Friday, January 11

Hari ke-10: Secuil Liburan di Kalimantan. Episode Banrjarmasin




Kalender saya bulan November 2012 kemaren cukup penuh dengan catatan-catatan yang menyenangkan. Sejumlah momen penting dan seru terjadi di sana. Selain bisa ikut merayakan ulangtahun pacar dan  ulangtahun Card to Post, saat itu saya juga mendapatkan hadiah besar, yaitu kesempatan untuk menapaki pulau Kalimantan. Walau tujuan utamanya adalah urusan liputan, tapi bukan berarti saya nggak bisa meluangkan waktu untuk berkeliling, berkenalan dengan Pulau Borneo itu, kan. 

Karena saya adalah pembaca baru novel serial Supernova, maka ketika akan tiba di Kalimantan yang saya ingat adalah tokoh Zarah di novel Partikel dan petualangan spontannya bertahun-tahun di hutan Kalimantan. Jadi, saya seolah dirasuki Zarah. Selalu ingin mencari petualangan – walau pun kecil – menjelajah Kalimantan. 

Tapi sayang, saya nggak ulung dalam urusan jalan-jalan, apalagi kalau tanpa partner yang cocok. (kebetulan teman kerja yang ikut dengan saya, kurang passionate untuk travelling). Jadi, eksplorasinya terbatas, terutama di kota kunjungan pertaman, Banjarmasin. Selama empat hari di sana, saya hanya sempat mengunjungi Pasar Apung muara Quin dengan memanfaatkan waktu kosong di pagi hari sebelum acara peliputan dimulai. 


Kebetulan Hotel kami tetap bersebelahan dengan dermaga, nggak susah untuk mencari tahu cara menuju pasar apung seperti yang terlihat di iklan RCTI Oke itu. Setelah dapat info kalau waktu yang tepat untuk berkunjung ke sana adalah pagi, maka di malam harinya saya pun menyiapkan diri untuk bangun lebih awal. Tepat pukul 05.30 keesokan harinya, saya pun bergegas menuju dermaga. Beruntung, saya bertemu perahu yang biasa nganter turis macam saya ini ke pasar apung. Rp 150.000 pun jadi harga yang kami sepakati. Terasa mahal memang. Maklum, biasanya kapal itu ditumpangi lebi dari lima orang. Nah saya kan cuma sendiri, jadi harga yang dipatok tetap harga rame-rame. 

Singkat cerita berankatlah kami, saya dan si supir perahu itu, menyusuri sungai  sambil menyaksikan pemandangan: rumah-rumah di pinggir sungai yang diramaikan oleh para penghuninya yang sedang beraktivitas di tepian sungai, entah itu mandi, cuci piring, atau cuci baju. Ya, kalian nggak salah, mereka melakukan nyaris seluruh aktivitas bersih-bersih itu dengan air sungai. Nggak sehat? Belum tentu. Toh, mereka semuanya tampak seger-seger aja, tuh. 

Si supir perahu akhirnya menyapa saya, memberi tahu kalau kami sudah hampir sampai, ketika perahu mulai melewati perairan yang jauh lebih luas lagi bentangannya. Nggak cuma rumah lagi yang kami lihat, tetapi juga kapal minyak yang super besar juga ada di sana. Perahu-perahu kecil yang membawa sayur serta buah-buahan pun mulai terlihat hilir mudik, tapi jumlahnya nggak banyak. Paling hanya satu dua. Baru setelah beberapa menit kemudian perahu-perahu pedagang itu pun mulai banyak jumlahnya. 

Ada sedikit kekecawaan sih saat itu, ternyata pemandangan pasar apun itu, nggak sama seperti yang saya bayangkan. Perasaan kalau di foto-foto yang tersebar di internet dan di iklan RCTI Oke, pasarnya rame. Nah ini, kayaknya sepi banget, apalagi saat itu kabut tipis ikut memenuhi udara. Nuansa mendung serta lembab muncul di liburan yang seharusnya penuh kesenangan itu. Hahaha… Tapi nggak masalah lah, toh saya tetap bisa menikmatinya. Puncak dari tur singkat nan sendiri itu adalah adegan saya sarapan soto Banjar di warung perahu. Hehehe… Sotonya enak!. 

Nah, ini dia cuplikan dokumentasi visualnya: 










Dijamin, cerita di episode kunjungan ke Pontianak nanti akan terasa lebih berapi-api. Tunggu tanggal terbitnya di rangkaian cerita 30 Hari Bercerita ini. 


No comments:

Post a Comment