Wednesday, May 22

Terjal sama ditanjak, Kaki Pegel Bodo Amat: Cerita Bersepeda Ke Curug Cinulang




Coba bayangkan suasana ini: hawa pagi yang begitu sejuk, jalanan yang dikelilingi pemandangan sawah, sungai, berlatar siluet pegunungan serta suasana geliat masyarakat pedesaan memulai harinya. Tak lupa juga suara deburan air terjun yang makin lama makin terdengar saat perjalanan. 

Menggiurkan bukan? Kami pun luluh membayangkannya, ingin mencicipi juga. Karena itulah saya, Fertina dan teman kami Bopeng menuju ke ke  Desa Sindulang, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat untuk mengunjungi dua situs wisatanya: air terjun Cinulang, serta hutan konservasi Kareumbi yang luas nan eksostis. Demi mendapatkan sensasi lebih, kami pun bersepeda, tak peduli bagaimana medan perjalanannya, tak peduli seberapa amatirnya kami. 

Mengandalkan Sepeda Sewaan Dari Jatinangor

Rabu, 23 April lalu perjalanan itu terjadi. Sebagai manusia dengan banyak waktu luang kami jadi bisa memilih hari kerja untuk berwisata. Perjalanan dimulai dari Jatinangor, Sumedang. Selain karena memang Fertina ngekos di sana, alasan kami memulainya dari Jatinangor adalah karena di sana ada tempat penyewaan sepeda gunung berkualitas.  Sebagai kota kecil yang dihuni oleh banyak mahasiswa Jatinangor memang punya banyak sekali fasilitas. Harga sewa sepeda pun tak mahal, hanya Rp 30 ribu untuk 12 jam pemakaian. Sayangnya, hingga kini penyewaan sepeda yang berlokasi di Jalan Sayang ini hanya mengizinkan peminjaman dengan jaminan kartu mahasiswa. Karena Fertina masih menyandang status mahasiswa Unpad, jadi proses peminjaman kami lancar adanya.
Jika teman-teman ada yang tertarik untuk mencicipi pengalaman serupa, Jatinangor, yang terletak dekat sekali dengan pintu tol Cileunyi memang paling cocok untuk menjadi check point awalnya. Sejumlah hotel bisa jadi tempat peristirahatan sekaligus spot untuk mempersiapkan sepeda yang anda bawa sebelum memulai perjalanan. 

Sebagaimana perjalanan wisata alam lainnya, pagi atau sore hari adalah waktu yang paling tepat untuk memulai keberangkatan. Sinar mataharinya siap memanjakan mata dan tubuh kita. Kami memilih waktu pagi. Tepat pukul empat subuh kami keluar kandang dan mengambil sepeda sewaan. Perjalanan pun dimulai. 
Berdasarkan observasi via internet, situs wisata Curug Cinulang dan hutan konservasi Kareumbi terletak di kisaran Desa Sindulang. Desa itu berada di perbatasan tiga kabupaten, yaitu  Kabupaten Sumedang, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut. Namun biar memudahkan,  navigasi timur Bandung bisa menjadi gambaran mudahnya. Menurut catatan yang sudah ada, kawasan ini terletak 38 KM dari kota Bandung, sekitar 11 KM dari pintu tol Cileunyi jika anda mengarah ke Garut. 

Sambil membiasakan tubuh dengan dinginnya udara subuh di Jatinangor yang dingi menusuk itu, kami mengayuh sepeda dengan pelan mengarah ke Ranca Ekek untuk kemudian menyusuri jalan raya Bandung-Garut. Geliat hari sudah mulai hidup di sepanjang jalan sana. Para buruh pabrik shift pagi mulai berkerubung menuju tempat kerjanya. Sebagian menggunakan sepeda, membonceng sepeda motor dan naik angkutan umum. Dinamika di pagi buta itu membuat kami merasa hangat sekaligus aman.

Boleh Jadi Amatir Asal Tidak Khawatir

Perlu dipertegas lagi, di antara kami bertiga, hanya Bopenglah yang sebelumnya sudah sering bersepeda ke berbagai medan. Sementara saya dan Fertina adalah pesepeda amatiran. Saya dan Fertina memang lancar bersepeda tapi untuk jarak jauh dan medan yang ekstrem penrjalanan bersepeda ke Curug Cinulang ini adalah pengalaman pertama kami. Saat merencanakan, kami hanya memikirkan keseruan perjalanan serta indahnya pemandangan tak terpikirkan sama sekali seperti apakah rintangan yang akan kami hadapi. 

Kami memilih untuk tidak bercepat-cepat dalam gowes. Selain karena kami adalah peseda amatiran, kecepatan santai membuat kami makin menikmati perjalanan. Butuh kurang-lebih 45 menit untuk kami mencapai check point  berikutnya. Kira-kira 10 KM dari Ranca Ekek kami berbelok kanan meninggalkan jalan raya, tepat setelah papan penunjuk jalan bertuliskan Cikopo dan Curug Cinulang kami lewati.

