Sunday, January 18

Ada Bayi Di Rumah


Tahun 2014 adalah tahunnya 'rumah sakit' bagi keluarga kami. Di awal tahun mamah sering sekali bolak-balik rumah sakit untuk mengantar nenek berobat. Walaupun nggak sering ikut, tapi cerita mamah membuat saya  merasakan betul suasana rumah sakit. Nenek akhirnya meninggal. Kami semua berkabung. Sejak itu, kami sudah nggak punya lagi nenek maupun kakek. Rumahnya di Serang sana yang kerap kami kunjungi kehilangan jiwa. Ia hanya menjadi bangunan belaka, yang ditumbuhi kenangan di halamannya. 

Lantas, beberapa bulan setelahnya, giliran om saya yang mendekam lama di rumah sakit. Om saya ini punya penyakit kambuhan, cukup sering dia harus dirawat inap. Tapi, yang kemarin itu ternyata menjadi kunjungan ke rumah sakitnya yang terakhir. Om saya itu tutup usia Oktober kemarin. 

Paduan antara 'rumah' + 'sakit' selalu menghasilkan 'kematian' saat itu. Di rumah pun, sering sekali kami kedatangan kucing sakit yang kemudian mati. Saya yang selalu menguburnya.Pernah tiba-tiba di dekat pagar rumah ada mayat kucing dewasa, ia seperti dibuang oleh seseorang. Soalnya, tak lama sebelumnya saya melewati pagar tak ada apa-apa. Pernah juga ada anak kucing yang tiba-tiba datang ke rumah, kakinya luka parah. Tulangnya terlihat. Saya mencoba merawatnya. Tapi tak lama, ia meninggal juga. Yang terakhir adalah anak dari kucing rumah. Ia sakit, lalu sekarat. Nggak bisa bergerak selama empat hari. Saya coba rawat, bahkan sampai dibawa ke dokter. Tapi, di hari ketiga perawatan ia mati. Saya menggali kubur lagi.

Hingga akhirnya, semesta ini membuktikan, bahwa paduan 'rumah' dan 'sakit' bisa juga membuat kami bersuka. Lepas dari duka. November lalu, kakak saya dirawat inap di rumah sakit. Bukan karena penyakit tapi, melainkan karena ia melahirkan. Kami semua berkunjung lagi ke rumah sakit, kali ini bukan untuk menjemput jenazah, tapi untuk menjemput anugerah.


Kakak saya akhirnya punya anak. Mamah akhirnya punya cucu, dan saya akhirnya punya keponakan. Rasyafat Abinaya namanya, ia lahir pada 7 November, lima hari setelah Fertina ulang tahun, mereka sama-sama berzodiak skorpio. Ah, andai saja tanggal lahir mereka sama, pasti jadi seru. Keponakan saya itu nanti akan merayakan ulangtahun bareng tante iparnya. :p 

Mamah senang memanggilnya Deboy, asalnya dari De' Bay, kependekan dari Dek Bayi. Haha. Tiap pagi mamah selalu memanggilnya, "Deboooy. Mana nih si Deboy, kok belum turun." Tak lama setelahnya biasanya si kakak akan turun membawa si Deboy. Pagi-pagi jam enam adalah waktunya ia mandi dilanjut berjemur. Demi ritual itu, mamah sering merelakan jam berangkat ngantornya telat.

Kini, si bayi udah jalan tiga bulan, kami nggak boleh lagi memanggilnya Dedek atau Deboy lagi. Gantinya, kami memanggilnya Kakak. Biar terbiasa dituakan mungkin. Kadang saya tetap maksa memanggilnya Kabay, alias Kakak bayi. Kadang juga diplesetin jadi Kabayan. Haha. Entah apa singkatannya. 

Beratnya 5,9 kilogram sekarang. Kata mamah sih ini udah masuk ke ukuran bayi subur. Mukanya nyaris bulat, matanya besar kinclong, hidungnya nggak mancung nggak pesek, mulutnya mungil menonjol manyun, rambutnya baru dua minggu lalu dibotak, karena dicukurnya nggak rapih sekarang rambutnya tumbuh sepetak-sepetak, ada petak yang mulai lebat di antara lahan yang masih tipis. Makin lucu kan?

Karena kelucuannya itu, dia  jadi primadona. Selalu dinanti-nanti, dan ketika datang pasti dikerubuti sama saya, mamah, papah dan adik-adik saya. Bahkan, tiap si bayi di ajak pergi berkunjung ke rumah saudara, kakak ipar saya menyebutnya itu sebagai roadshow si bayi. Haha!

Semua bayi yang ada di dunia ini pasti lucu. Hanya saja kali ini sebentuk kelucuan itu ada di rumah saya. Saya bisa menyaksikannya, menikmatinya dalam waktu yang lebih lama... dengan kegemasan. 

Berinteraksi dengan bayi adalah relaksasi. Kami selalu dibuat senang oleh ekspresinya, geliat tubuh yang seadanya, senyum yang kadang tiba-tiba ia keluarkan, kulitnya yang halus dan empuk, serta bau tubuhnya yang bercampur minyak telon.

Sebagai manusia dewasa (baca: berumur) mengamati bayi adalah mengamati rekonstuksi siklus hidup manusia, sebagai diri sosial. Saya jadi bisa menyaksikan secara langsung proses tumbuh manusia secara biologis, dari awalnya si bayi selalu tidur, kemudian ia mulai bisa senyum-senyum, lalu kini mulai belajar tengkurep.

Alam pikirannya pun tumbuh dibentuk. Mungkin, si bayi belum bisa mendengar, tapi bagaimana pun, ia selalu dihujani oleh doa, harapan, aturan, nilai, dan juga mitos. Ia selalu dipilihkan warna biru dan bukan warna-warna lembut saat dibelikan pakaian. "Anaknya cowok yah? jangan pink. Yang ini aja," kata si penjaga toko baju bayi kepada kakak suatu kali.

Berinteraksi dengan bayi (dan juga anak-anak kecil) juga menjadi sebuah kesempatan untuk kami menjadi 'anak kecil' lagi. Adik saya sering mencadel-cadelkan omongan  ketika berbicara dengan si bayi, misalnya. Selain itu, bukankah kita juga kerap berlari-lari melompat ketika bermain dengan anak kecil, dan berguling-guling manja ketika tidur sekasur dengan si bayi?

Ternyata, sedewasa apa pun, setua apa pun kita, jiwa anak kecil tak pernah luntur. Diam-diam kita memeliharanya. Sebagai tempat lari dari dunia dewasa yang tak lagi polos dan sederhana? barangkali iya.

1 comment:

Sundea said...

Sudut pandang elu emang selalu keren, Kiw. Selamat ya buat kakak lu. Ikut seneng gue buat Si Kabay :D

Post a Comment