Monday, February 4

Hari ke-27: Kebiasaan Menulis Keseharian dan Para Penerbitnya


Bagi saya, menulis adalah medium bercerita yang paling asik. Apalagi saya memang nggak pandai berbicara, menulis adalah opsi yang paling tepat. Saat menulis saya nggak berinteraksi secara langsung dengan si komunikan, saya sendirian. itulah mengapa dengan menulis saya lebih lepas berekspresi. 
Kegiatan tulis-menulis (yang bukan menulis pelajaran sekolah atau kuliah pastinya :p ) saya mulai sejak SMA. Intensitas serta kualitasnya pun berprogres. Diawal-awal saya cuma biasa menulis cecoretan sederhana yang tak terstruktur bentuknya, lalu di tahun kedua ketiga kuliah saya mulai berlatih tak cuma menuliskan perasaan saja melainkan juga gagasan dan pengalaman, apalagi saat itu saya berkenalan dengan Multiply dan Blogspot.

Setelah fase itulah saya pun memantapkan diri untuk menjadikan tulisan sebagai medium saya bercerita, baik bercerita untuk khalayak maupun bercerita untuk diri sendiri. Sejak itulah saya merasa yakin kalau menulis tentang keseharian itu penting! Alasannya, menulis membuat saya bisa lebih memahami diri sendiri, untuk menulis kita harus tahu apa yang kita alami dan rasakan. Setiap kata yang keluar seolah menjadi tangga untuk saya turun ke dasar diri dan mendalaminya. Kedua, tulisan itu tidak temporer sifat wujudnya, karena itulah menulis adalah dokumentasi. Rekam jejak kehidupan. Dengan menulis keseharian, kita jadi punya mesin waktu, kita bisa kembali merasakan pengalaman masa lalu di masa sekarang dengan hanya membaca tulisan kita di masa lalu itu. Dan setelah dilakukan, saya pun jadi tahu, bahwa menulis ternyata adalah kebutuhan.  

Nah, tentunya, bagi saya, kesadaran dan semangat menulis itu nggak muncul begitu saja, melainkan tersulut dari cerita dari orang-orang yang rajin menulis, dan tulisan kesehariannya begitu menarik serta menginspirasi. Siapa sajakah mereka? Sekiranya, ada tiga yang percikannya cukup besar dalam mempengaruhi saya untuk menulis. Mereka adalaaah…. 

1. Pidi Baiq 

Perkenalan saya dengan Pidi Baiq terbilang unik. Saat itu saya membeli Drunken Monster dengan pertimbangan bahwa dia adalah lulusan FSRD, anggota band The Panas Dalam dan di bagian kata pengantarnya seorang Dosen Filsafat lah yang menulis. Saat itu saya memang sedang butuh bacaan yang… uhuk… filosofis. Kebutuhan itu pun bukan  tak terpenuhi begitu saja ketika ternyata Drunken Monster ternyata berisi kumpulan cerita keseharian Pidi Baiq seorang. Dominasi humor dalam cerita dirinnya yang memang konyol dan seperti selalu punya pikiran yang autentik ternyata banyak  menyelipkan makna yang mendalam dan filosofis. Pidi Baiq membuat saya memikirkan lagi tentang esensi hidup. 

Mengenai tulisan, Pidi Baiq membuat saya  percaya diri untuk menuliskan cerita-cerita kecil dan konyol sekalipun. Awalnya saya enggan karena malu dan merasa tak ada gunanya, tapi setelah dicoba saya justru ketagihan, apalagi, karena terpengaruh gaya bahasa Pidi Baiq juga saya bisa lebih lepas berekspresi dan bereksperimen dalam menulis, jadi nggak begitu mempedulikan pembacaan orang lain. 

2. Minke

Tokoh utama dalam Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer ini memang sangat rajin menulis. Ia selalu menumpahkan pemikiran-pemikirannya yang ajaib itu dengan menulis, bahkan di usia muda, banyak tulisan opininya yang dimuat di surat kabar. Minke juga rajin menulis cerita-cerita hariannya, mencatat kejadian-kejadian dalam kesehariannya, bahkan ia juga mencatat informasi-informasi yang ia temukan entah itu dari Koran atau penelusuran langsung. 

