Sunday, January 5

How Slow Can You Go


Mengapakah kita  manusia ini begitu terobsesi dengan kecepatan? Semua hal selalu ingin disegerakan. Lambat, pelan, dan berhenti serta merta jadi negatif konotasinya.  Beginikah yang diinginkan modernitas? Tak cukuplah semua orang dibuat punya hasrat tanpa batas, pemenuhannya pun mesti juga dibuat ringkas.

Teknologi menjadi anak kesayangan jaman ini. Teknologi dibuat untuk selalu muncul di tengah kerumunan keluhan kita atas hidup dan hasrat kita untuk bercepat-cepat. Lucunya, jaman dan teknologi ini agaknya jadi seperti ayam dan telur. Mana yang duluan lahir dan siapa yang membentuk kehidupan jadi terasa rancu.

We shape our tools, and thereafter our tools shape us.” begitu kalau kata John Culkin, merujuk atas pemikiran koleganya, Marshall McLuhan. 

Manusia mencipta teknologi, kemudian teknologi itu balik menciptakan budaya manusia. Dan kita sama-sama tahu, pencapaian yang selalu ada di tiap teknologi adalah kecepatan. Manusia mencipta kamera untuk mempercepat penggambaran realitas yang sebelumnya harus dilukis. Manusia mencipta kereta, mobil, dan pesawat untuk mempercepat perjalanan. Meringkas jarak. Manusia menciptakan media, ponsel, internet untuk mempercepat proses kita untuk mempercepat proses komunikasi. 

Ah internet. Rasanya inovasi satu ini yang paling merajai peradaban manusia sekarang ini. Dalam pidato kebudayaan yang digelar oleh Dewan Kesenian Jakarta, Karlina Supeli sebagai pembicara juga menyinggung soal budaya internet hari ini. Saya sungguh tertohok membacanya. Rasanya, beliau menuliskan bagian itu merujuk ke saya seorang. Menurutnya, budaya dari teknologi digital yang ditandai dengan hasrat untuk selalu cepat-cepat terhubung--bahkan dengan banyak orang sekaligus--hasrat untuk cepat-cepat berkomentar dan  kecenderungan untuk selalu bercepat-cepat berbagi rasa, gagasan serta pengalaman itu membawa kita ke situasi paradox.

“Sementara kita kita menyadari bahwa masalah-masalah yang mendera semkain membutuhkan pemikiran yang mendalam, kita menciptakan budaya berkomunikasi yang justru mengurangi waktu kita untuk berpikir tanpa tersela. Di bawah godaan untuk bersegera melontar komentar,  kita tidak lagi punya cukup waktu untuk memikirkan problem-problem yang rumit,” begitulah yang diucapkan beliau.
          
Dalam 15 menit saja, kita bisa kedapatan lebih dari 100 angka notifikasi pesan masuk di ponsel. Entah itu dari Groupchat, Akun email yang pastinya tak hanya satu yang kita daftarkan, serta aplikasi-aplikasi sosial media yang selalu menggedik kita tiap kali ada update yang tak jarang remeh. Kita tak ingin ketinggalan, kita ingin tahu banyak tapi apa yang akhirnya terjadi? saya tak tahu apakah kalian merasakan hal yang sama, tetapi saya sering kali merasa bingung harus mendahulukan pesan yang mana, pesan saya baca seadanya dan saya respon hanya dengan kepekaan atau insting, tak jarang tanpa pemikiran yang mendalam. Kita jadi patuh terhadap notifikasi., Yang nyata--yang sedang saya kerjakan--bisa dijeda tiap kali ada pesan maya alias digital.  Kita kebanjiran pesan, baru saja kita membaca berita tentang kecelakaan kereta sekian detik kemudian rasa iba kita digantikan tawa setelah tweet akun lawak berada di atas tweet berita kecelakaan kereta tersebut.  

“Hasrat untuk segera berkomentar atau menyimak komentar orang lain tentang kita,” lanjut beliau, “menjadikan kita mahkluk yang pauseable, bisa dijeda, seperti tape atau video recorder.” Ah, dampak yang menurut saya mengenaskan yang saya rasakan adalah saya juga jadi mudah meladeni hasrat yang baru tebersit, persis seperti ketika saya  sedang membaca artikel di internet dan menemukan link lalu saya mengklik open in new tab. Ada begitu banyak bookmark dalam pikiran saya dan kesemuanya belum habis saya cerna isinya. Kebiasaan multitasking dan sulit fokus ini pun membuat saya senang memilih pekerjaan keenam ketika saya memiliki lima pekerjaan yang perlu diselesaikan.

