Friday, July 13

Blok M Rasa Takoyaki



Blok M, Minggu 30 Juni 2012.


Di sini, sulit rasanya untuk mengalihkan perhatian dari sepaket bola-bola tepung yang mengepung seonggok gurita kecil di dalamnya. Apalagi bukan cuma satu-dua kios saja yang menawarkan wangi khasnya, di antara jajaan kuliner lainnya yang ada di festival kebudayaan Jepang bertajuk Little Tokyo Ennichisai ini bisa jadi kios takoyaki adalah yang paling sering berulang ditemui mata.

Jika dirunut pun, cemilan ini memang sedang ngehip di kalangan masyarakat urban macam Jakarta, tak terkecuali saya. Kegurihan makanan ini setingkat dengan bumbu indomie. Renyahnya pun tak terdefinisikan. Apalagi, lumuran mayonaise yang dikawinkan dengan saos takoyaki dibawah taburan (mungkin) irisan bawang itu bikin lidah ini seperti diajak ke surga. Gurita yang biasa tampil mengerikan pun jadi begitu imut dan menggemaskan. Membuat lidah, rongga mulut dan gigi saling berebut mencubitinya. Sungguh berlebihan sekali kamu, Rizki. 

Sebenarnya saya kecewa dengan porsinya yang hanya berisi empat bola saja. Tapi tak apa lah, toh saya tetap mengeluarkan uang sepuluh ribu demi mendapatkannya. Apalagi saat itu saya di sana masih sendiri. Lumayan untuk menemani satu – dua lap berkeliling venue, menonton dengan seksama geliat manusia yang datang meramaikan, menyaksikan sejumlah anak muda yang rela berdandan ekstrem demi menyerupai karakter di serial animasi/komik Jepang favoritnya, mengikuti iring-iringan Dashi dan memerhatikan perayaan budaya Jepang.  Membuat Blok M menjadi berrasa takoyaki. 

Sementara mulut terus mengulum takoyaki, mata pun terus menguyah, mencari potongan-potongan waktu yang enak untuk ditelan ke dalam film kamera. 
 












2 comments:

Andra Perdana said...

Ki, gw nemu satu kejanggalan di foto yg ad tiga pria yakuza berbaju hitam..

terlalurisky said...

yes scanning nya ngaco. ada yang ketarik..

Post a Comment