Saturday, January 12

Hari ke11: Sebuah Kafe dan Tujuh Romansa Birunya



Saya belum tahu bagaimana awalnya, tapi di antara minuman keseharian lainnya, kopi seperti punya posisi tersendiri dalam budaya kita. Nilainya seolah ditinggikan. Coba pikir saja, kayaknya nggak banyak ragam minuman yang secara spesifisik dikedepankan nilainya seperti kopi. Bahkan saking bersahabatnya kita dengan kopi beserta nilai dan filosofinya, akhirnya banyak dibangun kedai-kedai kopi yang besar. Istilah yang digunakan adalah kafé. Walau menu makanan dan minuman juga disajikan pada daftar menu, namun nilai dan filosofi kopi lah yang dijadikan tema besarnya. Setelah itu pun, kafé tumbuh berkembang menciptakan nilai-nilai serta tradisi baru. 
Lalu, kenapa tiba-tiba saya membahas kopi dan kafe?  


Hahaha. Semua ini disebabkan oleh Blue Romance, sebuah kafe yang cozy, homie sekaligus eksentrik berlokasi di Cikini, Jakarta Pusat, nggak jauh dari stasiun Gondangdia. Jangan sekali-kali mengetik nama itu di Google dan berharap mendapatkan panduan navigasi dari Google Map untuk menuju kafe tersebut. Pasalnya, hasil pencarian yang diberikan Google adalah informasi tentang novel karangan Sheva. Ya, betul, Blue Romance adalah sebuah kafe fiktif yang dibangun Sheva pada novel omnibook-nya yang juga bertajuk Blue Romance.  

Menu yang terdapat pada Blue Romance ialah tujuh cerita yang alur kejadiannya sedikit atau banyak terpengaruh dan berkaitan dengan kafe Blue Romance tersebut. Itulah mengapa PlotPoint, sang penerbit melabeli buku ini dengan istilah omnibook – pergeseran kata dari ‘omnibus’ yang biasa dipakai pada film -  karena buku ini adalah antologi cerita yang memiliki satu benar merah.

Dalam Blue Romance, Kafe seolah seperti sebuah terminal, dan kopi adalah moda transportasinya. Di kafe, kita bisa menemukan beragam kopi dengan rasa dan akan membawa kita ke perjalanan tertentu. Beragam cerita bisa terjadi saat itu. Lalu, sama halnya dengan naik angkutan umum, nggak jarang juga kan kita bertemu, berkenalan lalu akrab dengan salah satu penumpang lain. Seperti halnya pada Rainy Saturday, seorang cewek dan cowok yang terpaksa berbagi meja karena area indoor kafe mendadak penuh karena hujan, saling tertarik untuk intens berhubungan. Atau seperti pada a Tale About One Day yang bercerita tentang Kai, pria 36 tahun yang menemukan kenangan masa lalunya lewat pertemuannya dengan Chantal, gadis 12 tahun yang tiba-tiba menghampiri Kay di Blue Romance.

Blue Romance dan kopinya pun bisa membawa kita berjalan-jalan mengitari memori, entah itu tentang masa lalu dan masa sekarang, seperti yang dialami Rika dan Nico di 1997-2002, dua sahabat sedari kecil yang bertemu lagi setelah beberapa tahun berpisah karena Nico hijrah ke Jerman; atau seperti pada The Coffee and Cream Book Club yang mengisahkan Bening, penggagas kelompok pengkaji buku yang teringat ibunya saat Jeff, anggota baru di kelompok yang menawarkan sebuah buku cerita anak penuh memori bagi Bening.  

Dalam satu nuansa, kafe menyimpan keberagaman, mempertemukan kita dengan cerita untuk menuju sebuah perjalanan tertentu, termasuk perjalanan yang tak terduga, dan tak terrencana sebelumnya. 

Setiap kisah punya kopinya sendiri, begitulah slogan yang diberikan pada novel ini di halaman muka. 

Sheva sang kontraktor, direktur utama, manager sekaligus barista dari Blue Romance tampaknya sangat ulung  dalam meracik kisah dalam kopi ini. kadar romansanya selalu terasa pas, tidak terlalu manis karena terlalu banyak kalimat-kalimat romantis, tidak juga terlalu pahit dan getir karena drama yang kelewat tak realistis. Semuanya pas. Ketujuh kisah yang disajikan dalam tujuh jenis kopi yang berbeda-beda sukses membuat perasaan menjadi biru. Hehehe… 

1 comment:

rezkiapriliya said...

Halo, salam kenal. Lagi iseng blogwalking tentang cardtopost terus "nyasarnya" ke blog ini :D
Kebetulan sy jg punya novel Blue Romance ini dan alasan knp milih tuh buku krn background ceritanya berhubungan dengan kopi, suasana cafe, dan kisah setiap orang yang datang ke cafe itu. Emang benar, "Setiap kisah punya kopinya sendiri" dan secara nggak langsung bikin saya jd berimajinasi sendiri setiap baca kisah di buku ini. Menarik...!:)

Post a Comment