Belum lagi soal karier dan pencapaian hidup. Saya merasa selalu diburu-buru sekali oleh sesuatu yang kadang ilusif. Saya yang baru memulai karier ini mudah sekali gelisah. Apalagi sekarang ini kita seperti diharuskan untuk memajang perkembangan hidupnya di linimasa sosialmedia (baca: di linimasa pikiran orang lain). "astaga, dia udah naik lagi jabatannya.", "dia ganti kamera lagi yah?", "wah, dia setahun ini udah jalan-jalan ke luar negeri berapa kali yah? asik bener." "Keren, tulisan dia udah di muat di media besar. Gue kapan?","Tahun ini gue harus bisa nyicil mobil, tahun depan cari-cari rumah sambil hunting gedung untuk resepsi." Apapun caption yang menyertainya, setiap cerita itu kadang senada bunyinya, "my life is better than yours. Go get it too. Quickly" Selanjutnya kita akan menjadi iri, merasa harus buru-buru mencapai hidup yang sama dengan temen-teman kita itu. Kita jadi ingin punya rumput yang setidaknya setara hijaunya dengan rumput tetangga padahal awalnya kita ingin membuat kolam berenang di halaman rumah kita. 

si kapitalisme juga ikut-ikutan mendukung pencapain kolektif kita itu. Dia selalu datang sok jadi pahlawan. Kita mau apa? pengen cepet-cepet punya smartphone yang bisa membuat hidup terasa indah dan mudah? ada program cicilan 0 %. Pengin punya rumah sendiri tapi nggak kuat bayar DPnya? Pantengin terus aja billboard-billboard di pinggir jalan, dia bakal ngasih buaian beli tanpa DP, atau cicilan 1 juta tapi bertahun-tahun. Apalagi? Pengin memakai baju-baju trendi merk global tapi ? semangat enterpreneur sudah disusupkan ke anak-anak muda yang ngaku kreatif nasionalis. Nilai-nilai nasionalis dan dukungan terhadap produk lokal bisa membuat kita mengabaikan harga produknya yang padahal sama aja kayak produk internasional.  Pokoknya apapun yang kita inginkan? kapitalisme akan selalu membantu kita untuk bisa memilikinya dengan cepat. Dia juga membantu kita untuk merencanakan keuangan kita. Betapa seringnya di saat tanggal gajian datang yang terpikirkan oleh kita adalah menyisihkan uang untuk berbelanja.  Hasilnya, jadi banyak sekali yang ingin kita capai. Hasrat terus memiliki kadang membuat kita lupa apa yang sebenarnya kita butuhkan. 

Time is money. Karena uang adalah pencapaian utama kita, dan uang pun menjadi alat untuk mendapatkan pencapaian-pencapaian lainnya kita juga jadi percaya dengan petuah itu. Kita harus bisa bekerja cepat. Media-media menargetkan  tiap wartawannya untuk mendapatkan minimal tujuh berita, agensi iklan mendorong tim kreatifnya untuk bisa menyelesaikan naskah iklan dalam satu malam dan besok paginya sudah bisa di-pitching lagi ke klien. Penerbit mendorong penulisnya untuk bisa menyelesaikan naskah tak lebih dari sebulan. Semua dilakukan agar kita semakin banyak mendapat uang dan tidak kalah cepat dengan pesaing. Padahal kita sama-sama tahulah bagaimana hasilnya pekerjaan yang dibuat buru-buru.

Betapa gagapnya saya menghadapi hidup bercepat-cepat ini, ternyata. 2013 saya terlambat karena ingin bercepat-cepat. tak ada salah seharusnya soal kecepatan asalkan kita punya kapasitas mesin yang kuat dan sabuk pengaman yang ketat. Nyatanya, saya masih gagap menghadapi hidup yang bercepat-cepat ini. Banyak yang terlambat saya dapat di 2013 karena saya ingin bercepat-cepat. Saya seperti pendaki yang  kalau sekadar yang penting cepat pencapai puncak lalu turun lagi tanpa mengkhayati pemandangannya dan menikmati obrolan-obrolan bersama kawan lainnya. 

Kepada tahun 2014 ini saya ingin membisikkan tantangan dalam berrevolusi "how slow you can go?"

2 comments:

Aisyah As-Salafiyah said...

Masya Allah, bagus banget tulisannya kak..
Seakan kayak baru menyadari apa yang selama ini udah terjadi, terimakasih sudah mengingatkan..
O ya, salam kenal kak Risky..

Diana said...

tulisannya bagus! :) jadi ngingetin, poinnya sama kaya kondisi saya sekarang. pinginnya ngebut karena liat sekeliling yang cepat melesat, tapi kenyataannya malah jadi melambat.

Post a Comment