Sunday, January 13

Hari ke-13: Ketika Kedatangan Ide Menjadi Ancaman


Hahaha … ironis, yah, biasanya ide itu selalu dinanti-nantikan kedatangannya. Apalagi, seringkali, kebutuhan akan ide itu suka mendadak. Kita ingin mendapatkan ide secara cepat. Tapi, ternyata, ada kalanya, kemunculan ide juga diiringi teman-temannya yang tak teduga: kecemasan dan kegelisahan mendadak nan berkepanjangan. Belum lagi kalau ide  nggak datang satu doang, tapi bergerombol dengan jenisnya yang beragam. Pasukan ide itu siap menyerang otak dan jiwa. 

“Gue, tuh, sampe suka takut tau nggak, tiap kali punya ide baru.” Seorang teman, co-founder dari sebuah instusi kreatif, mengatakan itu pada saya di sebuah obrolan.  

Kunjungan ide menjadi sebuah petaka. Kok bisa? 

Saya juga baru sadar kalau ternyata ide tuh bisa menjadi menyeramkan. Seperti yang pernah disebutkan di posting beberapa waktu lalu bahwa ide itu murah, nggak semahal seperti yang sering kita sebut-sebut. Ide itu belum menjdi berharga ketika cuma menjadi ide, nggak atau belum diwujudkan. 

Saat seperti itulah yang membuat ide menjadi ancaman. Ketika kita sering banget kedatengan ide, bahkan yang kita anggap sangat keren, tetapi nggak atau belum punya daya untuk mewujudkannya.  Kita bisa saja mendapatkan ide seru saat bertemu inspirasi-inspirasi dalam keseharian. Tiba-tiba nemu sudut pandang yang asik untuk membuat ulasan film atau konser musik; kerangka cerita pendek yang seru saat menghadapi suatu fenomena; imajinasi baru dalam membuat karakter di sketch book; atau ide-ide untuk membuat proyek saat sedang ngobrol dengan teman-teman. 

Kita pasti jadi begitu semangat ketika ide besar muncul. Segambreng motivasi juga ikut menempel di diri, merontokkan ketakutan-ketakutan dan ikut bersorak, “kita pasti bisa!”. 

Baru setelah kobaran semangat tapi reda ditiup waktu, kita sadar dan mengingat kembali realitas. Ternyata sejumlah keterbatasan, tuntutan-tuntutan hidup serta, bukan tak mungkin, kita juga punya kewajiban untuk menjalan ide sebelumnya yang sudah kita mulai wujudkan. apalagi untuk para pekerja korporat yang penuh keterikatan. Hal-hal itu nggak bisa dielak begitu saja. 

Walau sebenarnya kita bisa saja memaksimalkan (baca: memaksa) diri mencari cara dan mengasah kemampuan untuk mewujudkan ide, sering kali kita malah berakhir pada ungkapan “nanti dulu, deh, di simpen dulu aja idenya”. 

Aarggh … satu lagi ancaman yang dihibahkan si ide: perasaan bersalah karena tidak bisa mewujudkannya.  

Lucunya, ada fase ketika saya justru menjauhi segala macam sumber inspirasi. Enggan menonton film, ogah membuka-buka situs inspirasi desain atau foto, membaca majalah dan menjauhi obrolan-obrolan dengan teman yang punya satu visi. Takut dapet ide.

Tapi, semengerikan apapun serbuan pasukan ide yang datang ke diri yang penuh keterbatasan dan tuntutan tersebut, lebih mengerikan lagi kalau kita selalu merasa puas bisa hidup di ide yang sudah ada. Betul, nggak? 


1 comment:

FlappingBird said...

yap setuju! Istilah remehnya: ng-ide mah gampang, mewujudkannya yang butuh perjuangan. Wake up and do your dreams ;)

Post a Comment