Untuk memastikan arah dan beristirahat, kami pun bertanya. 

“Curug Cinulang kemana, Pak?” tanya Bopeng kepada seorang Bapak di pangkalan ojek.

“Belok kiri, De. Sepuluh kilo lagi, tanjakan semua,” jawabnya seperti sudah biasa ditanya pengunjung. Hanya saja bagian “tanjakan” dipertegas. Pastinya, karena melihat kami bersepeda begitu. Hahaha.

Tak dipungkiri, kami kaget mendengar penjelasan si Bapak tadi. Tapi, kami urung mematahkan semangat begitu saja. Kami sepakat untuk menalukkan penanjakan. Apapun yang terjadi. 

Pelan tapi pasti kami terus menggowes sepeda menanjak. Sama seperti matahari yang baru menanjak terbit, membuat gelapnya langit fajar menjadi kebiruan. Semburat awan-awannya pun mulai terlihat. Ya, keindahan itulah yang menemani penanjakan awal kami.

Karena sering dilalui kendaraan untuk transportasi penduduk dari atas bukit ke bawah, jalanan menuju Cinulang sangatlah bagus, bahkan mulus. Sebagaimana jalanan di bukit, jalanan di sana juga berkelok-kelok.

Berpelan-pelan demi Pemandangan

Oke, subjudulnya memang bualan belaka, nyatanya kami berpelan-pelan lebih banyak bukan karena pemandangan, melainkan karena kecapekan. Baru seperempat perjalanan pun kami (kalau berbicara soal pelan-pelan, berarti kami yang dimaksud adalah saya dan Fertina yah. Bopeng tak masuk daftar) sudah ngos-ngosan. Betis sudah mulai mengeras, pedal sepeda pun sering tak digowes, kami menanjak berjalan kaki sambil menenteng sepeda. 

Tapi, di luar kelemahan kami itu, berpelan-pelan bikin kami bisa menikmati pemandangan. Menurut saya, ini keuntungan mengunjungi tempat wisata dengan sepeda dibandingkan motor dan mobil. Kita bisa lebih banyak bersentuhan langsung dengan suasana alamnya.

Tak lama setelah kami memulai penanjakan pun kami sudah dihidangkan pemandangan kota dari atas yang begitu indah. Jalan raya Bandung-Garut yang tadi kami lewati terlihat jauh di bawah, kendaraan yang melintas serta bangunan-bangunan di sekitarnya terlihat sangat kecil dibandingkan biru langit serta pemandangan gunung yang berbaris di belakangnya. 

Puas dengan city view,  mata kami juga disuguhkan panorama alami, bentangan sawah yang luas dan hijau serta sungai di tepinya. Pastinya, aliran sungai itu adalah peranakan dari air terjun yang akan kami tuju. 




Geliat kehidupan pagi di perkampungan akan menjadi menu berikutnya dari perjalanan kita. Kita akan sering menemui rombongan anak SD yang berjalan menuju sekolahnya, mobil bak yang membawa sayur-mayur dan berbagai perabotan, serta warga yang sedang asik ngobrol sambil bersarapan. Setelah satu jam gowes, kami memilih untuk berhenti sarapan ketupat tahu. Jangan kaget mendengar harganya, untuk tiga porsinya yang enak itu, kami hanya perlu membayar sepuluh ribu saja. Murah sekali, kan? 



Tanjakan Menjulang Penaklut Lutut

Di kuarter ke tiga perjalanan, tanjakannya makin sadis, walau jalanannya sangat mulus, tapi kelokan dan tanjakan yang curam sering kali akan kita temui. Selain itu ada beberapa medan yang tak bertepi. Kami berjalan bersebelahan dengan jurang. 

Tapi entah bagaimana, dengan segala kelemahan kami selalu punya semangat untuk mendaki, bahkan walau pun tiba-tiba lutut saya menjadi sakit bukan main. Tahun 2010 saya pernah kecelakaan motor yang menyebabkan ligamen lutut kiri saya robek. Saya tak pernah merasa sakit sebelumnya, baru saat perjalanan itulah saya tau kalau ternyata lutut saya ini punya batas penggunaannya. Kaki kiri saya sulit sekali digerakkan. Tiap kali ditekuk rasanya jadi nyeri banget. Untung saja kalau untuk jalan biasa saya masih bisa. Untungnya lagi, ada Fertina yang pelan-pelan jalannya, jadi ada barengan. Haha.  



Ada satu lagi penyemangat kami untuk tak menyerah begitu saja, yaitu suara sungai yang kian mendebur. Semakin jauh kami berjalan, semakin deras suara aliran sungainya, berarti, semakin dekat kami dengan tujuan pertama, Curug Cinulang. 

