Sunday, February 3

Hari Ke-26: Sulvi





Sebutlah ini cerita yang gagal. Karena pada awalnya, saya ingin bercerita tentang kosan saya dulu di Jatinangor yang menjadi sanctuary. Tempat yang saya anggap paling nyaman, tenteram, damai, dan disanalah saya bisa maksimal menikmati hidup sebagai diri saya sendiri. Tak hanya asik untuk bersendiri ria, pada kosan bertajuk Pondok Melati inilah sebentuk kenyamanan itu juga terwujud pada persahabatan kami, belasan anak cowok yang tinggal bersama di bawah satu atap selama lima tahun, bahkan lebih.  Semenyebalkan apapun kepemerintahan si bapak kos dan antek-anteknya, Pondok Melati tetaplah rumah bagi saya. 

Tapi tapi tapi… saat sedang mengumpulkan memori tentang suasana kosan, penelusuran saya terhenti pada folder foto bernama Sulvi. Buyarlah semua rencana bernostalgia dan mengagung-agungkan romantisme si kosan saya itu sebagai sanctuary. Cerita jadi berputar arahnya, si Sulvi justru jadi tokoh sentral yang akan dikedepankan dalam posting ini. 

Memang siapakah seonggok Sulvi itu? 

Sulvi, sebenarnya namanya Zulvi, adalah anak dari si penjaga kos. Ia masih kecil, balita. Pokoknya, setau saya, umurnya itu sama dengan umur tinggal saya di kosan itu. Jadi, saya dan teman-teman kos memang sangat memperhatikan perkembangan Sulvi. Hmm… nggak cuma memperhatikan sih, melainkan juga mempengaruhi. 

Sulvi adalah bungsu dari empat bersaudara yang dilahirkan si bapak dan si ibu kos. Sulvi sangat akrab dengan kami, setelah menghapal nama-nama kami, para penghuni, ia jadi sering berinteraksi. Apalagi karena sering kali di rumah ia hanya sendirian, sementara ibunya sibuk nyuci dan kakak-kakaknya sekolah. Jadi, opsi untuk melampiaskan rasa ingin tahunya, semangat bermain dan ehem jiwa celamitannya ia jadi sering mampir ke kamar-kamar kami. 

Lalu, oleh Alfred, teman kos asal Papua, Sulvi diberi alias, Pato namanya. Menurut Alfred, dalam bahasa papua, Pato berarti bebek. Entah apa alasan Alfred memberi nama itu, namun setelahnya, Pato resmi menjadi nama baptis dari Sulvi. Kami semua memanggilnya begitu, walau itu didepan bapak, ibu, dan kakak-kakaknya yang sepertinya cukup geram nama saudaranya diubah. Hahaha… 

Pato pun selalu membawa hiburan tersendiri untuk kami. Kelakuannya yang ajaib selalu mengundang tawa dan…. mengundang niat iseng teman-teman untuk menjadikannya bahwa tertawaan-walau tak jarang akhirnya Pato menangis. :p Tapi tenang, kami nggak jahat, kok. Semua keisengan itu adalah wujud keakraban kami. Kami senang bisa tertawa karena si Pato, dan si Pato juga senang karena sesekali ia bisa memenuhi kebutuhannya: diajak main computer, diajak ngobrol, dikasih jajan atau makanan, misalnya. Cukup adil kan? Hehehe… 

Nah, karena lokasi kamar saya ada di lantai dasar, tempat biasa Pato beredar, maka intesitasnya mangkal di kamar saya cukup sering. Nggak cuma mainin action figure dan ngacak-ngacak kertas, si Pato bahkan pernah tidur di kamar saya. 

Saya yakin, setiap teman-teman di kos, pasti punya kesan-kesannya sendiri tentang si Pato ini. dan satu hal yang pasti, seiseng apapun kami kepadanya, kami semua peduli sama Pato, dengan caranya masing-masing. :D


awalnya, ini adalah tindak keisengan si Allan, tapi ternyata Sulvi betah mendem di dalem lemari. hehehe. 


Salah satu hobi si Pato adalah ngubek-ngubek saluran air dan nyari kepiting. Biasanya, setelah nemu dia pamerin ke saya. 

senggol bacok, bro!!!


ibarat tebak-tebakan, ini adala Ikan Teri Pake Helm. 


dipotong rambutnya sama ibunya











Hhaha. ini saat saya lagi ngeprint skripsi. Dan inilah momen pertama Sulvi melihat printer bekerja. "Rizki, ini didalemnya ada orang yang nulisin yahh?" tanya Sulvi dengan sangat antusias. 


1 comment:

baghendra said...

ah lu ki, jadi inget melati, jadi inget jatinangor....
haha...

Post a Comment