebecca pernah dijadikan materi oleh gurunya.

Steph pun menjadi gerbang Rebecca mulai menjelaskan tentang betapa tragisnya konflik yang terjadi di belahan lain dunia, yang membuat sesama manusia menderita. Gara-gara antusiasme Steph, renjana Rebecca menemukan kawannya. Setelahnya, baik Rebecca atau Steph kerap mengeluarkan percakapan soal pemaknaannya atas fotografi konflik. Mengkuliahi saya, memberikan pemahaman bandingan dari Susan Sontag

 "Why did you start taking picture of war?" Tanya Steph kepada Rebecca ketika mereka berada di Kenya, Sudan. 

"Anger.  Photography was my salvation. I could express my feeling. It calmed me down" 

"Are you still angry?" 

"Oh yes. But i've learned to live with it. Work with it." 

"What do you mean?" 

"When im in front of this horror, the suffering, i want people putting coffee in the neck when they open newspaper and see and feel and react. That's what i want,"

O ya, sedikit bocoran, Rebecca kembali memotret lagi, mendokumentasikan sebuah program dari UN. Karena mengganggap daerah aman dari konflik, Steph pun diajak serta

Lantas, penyataan kuat disampaikan oleh Steph saat ia mempresentasikan tugas The Africa Project-nya dari kunjungannya ke Kenya: 

"At first I thought it was odd to go to people and take pictures of them. Especially when they were sad. But then I understood. They wanted to. No matter how many pictures we take, it is not enough. Someone should keep to taking more. Thats happen to my mom. 

While we were there, there's fight. Mom got me to safety and so she risked her own life to take this photo. 

I think of the kids that go through this every day. They need her more than I do." 

Film ini menyimpulkan, media memang mungkin melakukan komodifikasi citra fotografis konflik, tapi di level fotografer (yang mumpuni sekelas Rebecca tentunya) memotret konflik adalah pengabdian terhadap kemanusiaan. Prinsip jurnalisme damai begitu kuat dipegang. 

Keberhasilan usaha Rebecca juga ditunjukkan dalam film ini. Fotonya benar-benar bisa menyulut gerakan. Selain dipakai dalam materi di kelas Steph, foto Rebecca dipampang di kantor UN, untuk terus mengingatkan keadaan di daerah konflik itu. Saat di Kenya pun, tentara datang ke daerah konflik setelah foto Rebecca dipublis. 

Duh, saya jadi tertohok. Saya sering memotret. Tapi tak pernah menggunakannya untuk kemanusiaan. Padahal saya sering berdoa agar bisa jadi berguna bagi sesama. Pada suatu titik saat nonton film ini, saya terdorong untuk menjadi wartawan. 

O ya, perlu diketahui juga, bahwa film ini adalah otobiografi dari Erik Poppe. Ia pernah menjadi wartawan perang pada tahun ’80-an, salah satunya perang  Vietnam. Rebecca adalah perwujudan dirinya yang juga pernah kesal dengan dunia yang kerap acuh terhadap konflik. Eric Poppe juga pernah mengalami dilema besar. Memilih tetap bersama kekasihnya atau berangkat meliput ke daerah perang.

Lantas, kenapa tokoh perempuan yang dipilih untuk mewakili ceritanya? 

Menurutnya, pewarta wanita punya akses lebih dalam peliputan di daerah perang. “The female perspective in our story is all about how a woman photographer in particular is better able to portray the totality of war. She is in the same place men are, and is covering the same situations, but in the Muslim world she also had access to areas from which male journalists are excluded," tulis Erik. 

Setelah menonton film ini, saya menonton film dokumenter dari BBC. Judulnya Witness. Berisi dokumentasi para jurnalis ketika meliput ke daerah konflik. Di episode Sudan, wanita jurnalis foto yang ditampilkan. Dia adalah  Veronique de Viguirie. Saya menduga tokoh Rebecca juga terinspirasi darinya. Soalnya, keduanya sama-sama tangguh. Sama-sama pernah meliput di Sudan soal pemberontakan LRA. 

