Sunday, January 27

Hari ke-23: Indie yang Tak Selalu Independen


Ada yang menarik dari term indie yang hidup di budaya kita kini, terutama di kalangan anak muda. Setahu saya—dan ternyata dibenarkan oleh penjelasan dari Wikipedia—indie adalah bentuk pendek dari independence atau independent alias kemandirian. Kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan daya sendiri, tanpa atau minim bantuan dari pihak lain. Tapi, nyatanya, sekarang istilah indie itu sudah bergeser pemaknaannya. Indie selalu merujuk kepada gerakan atau kelompok yang seolah mengandung selera seni tersendiri, bergaya eksentrik, dan pastinya tidak mainstream. Padahal, sebenarnya ada istilah yang merangkum semua ketidakbiasaan dan atau resistensi itu, yaitu alternatif.    

Kira-kira, apakah penyebabnya? 

Hmm.. mari kita runut. Sepengamatan saya, di Indonesia, istilah indie dan independen itu kan besar dari rahim musik. Pada musik, independen menjadi jalur yang banyak dipilih oleh para musisi yang minim modal tapi tetap ingin musiknya mewabah. Mereka rekaman dengan dana patungan para personel, mendistribusikan album dengan cara yang sederhanan, seperti menjualnya distro-distro milik teman-teman sepergaulan, mengratiskan unduh filenya di website, menjadikannya bonus majalah atau zine dan membagi-bagikannya saat konser. 

Oh ya, perlu juga disadari, tak cuma musik yang mendominasi pergeseran term indie ini. street art dan budaya zine sepertinya juga punya andil. Kita pasti tahu, bawa graffiti dan street art di jalanan adalah sebuah wujud independensi seniman yang butuh ‘galeri’ untuk mengutarakan gagasan estetisnya. Begitu juga zine yang menjadi media untuk menyebar pemikiran personal atau kolektif tanpa memikirkan kaidah-kaidah bermedia cetak yang dipelajari di kampus jurnalistik. 

Kembali ke musik, pokoknya, independen adalah jalur bermusik dengan sumber daya sendiri atau sumber daya dari label yang tidak major. Nah, keberadaan label ini juga menarik untuk disoroti. Karena, menurut saya ini punya andil dalam memelarkan istilah indie. Ketika masuk ke dalam sebuah label, maka seharusnya, seluruh kegiatan aktivitas band tidak lagi ditanggung dari kantong para personel, tetapi juga dari kas si label itu. Tapi, walau sudah ‘’dimodali dan dipayungi, band label tidak major tetap disebut independen. Label-label tersebut juga dicap masyarakat sebagai label indie. Pada akhirnya, band indie diterjemahkan sebagai band yang punya kekhasan pada warna musiknya, tidak mainstream, dan tidak (banyak) dicampuri urusan penggarapan musiknya  oleh label. Bisa jadi, karena itulah banyak bermuncul sub baru yang mengimbuhi ‘indie’ di depannya. Misalnya, indie pop dan indie rock. 

Oke, sekarang mari kita coba tilik kemanakah term indie ini biasa melekat sekarang. Pasalnya, ungkapan “indie banget” cukup sering terdengar, entah sebagai umpatan atau pujian. Yang jelas itu merujuk juga pada sesuatu yang mewah dan dimodali. Contoh pertamanya adalah “gaya yang indie banget”. Pada jaman saya SMA,  yang disebut gaya indie adalah yang menyerupai band-band indie bernuansa retro, contohnya, baju garis-garis ala fans musik elektronik yang diusung Goodnight Electric, Club 80s, dan The Upstairs. Pokoknya, gaya indie adalah gaya yang berani dan pastinya eksentrik. Walau awalnya banyak yang menganggap gaya indie harus mengandung busana tidak baru alias bekas, tapi sepertinya, sekarang syarat itu luntur, kalangan indie pembeli baju bekas itu sekarang sudah berduit, jadi bisa bergaya indie dengan pakaian-pakaian branded.