Setelah membaca Boemi Manusia, saya pun jadi tertarik untuk melakukan hal serupa: menyempatkan waktu untuk menulis dalam setiap siklus hari, mencatat kejadian-kejadian penting secara menyeluruh, merapihkan dan memperkuat gagasan sehingga bisa ditulis dan dikonsumsi publik, dan memberanikan diri untuk percaya diri dengan tulisan sendiri.  

O ya, budaya menulis dan berkirim surat yang dilakukan MInke dan kerabat-kerabatnya juga menarik bagi saya. Sedikit banyak hal itu membuat saya jadi suka berkirim kartu pos dan bercerita panjang dengan teman lewat email. 

Di dalam cerita-cerita Minke, saya juga banyak menemui pepatah-pepatah asik tentang tulis-menulis. Salah satunya yang cukup ikonik adalah ucapan Nyai Ontosoroh kepada Minke yang ada di Anak Semua Bangsa, “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angina, akan abadi, sampai jauh, jauh dikemudian hari” 

3. Sundea 

Dea adalah teman yang pertama kali saya kenal pada pertengahan 2011. Dia adalah penulis yang bahkan sudah mantap akan menjadi penulis sejak dirinya masih SMP.  Kecintaanya dengan menulis tak cuma diwujudkan pada buku-bukunya yang diterbitkan, Dea juga giat, sangat giat malah, menulis kesehariannya di diary dan blognya.

Seumur hidup, kayaknya baru Dea seorang lah yang pertama kali saya lihat sering menyempatkan diri untuk menulis buku hariannya walau itu di tempat umum. Sungguh, terinspirasi dari Dea lah saya mengesampingkan rasa enggan untuk mulai menulis di buku harian. Hehehe. Dan akhirnya, bentuk komunikasi saya dengan Dea via email pun jadi seperti bercerita pada buku harian. 

O ya, dari Dea juga lah saya jadi tahu kalau mengapresiasi serta memaknai hal-hal yang terjadi dalam keseharian, bahkan hal yang kecil sekalipun, itu mengasyikan. Dengan begitulah saya jadi terlatih untuk menghargai dan mensyukuri hidup. Apalagi Dea selalu melihat sesuatu dari segi positifnya. 

4. Charlie

Menjadi remaja introvert dan memiliki trauma karena sahabat terdekatnya bunuh diri tidaklah mudah. Apalagi kalau ia harus berhadapan dengan dunia yang baru. Charlie, si remaja yang baru masuk SMA dalam kisah The Perks of Being Wallflowers (novel yang akhirnya difilmkan ) itu memiliki kesulitan untuk bergaul hingga akhirnya ia berkenalan dengan seniornya dan akhirnya bisa bersahabat.

Dan bagi seorang introvert, teman terbaik adalah dirinya sendiri. Sepertinya, atas alasan itulah, Charlie pun rajin menulis buku harian. Ia menulis tentang kegalauannya, tentang pertemanan barunya dan pastinya tentang percintaan. Kebiasaan Charlie ini mengingatkan bahwa menulis itu adalah salah satu metode penyembuhan mental yang sangat ampuh. Seinget saya, Dr Watson dalam Sherlock Holmes juga dianjurkan menulis blog oleh psikiaternya untuk mengobati traumanya akan perang.

Pada suatu bagian, Charlie juga pernah bercerita kalau ia juga mantap untuk menjadi penulis di kemudian hari.

"you can write about us," ujar Sam dan Patrick saat Charlie menceritakan cita-citanya itu.

Ah, asik banget yaaah..


***
Untuk kalian yang mengetahui keempat nama yang saya sebutkan, jadi nggak heran kan kalau sesekali tulisan saya punya warna yang sama dengannya? Hehehe… 

No comments:

Post a Comment