Tuesday, January 1

Hari ke1: Hidup Itu Riskan Tapi Menyenangkan.



Hidup Itu Riskan Tapi Menyenangkan: Secuil catatan di pergantian tahun 

Waktu adalah sesuatu yang terus bergulir, tanpa pernah berhenti, itulah mengapa akhirnya manusia membuatkan satuannya. Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun. Selain untuk menandakan perjalanan kita, satuan itu juga kita gunakan untuk mengelompokkan perjalanan waktu. Coba bayangkan, ketika satuan waktu itu tidak dibuat. Bisa jadi kita menyebutkan waktu berdasarkan situasi alam belaka. Mengukur letak matahari, pergantian warna langit atau bahkan menghitung kemunculan bulan purnama. Sungguh menyulitkan. Dan satuan tahun, menjadi salah satu satuan yang besar. Ketika waktu sudah berlalu selama 365 hari  dalam 12 bulan, kita butuh menyegarkannya, mengganti angkanya, dan mengulang lagi hitungan bulannya. Jadi, tak ayal kita, manusia modern, dibiasakan untuk merayakan pergantian tahun. Pergantian tahun adalah checkpoint. Titik untuk kita memeriksa apa-apa saja yang sudah kita lakukan di tahun yang akan ditinggalkan dan merencanakan serta bergegas untuk menghadapi kehidupan di tahun yang akan datang. 

Lalu, apa nih hasil pemeriksaan di pergantian tahunmu ini, Rizki?  




     Hahaha. Pertanyaan bagus. Karena memang saya mau menceritakan hal tersebut di posting ini. Posting hari pertama 30 Hari Bercerita. Setahun ke belakang ini, kehidupan saya cukup banyak mengalami perubahan. Hal tersebut bisa jadi terjadi karena saya sedang mengalami masa transisi, dari fase remaja menuju dewasa. Sejumlah tuntutan dan tanggung jawab hidup digebrakkan di 'meja' pikiran. Dan yang bikin kehidupan saya ini semakin membahana adalah bahwa di luar itu semua saya juga ditempeli ego serta idealisme yang cukup kuat melekat. Alhasil, tuntutan serta tanggung jawab itu saya coba penuhi dengan cara saya sendiri. Cara yang sekiranya berbeda dari yang biasa dipikirkan oleh, setidaknya, teman-teman di lingkungan sekitar. 


 Karena merasa ingin punya waktu luang di luar pekerjaan korporat yang mengikat, untuk memuaskan hasrat diri, selama 2012, saya memutuskan untuk menjajal menghidupi diri dengan menjadi pekerja lepas. Walau lepas-lepasan, tapi saya memilih untuk mempunyai tempat bergantung yang tetap, saya menjadi wartawan paruh waktu di sebuah majalah. Selain itu, sesekali mencoba melompat-lompat ke tempat pemberi nafkah hidup dengan menerima tawaran menulis untuk beberapa kegiatan dan institusi. Lalu, waktu luang yang tak pernah terduga kapan datangnya saya gunakan untuk memenuhi hasrat personal: berkunjung ke acara yang saya sukai, menulis untuk diri sendiri, bermain  sama teman dan pastinya, menghidupi proyek yang saya gagas. 
     
Ya, seperti yang bisa kalian duga, menjalani berbagai macam aktivitas dalam satu rutinitas keseharian bukanlah perkara mudah.  Walau sedari awal saya sudah menyadarinya, tetap saja, akhirnya saya sering kewalahan. Setelah semalam saya membaca-baca ulang, buku catatan harian saya cukup banyak diisi dengan curhatan-curhatan seputar perkara ini. Hahaha. Ceritanya beragam, dari mulai kewalahan membagi waktu, pekerjaan yang selalu tidak menentu datangnya dan terkadang penuh tekanan, hingga persoalan lahan keuangan di dompet yang paceklik.  Tak jarang, waktu luang untuk 'bermain' yang saya harapkan, tak pernah terasa. Sekalinya ada pun, waktu luang saya gunakan untuk rehat. 

Saya mengeluh dan mengeluh. Hingga berujung pada sebuah kesimpulan, menjalani hidup sebagai orang yang banyak maunya ternyata begitu riskan. 

Tapi tunggu dulu, saya memang mengeluh, tapi bukan berarti serta merta jadi menyerah. Ternyata Tuhan tetap selalu bersama orang-orang yang banyak maunya. Buktinya adalah si bapak pada foto di atas.  Ya, seperti yang kita lihat, si bapak, yang saya duga berprofesi sebagai tukang ojek itu mengemudikan motornya semaunya. Dengan penuh gaya. Ia menyetir bukan dengan tangan, melainkan dengan kakinya. Sepertinya, dengan sentuhan serta tekanan kakinya, ia memutar pedal gas. Kebetulan jalan yang ditempuhnya saat itu lurus dan tak begitu ramai, jadi ia tak butuh banyak manuver berarti. Dan lucunya, gaya duduknya pun persis seperti orang yang nongkrong bersantai. Tangannya saling berpangku beralaskan lutut kakinya. Dilihat dari ekspresi mukanya, ia terlihat tidak panik sama sekali. 
    
Saya cukup senang melihat-lihat foto ini bahkan sempat saya jadikan cover foto di halaman facebook saya, lho. Hehehe. Sesampainya di kantor, saat itu, saya  juga memperlihatkannya ke beberapa teman. Ekspresinya seragam, mereka  tertawa sekaligus kaget, "Hahaha. kok bisa?!" 


Tingkah laku si bapak itu memang ada-ada aja. Setuju dong kalau apa yang dilakukan si bapak itu adalah hal yang sangat riskan. Tergoyang sedikit saja, ia beresiko untuk jatuh dan terseret. Tapi karena (mungkin) sudah terlatih, cara mengemudinya yang kita anggap beresiko itu adalah hal yang menyenangkan baginya.

 Asal tahu cara menikmatinya, hidup yang riskan pun akan terasa menyenangkan. 

Ya, ternyata, ketika kita merasa hidup yang kita punya begitu sulit untuk dijalani, itu bukan berarti kita tidak bisa.  Ketertekanan atas tuntutan hidup tak akan berlangsung selamanya. Yang kita perlu adalah keyakinan dan kemauan untuk mencari cara untuk menyelesaikan tantangan hidup tersebut. Ketika sudah terbiasa, sepertinya kita akan mulai menikmatinya dan merasa senang.

Terbukti, beberapa aktivitas yang awalnya saya anggap berat, setelah saya terus-terusan menjalaninya, saya mulai terbiasa dan mulai tahu cara menikmatinya. Dan selalu ada perasaan senang ketika akhirnya saya bisa menyelesaikannya. Bakan dengan hasil yang baik.


...

Dan di pergantian tahun ini, saya mulai mencari-cari cara baru untuk bisa menikmati hidup ini.


:)

         

2 comments:

borescope said...

hidup banyak masalah juga gan hehehee

timbangan said...

harus tetep semangat gan walaupun hidup itu riskan

Post a Comment