Monday, January 21

Hari ke-16: Lewati 100 Kata, Imajinasi pun Dibuka



Dalam pembuatan sebuah cerita, ternyata nggak melulu harus dimulai dengan modal ide tema, melainkan juga teknik pembuatannya. Itulah yang ditawarkan oleh buku Kumpulan Cerita 100 Kata ini. 

Seperti judulnya, buku kecil terbitan Antipasti ini, mengajak para penulis untuk bereksperimen, menuliskan satu cerita yang hanya terdiri dari 100 kata. Nggak kurang nggak lebih. Jelas, ini sangatlah menarik, apapun tema cerita, ia tetap harus menimbulkan kesan walau dalam ruang yang ringkas. Hasilnya, hampir seluruh cerita langsung menampilkan premisnya saja, tanpa basa-basi, langsung menuju konflik. 

Perjalanan cerita diisi oleh narasi dan atau percakapan bernuansa konflik yang begitu abstrak, membuat pembaca bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Hingga di satu-dua kalimat terakhir, cerita dibawa ke puncak twist ending. Penjelasan singkat yang membuat pembaca sekiranya akan berkata ,”Oh, ternyata.” Atau,” Astaga, kok bisa.” Dua subjek yang saling bermesraan namun ternyata mereka adalah pasangan gay beristri, ibu dan anak yang menangis sedih sekaligus senang karena suaminya yang jahanam meninggal dengan cara diracun, hingga seorang ibu yang mengerang kesakitan ternyata ia tengah melahirkan bayi.   

Sebenarnya saya suka dengan cerita-cerita di buku ini. yang selalu sukses menyulut imajinasi untuk mengarang sendiri awal serta kelanjutan cerita. Tapi sayang, pola tersebut diatas diamalkan oleh nyaris di seluruh tulisan. Jadinya, membosankan. Apalah arti keterkejutan jika itu dibiasakan. Ada satu cerita yang eksentrik dibanding yang lain, Menunggu Ibu, yang hanya menampilkan bunyi jam berdetik. Namun menariknya, di belantara detik jam itu ada satu kata yang berbeda. 

Soal tema, entah bagaimana, banyak sekali cerita yang premisnya sama. Beberapa tema yang mendominasi adalah perselingkuhan, cinta yang bertepuk sebelah tangan serta permasalahan rumah tangga dan keluarga.  

Di luar cerita, saya memberi kredit khusus untuk ilustrasi yang ada di beberapa bagian buku. Ilustrasi sederhana garapan Marishka Soekarna-salah satu illustrator wanita favorit saya-bisa menampilkan interpretasi yang beragam terkait dengan cerita-ceritanya. 

Lewat buku tertanggal beli tahun 2010an yang saya baca lagi kemarin di kereta Yogya-Jakarta, saya juga jadi menyadari, 100 kata nggak menunjukkan  ketidakmampuan bercerita yang lebih panjang. Karena, pada praktiknya, terkadang, menulis pendek itu jauh lebih susah dibanding menulis panjang. Karena itulah, saya jadi tertantang untuk membuat cerita dengan teknik batasan seperti ini. 




Ps: awalnya saya ingin menuliskan review ini hanya dalam 100 kata. Tapi….

1 comment:

Mita Oktavia said...

tapi kenapa, kak?

sepertinya buku yang menarik ^^

Post a Comment