Saya juga menelusuri salah satu foto Sudan yang ditunjukkan Rebecca saat difilm. Dugaan saya salah. Ternyata foto sosok Mari, gadis yang jadi korban penganiayaan LRA, bukan hasil jepretan Veronique, melainkan  Marcus Bleasdale, fotografer perang papan atas juga. Di film, Marcus malah menjadi nama suami Rebecca. 

Barangkali, lewat film ini, Erik Poppe ingin merangkum aspirasi kawan-kawannya sesama fotografer konflik. Untuk mengampanyekan optimisme akan jurnalisme damai.

Krisis Diri dan Pesona Julliete Binoche 

Poin kedua, adalah tentang sajian cerita krisis diri Rebecca. Eric Poppe juga lihai dalam sinematografi. Melihat Rebecca dan dunia yang sedang tak bisa menerimanya itu, saya jadi turut merasakan kegelisahannya, kekalutan pikiran, kesulitan menentukan pilihan, keberantakan mood, kekesalan terhadap keadaan, dan ketidakmampuan untuk memperjuangkan renjananya.

Posisi Rebecca memang pelik. Karier dan pencapaian dirinya bentrok dengan harapan keluarga. Walaupun Rebecca ingin mengubah dunia, tapi ia juga tak ingin kehilangan cinta. 

Dari scene bagian awal film. Ketika Rebecca menemukan suaminya kecewa dan marah pada profesi berbahaya istrinya. Hmm, jadi perlu hati-hati nih sama modus "aku suka kamu karena kamu passionate banget"#eaa

Krisis diri kemudian melahirkan perasaan tidak diterima, perasaan berbeda dari kebanyakan. Situasi pelik! 
Lewat pengambilan gambar, backsound musik yang pelan tapi menyayat, kecakapan acting Julliete Binoche membuat saya jadi mengingat krisis diri yang juga pernah (atau sedang?) saya alami. Secara langsung, saya juga teringat seseorang yang sedang mengalami kekalutan hidup, dilema besar, persis seperti yang dialami Rebecca. Saya (kami) seperti mendapat kawan seperjuangan.

Lagu tema film ini juga sangat saya suka. Sukses merangkum cerita, baik dari lirik maupun musik. Judulnya Daring to Love dinyanyikan oleh Ane Brun. Mari didengarkan:



Nah, bisa jadi karena saya menemukan diri saya dalam Rebecca itulah saya jadi ingin dekat dengan Julliete Binoche. Haha. Muka yang bisa ekspresif bisa juga dingin itu, senyum yang lebarnya itu, hidung mancung menipisnya itu, rambut pendeknya, garis-garis wajah yang merangkum panjangnya perjalanan hidup dan serunya petualangannya itu, serta sosok keibuannya itu. Uhhhh sekali, pemirsa! 

Usai A Thousand Times Goodnight tak menutup pertemuan, saya mengunjungi terus Julliete Binoche ke film-film lainnya: Words and Picture; Clouds of Sils Maria; Elles. Satu kekaguman saya, di film-filmnya ia selalu berperan sebagai seorang yang berprofesi di bidang literatur: di Words and Picture ia menjadi pelukis, di Clouds of Sills ia menjadi aktris, di Elles ia menjadi wartawan. Semakin lah saya merasa (ingin) dekat dengannya. Haha.



***
Tulisan Susan Sontag, Regarding The Pain of Others bisa dibaca versi PDFnya dari Monoskop.org. Saya juga pernah mengutipnya untuk esei Ketika Penderitaan Menjadi Objek Wisata Pehobi Fotografi
Esei Nirwan Ahmad Asuka yang saya kutip adalah yang berjudul Susan Sontag, Citra dan Waktu. Dimuat pada jurnal Kalam.
Cerita Erik Poppe saya baca di situs resmi A Thousand Times Goodnight 



No comments:

Post a Comment