Belokan demi belokan, tanjakan demi tanjakan kami lalui, akhirnya gapura mini bertuliskan Selamat Datang Di Curug Cinulang kami temui. Tanpa pikir panjang kami memarkir sepeda, membeli tiket masuknya yang seharga Rp 3000 itu, berfoto di gapura dan langsung menuju sumber suara deburan air yang dari tadi kami dengar. 

Kita akan dibuat terpukau oleh pemandangan maha indah yang akan kita temui. Dua air terjun nan megah terletak bersebelahan, dengan debit air yang sangat deras jatuh menimpa bebatuan di sungai yang menjadi muaranya. Walau tak mungkin untuk menceburkan diri ke dalam sungainya, kita tetap bisa mencicipi kesegaran air terjun itu. Ketika kita berdiri di sisi tebing yang terbawah dan dekat dengan tempat  jatuhan air, bulir-bulir airnya akan menciprat deras membasahi kita. 



anak-anak SD setempat mengisi jam pelajaran olahraganya dengan berlari ke Curug. Hebat! 




Menuju Hutan Penuh Kejutan

Setelah puas bermain air dan memanjakan pandangan di curug kami bergegas lagi untuk menuju tujuan kedua. Jam menunjukkan pukul 10 saat itu. Menurut informasi dari penjaga loket Taman Wisata, kami butuh menanjak sekitar lima kilometer lagi untuk bisa mencapai Hutan Kareumbi. Sekedar informasi, penduduk setempat biasa menyebut hutan kareumbi dengan nama Kaweh. 

Trek yang dilewati tak jauh beda dengan sebelumnya, hanya saja, kita akan melewati Kampung Leuwiliang yang cukup padat pemukimannya, dan jalanannya pun mulai tidak mulus. Tapi, kabar baiknya, trek sepanjang kawasan itu datar adanya. Hanya sesekali saja kita menemui tanjakan. 




Yeah, tak sanggup lagi gowes mendaki, akhirnya  15 menit dari Curug saya dan Fertina memilih memarkir sepeda dan naik ojek menuju Kareumbi





Hutan Kareumbi terletak di ujung perkampungan. Sebelum memasuki kawasannya, tak ada lagi pemukiman. Jalanannya pun bukan lagi aspal, melainkan bebatuan dan tanah. Di sekeliling kita bukan lagi rumah-rumah dan jurang, melainkan pepohonan yang besar dan tinggi berbaris nyaris teratur. Cahaya matahari pun terredam, yang ada tinggal kesejukan yang damai. Setelah sekitar satu kilometer dari pintu masuk, akhirnya kami tiba di pusat hutan yang seluar 12 hektar itu. 

Ada dua persimpangan setelahnya, jalur kanan akan mengantarkan kita ke kawasan hutan buru. Kami memilih berbelok ke kiri, menuju tempat konservasi rusa. Di sana, bangunannya dirancang seolah seperti rumah-rumah pemburu di tengah hutan. Asiknya, ada tempat khusus untuk kita memberi makan rusa. Menurut informasi dari bapak yang sedang bertugas di sana, baru ada lima ekor rusa yang hidup, itula mengapa sulit sekali bagi kami untuk melihatnya. Mereka bersembunyi menjauh dari tempat kami. Untung saja, mereka masih bisa dipancing keluar. Dua ekor rusa menghampiri kami melihat setumpuk dedaunan yang sudah disiapkan untuk santap siang mereka. Kawasan ini juga menawarkan banyak obyek wisata lainnya. Kita bisa menginap di rumah pohon, berkemah, bersepeda di jalur Masigit Kareumbi Bike Park dan banyak lagi. 

Sakit Harus ditahan, Senang Harus Dikenang

Konservasi rusa menjadi tujuan akhir perjalanan kami, selanjutnya kami memutar arah sepeda kami dan menuju jalan pulang. Kalau saat berangkat kami harus bersusah-susah menanjak, saat pulang kami tak perlu banyak menggowes, jalur menurun akan membuat roda sepeda kami berputar terus dengan sendirinya, kami hanya cukup siaga dengan rem. 

Jalan menurun bukan berarti tantangan Saya dan Fertina ikut menurun. Sementara Fertina takut dengan trek menurun yang bisa bikin dia tiba-tiba ngebut tak terkendali, saya, di tengah perjalanan lututnya kambuh lagi. Dan kali itu semakin parah, sudah benar-benar tak bisa digerakkan lagi. Awalnya saya mencoba jalan kaki saja, tapi karena lama banget akhirnya saya memaksakan diri, gowes dengan satu kaki di sisa perjalanan yang masih jauh itu.  

Sambil menuruni jalur yang sudah dilalui, kami pun merangkum perjalanan. memulai bersepeda dengan sesi pemanasan berselimut dinginnya udara subuh, penanjakan yang ditemani suasana matahari terbit, membasuh keringat dengan cipratan air terjun super megah lalu menikmati siang di ruang alam yang meredam matahari, menyapa para rusa. Menyenangkan!



2 comments:

hobby nitro said...

woww its nice =)

Anonymous said...

tetap semangat!!

Post a Comment