Monday, January 28

Hari ke-24: 69 Terkutuk


Kemacetan memang sudah pasti membosankan dan menyebalkan. Tapi, lalulintas macet hari ini berbeda, sudah mendekati brengsek dan bedebah, setidaknya bagi saya. Saya yang di sudah menghabiskan waktu dua jam di pagi hari, dua jam di malam hari ditambah bonus naik Metromini yang menipu, mereka nggak ‘narik’ sampe tujuan akhir, bahkan belum ada setengah perjalanan, sang kondektur sudah mengumumkan kalau trayek sudah ‘habis’. Saya dan penumpang lain harus turun. 
               Jadi begini ceritanya, saya naik bis Metromini 69 jurusan Blok M – Ciledug dari terminal Blok M. saat di terminal memang saya mendengar kalau si kenek kerap menyebut-sebut Seskoal—daerah yang nggak  kebayoran lama. Seskoal adalah titik yang memang dilewati rute bus ini. Tanpa menghiraukannya saya pun naik, dan duduk manis di belakang supir sambil mendengarkan lagu.

               Tak beda dengan bus lainnya, bus saya ini juga ngetem dulu di sekitaran Melawai. Cukup lama, 10-15 menit. Baru setelahnya, sopir pun jalan, menembus kemacetan sepanjang Pakubuwono-Jembatan Kebayoran Lama-Seskoal. Kemacetannya cukup ganas, butuh waktu kira-kira 30 menit untuk menempuh jalur yang rasanya nggak lebih dari 5 km itu. Saya kegerahan.
               Rasa gerah itu berubah geram ketika bus akhirnya mencapai check point kemacetan yang kedua, lampu merah seskoal. (Fyi, sepanjang jalur Blok M-Ciledug itu kira-kira ada lima titik kemacetan). Selain menyebutkan nama Seskoal sebagai penanda kalau bus sudah sampai situ, kondektur dan sopir kompak berteriak “Habis”. Bus pun menepi lebih jauh, haluannya pun terasa sekali kalau si sopir sudah siap untuk berputar. Saya pun bertanya “Lah kok, sudah abis bang, kan sampe Ciledug?”
               “nggak. Cuma sampe seskoal aja, udah abis,” jawab si sopir singkat.
                 ternyata, inilah maksud si kenek hanya menyebut-sebut Seskoal sewaktu di terminal. Ngehe banget. Kayaknya tiap penumpang langganan 69 bakal menganggap penyebutan Seskoal itu hanya untuk menginfokan kepada calon penumpang kalau trayeknya melewati titik itu, bukan sebagai tujuan akhir si bus.
               Tak cukup di situ. Awalnya saya kira, kami, para penumpang hanya akan di-‘oper’ ke angkot lain. Biasanya kalau dioper, kami nggak perlu bayar lagi, ongkos hingga tujuan akhir ditanggung si bus. Tapi tapi tapi… Si bus 69 ini nggak punya niat sebaik itu, mereka sudah mantap untuk menghabiskan perjalanan mereka. Mereka ogah berjauh-jauh dan bermacet-macet ria sampai ke Ciledug. Mereka mengkhianati ongkos Rp 2.000 yang harusnya sudah bisa membawa penumpang sampai Ciledug. Mereka membuat saya harus nambah ongkos lagi.
               Dan jelas, mereka membuat saya kecewa, bus berperilaku seperti ini mencoreng nama angkutan umum yang jelas-jelas sekarang ini dielu-elukan sebagai pengentas kemacetan ibukota.
               satu cerita lagi, ini adalah kali kedua saya mengalami kejadian ini. 
Huh!

No comments:

Post a Comment