Saturday, September 29

Workshop Fotografi Jakarta 32c: Lupakan Kamera Sejenak, Mari Kita Berwacana

*menulis laporan Workshop Fotografi Jakarta 32 c atas nama Ruangrupa untuk Whiteboard Journal. Diterjemahkan ke bahasa inggris oleh Dwiputri Pertiwi dan dipublish di Whiteboardjournal.com pada 21 September 2012


Apa jadinya kalau sebuah workshop fotografi tidak menghadirkan kamera sama sekali di tiap pertemuannya. Hal itulah yang terjadi di Workshop Fotografi Jakarta 32c garapan Ruangrupa. Workshop yang mengambil tempat di markas Ruangrupa, Tebet, Jakarta ini justru mengesampingkan mentah-mentah urusan teknis fotografi dan fokus ke hal penting lainnya yang terjadi dari kegiatan fotografi: menciptakan citra visual atas sebuah isu, membingkai realita menjadi sebuah wacana.



Ya, workshop yang digelar dalam delapan kali pertemuan pada periode 27 Juli – 13 Agustus 2012 ini dipenuhi oleh sesi diskusi berbagi gagasan tentang bagaimana tiap peserta akan menciptakan citra baru atas isu yang dipilihnya. Karena pada Jakarta 32 c kelima ini yang menjadi tema adalah ‘Lowongan”, maka workshop fotografi memilih untuk menyoroti masalah ‘pekerjaan’ yang ada di kota Jakarta. Ultra Vocation, begitulah The Secret Agents, duo seniman Indra Ameng – Keke Tumbuan selaku mentor memberi tajuk dari workshop fotografi ini.
“Partisipan akan diajak untuk bermain-bermain dengan kemampuan medium fotografi dalam memproduksi citraan yang berkaitan dengan pekerjaan masyarakat kota di masa depan,” tulis The Secret Agents dalam tulisan pengantar workshop.
Total tujuh peserta aktif yang mengikuti workshop ini. Mereka adalah mahasiswa terpilih yang berasal dari berbagai kampus berbeda, seperti Universitas Mercubuana, Institut Kesenian Jakarta, Universitas Bina Nusantara dan Universitas Negeri Jakarta.
Lantas, karena lewat workshop ini para peserta akan menghasilkan karya, maka sejak pertemuan awal pun mereka  sudah mulai diarahkan untuk memilih jenis pekerjaan yang akan dikaryakan kemudian di pertemuan-pertemuan tersebut mereka berdiskusi bertukar gagasan dan mematangkan konsep.
Setidaknya, delapan pertemuan itu terbagi menjadi dua sesi. Pertama, sesi latihan di pertemuan pertama hingga ketiga. Mentor mengajak peserta untuk mendeskripsikan suatu profesi berdasarkan objek-objek  visual yang dapat merepresentasikannya. Lalu, guna melatih serta memperkaya referensivisual, tiap peserta diminta mengumpulkan foto-foto  dari media massa untuk disatukan menjadi sebuah foto berseri. Lewat proses tersebut peserta pun belajar untuk mengkurasi karya, sebuah proses penting sebelum akhirnya mereka mengkurasi karya mereka sendiri.
Sesi kedua ialah pembicaraan konsep dan teknis pembuatan karya akhir. Sejak pertemuan keempat, workshop selalu riuh dengan gagasan-gagasan yang seru tentang calon karya tiap peserta. Perubahan-perubahan konsep pun tak bisa terelakkan seiring diskusi dan riset lapangan silih berganti berlangsung. Valdomisalnya, di sesi awal ia tertarik mengulas profesi guru, namun kemudian beralih mengangkat stigma masyarakat tentang profesi Sales Promotion Girls. Lewat karyanya nanti, Valdo ingin menciptkan citra baru, yang positif, dari seorang SPG.
Gagasan konsep yang ditawarkan oleh Vini dari universitas Bina Nusantara juga tak kalah menarik. Ia ingin mengkritisi fenomena munculnya orang yang tiba-tiba menjadi motivator bermodal kata-kata bijak serta penampilan yang rapih dan berwibawa.
Posisi dua mentor pada workshop ini pun menarik untuk disoroti. Pasalnya, alih-alih menghujani para peserta dengan materi-materi dan pemahaman, Ameng dan Keke justru terasa lebih sebagai pendamping yang memoderasi.Dengan sangat baik, mereka merangsang tiap peserta untuk berekspresi dan berwacana. Apa yang mentor lakukan adalah memberi suplemen ide guna memperlancar proses tersebut.
Lalu, di setelah pertemuan ketujuh pada 13 Agustus 2012, peserta pun sudah mulai mengeksekusi karyanya masing-masing dengan terus didampingi oleh mentor.
Melihat betapa serunya prosesi adu gagasan dan konsep pembuatan karya selama workshop, rasanya akan sangat menarik untuk menyimak hasil akhir karya para peserta. Selain SPG dan motivator, kita juga akan disuguhkan penampilan freelancer, kuli bangunan, tukang sol sepatu, ahli gigi, dan odong-odong dalam      Serentak, mereka akan dipamerkan di Galeri Nasional pada 22 September-8 oktober 2012. Mari kita saksikan!

Rizki  Ramadan

No comments:

Post a Comment