Selain itu, pasti kita sering juga mendengar istilah “film indie” kan?. Untuk yang satu ini Saya punya cerita sedikit tentang istilah ini. saat kerja di majalah, saya dipercaya untuk rajin mengisi rubrik ulasan film-film indie, Indie Corner adalah nama rubriknya. Saya dan si redaktur sering berdebat kecil saat menentukan film yang akan diulas. Awalnya kami sepakat untuk mencari film-film yang diproduksi dengan budget minim, nggak mencantumkan nama sutradara, artis dan rumah produksi yang besar dan ternama. Tapi, lama-kelamaan kami mulai melonggarkan aturan, pasalnya, banyak juga film-film besar yang unik, nyeleneh dan kadang susah dimengerti. “Film ini indie banget, bisa kita ulas” celetuk saya. Akhirnya diterjemahkan sebagai film-film yang sedikit-banyak susah dimengerti, tidak masuk bioskop, film-film yang hanya tayang di Youtube. 

Tapi, sepertinya, jika disampingkan dengan term gerakan atau proyek, indie ternyata masih lekat maknanya dengan kemandirian. walau bisa disebut sebagai proyek indie, tetapi ketika membaca 'proyek indie' yang kita ucapkan tetap proyek independen. Iya, nggak?. Artinya, ya proyek, program, gerakan yang punya tujuan tertentu yang dilakukan oleh individu atau kelompok dengan usaha dan daya sendiri. Pokoknya, gerakan ini tidak punya menumpangi tujuan promosi atau pencitraan suatu individu atau korporat, alias murni dilakukan atas dasar ketulusan dan kesenangan. 

Kesimpulannya, sekarang ini, kata ‘indie’ jadi cukup bias. Maknanya harus disesuaikan dengan konteks. Tidak bisa absolut. Walau indie masih bisa diartikan sebagai bentuk independensi alias kemandirian tapi kini indie juga merupakan  sebuah wujud ekspresi individu atau kelompok atas selera, kualitas, gaya, interpretasi serta karakternya secara total, tanpa tuntutan yang berarti. Indie menjadi gaya hidup. Jadi, tak semua yang indie itu independen. Nah, lho?!


….
Hmm, tapi, sepertinya sekarang istilah indie bakal punya padanan kata baru, yaitu hipster. Benarkah? hehehe 

3 comments:

ananda anwar said...

wah keren nih pembahasannya.

Setau saya, istilah ataupun maksud indie itu ada hubungannya dengan salah satu sejarah budaya yang sering disebut 'subculture'. Subculture berarti bagian dari masuarakat budaya. Di UK yang paling terkenal itu punk dan skinhead. Anggotanya bisa dikenali dari gaya berpakaian atau musik yang didengarkan.

Menurut sejarahnya, tujuan utama mereka sebenarnya adalah untuk memisahkan diri dari faham kapitalisme yang mulai diperkenalkan di Inggris dulu.

Jika dalam konteks sekarang mungkin indie atau hipster ini seperti sekumpulan orang dari masyarakat yang memilih untuk tidak ikut dalam musik, film atau gaya hidup mainstream.

Tapi selain istilah indie, istilah mainstream pun perlu dipertanyakan. Budaya yang seperti apa yang sekarang dianggap 'umum' dalam masyarakat?

Menurut saya, dengan kemajuan media dan teknologi sekarang ini, batas mainstream dan indie pun sudah kabur. :D

Sundea said...

Ketulusan dan kesenangan. Itu dia point pentingnya =)

badai otak said...

:-D
indie kids memang kebanyakan hipster...
yah santai aja... kita nikmati sajalah ke-indie-an yang kita suka :)
biiarkan para hipster tergerus waktu jd basi sendiri
kalo suatu yang out of the box (berbeda dari standarnya) itu istilahnya 'cutting edge' mau indie maupun major bisa jadi.

aku ijin sare band indie/DIY yang pernah ku punya ya... :D
http://b4d4iot4k.blogspot.com/2012/12/sungkanbungkam-sebuah-artefak-yang-tak.html

Post a Comment