Monday, January 7

Hari ke-6: HAI yang Selalu Menyapa Pria untuk Merayakan Masa Mudanya


Dalam serial cerita Lupus terbitan 1995 yang berjudul Interview Duran-Duran, dikisahkan, Lupus SMA yang jadi kontributor Majalah HAI, diberi tawaran untuk hengkang ke Hongkong menyaksikan konser band idolanya, Duran Duran. Tawaran itu diberikan oleh mas Iwan, Wakil Pemred majalah Hai saat itu, karena ia tahu Lupus sudah paham betul seluk-beluk band tersebut. Maklum, majalah Hai dapet kesempatan eksklusif untuk mewawancara band yang cukup nge-hip di era 90-an itu, jadi Lupus bakal jadi garda depan majalah Hai untuk memburu cerita langsung dari para personilnya.

Sontak Lupus pun girang. Tanpa babibu, ia menerima tawaran itu. Walau mas Iwan nggak menggratiskan ongkos pesawat, Lupus nggak patah arang, bersikeras ia berusaha untuk cari tambahan uang untuk beli tiket pesawat, yang saat itu, menurut bukunya, seharga USD 600. Bantuin Maminya bikin kue bahkan sampai ikut kerja di bengkel abangnya Boim.  Tak lama, berangkatlah Lupus bersama dua orang awak Hai, Denny, wartawan Hai yang merasa minder untuk wawancara Duran Duran dan Sute sang fotografer.
Singkat cerita, akhirnya Lupus sukses menyaksikan secara langsung penampilan band pujaannya itu,  menyapa lalu ngobrol bareng dan pastinya berfoto bersama Nick Rhodes, salah satu personilnya yang gaya rambut jambulnya begitu menginspirasi Lupus. Tak hanya Lupus yang senang, seluruh anak muda se-Indonesia pasti turut bergembira, karena atmosfer konser tersebut jadi bisa dirasakan melalui artikel liputan yang dibuat Lupus di majalah Hai.

Nah, di sini saya ingin sedikit bercerita tentang majalah Hai. Sepengamatan saya (sepertinya sih akurat) majalah ini adalah majalah Indonesia pertama dengan segmentasi pembaca remaja pria.  Sudah sejak tahun 1977, majalah Hai terbit secara berkala satu minggu sekali.

Dilihat namanya, ‘hai’ adalah sebuah kata sapaan sehari-hari, walau sempat diduga sebagai alih bahasa dari high  yang merujuk pada situasi saat seseorang mengawang-awang – biasanya karena pengaruh narkotika dan alkohol – majalah ini tetap konsisten menggunakan nama tersebut hingga sekarang. Hanya logonya sajalah yang beberap kali diubah, untuk mengikuti tren visual mungkin. Nyatanya, imej cutting edge yang diusung oleh Hai memang bukan menjurus ke arah yang negatif seperti istilah high tersebut

Penggunaan filosofi sapaan tersebut sangatlah menarik. Hai, selalu bisa menjadi akses bagi para remaja pria untuk bisa menyapa dunianya. Remaja pria dari masa ke masa. Coba deh, hitung jumlah cowok yang saat SMA tidak membaca Hai, pasti nggak banyak. Apalagi untuk pemuda era 90-2000an yang saat itu belum punya banyak media massa seperti sekarang, Hai seolah menjadi kitab suci untuk mejadi remaja urban.

Lewat informasi yang disajikan dengan gaya tutur yang sederhana dan mengalir khas anak muda, Hai menjadi teman bagi para remaja untuk menikmati ketertarikannya dalam hidup. Musik, film, olahraga, sastra, komik, seni rupa, fotografi, teknologi, dll. Tak ketinggalan juga, hal yang selalu menjadi bahan obrolan setiap remaja pria: wanita.

Hai adalah teman yang baik, yang tak pernah memaksakan siapa pun untuk mengakrabinya. Berdasarkan pengalaman saya berinteraksi dengan para pembaca dan sumber berita Hai, anak-anak seperti Lupus lah yang pasti senang bersahabat dengan Hai. Anak-anak yang selalu punya hasrat besar untuk merayakan masa mudanya dengan menggeluti minat serta ketertarikan tertentu. Pada anak-anak seperti itulah Hai adalah sahabat yang baik. Yang memudahkan pembacanya untuk ‘ngobrol’ dengan idolanya, bercerita tentang kehidupan pergaulan di sekolah, mengumpulkan dan menjaring segala macam informasi yang dibutuhkan, dan mendorong semangat berkarya dengan menyediakan halaman untuk menampilkan karya pembaca, entah itu berupa fotografi, desain, ilustrasi atau pun cerita pendek. Hai adalah wadah besar hasrat para pemuda. Hai adalah tiket dengan kisaran harga Rp 15.000 - Rp. 25.000 yang siap mengantarkan pemuda ke dunianya. Hai adalah youth passion station.

“Youth is the engine of the world” Begitulah kutipan dari Matiyashu yang tertera pada salah satu lift di gedung tempat Hai berada.

Perjalanan waktu adalah hal yang tak bisa dihindarkan, umur Hai pun selalu bertambah tiap tahunnya. Namun, Hai pasti sadar akan perannya yang penting pada banyak remaja di Indonesia dari generasi ke generasi. alih-alih menjadi tua, Hai sepertinya memilih untuk tetap menonaktifkan perkembangan psikologisny dan memilih tetap menjadi remaja selamanya, demi menemani anak muda untuk menghidupi hasrat meraih dunianya.

Selamat 36 tahun majalah Hai. 

Terima tengkyu udah jadi sahabat sekaligus sekolah bagi saya juga. Super salut untuk seluruh awak Hai. :)
                  

No comments:

Post a Comment