Wednesday, April 25

Pedagang Pecel Lele pun Desainer.

ditulis untuk Nirmana Award, dimuat di Malesbanget.com April 2012, http://mlsbgt.de/JAwLNF
Gambar ayam jago dengan warna keemasan, lele yang sedang meliukkan tubuhnya, dan seekor bebek. Lalu disekelilingnya terdapat tulisan-tulisan penjelas dari gambar “Pecel Lele, Ayam Goreng, Nasik Uduk dan Tahu Tempe,” Tak jarang juga, nama penjualnya dibubuhi lebih besar sebagai penanda. Jenis hurufnya selalu besar dan warnanya eksentrik, biasanya kemerahan.

Coba visualisasikan kalimat tersebut dalam benak kalian, dan sebut hal apa yang muncul. Pasti gambaran warung tenda dipinggir jalan dengan kursi plastik dan suara gemuruh minyak yang tengah mengepung lele dan ayam yang akan muncul. Ya, itu adalah warung tenda Pecel Lele. 

Entah siapa yang memulai, tapi tata spanduk semua warung tenda pecel lele di seluruh penjuru Indonesia selalu begitu bentuknya. Kalau kita amati, spanduk sederhana itu sudah memuat unsur-unsur dalam desain grafis: tipografi dalam bentuk dan warna huruf-huruf; ilustrasi untuk menggambarkan apa yang dijualnya dan layout alias tata letak unsur-unsur tersebut.  Walau terlihat terlalu ramai dengan penggunaan banyaknya jenis huruf tapi desain spanduk seperti ini sudah tertanam di benak masyarakat sebagai bagian dari brand pecel lele. 

Ini adalah bukti bahwa desain grafis itu tidak melulu dilakukan oleh para pekerja di perusahaan kreatif saja, tetapi juga oleh semua orang termasuk kita. Untuk bisa menemukan karya-karya desain pun kita tidak mesti mencarinya di situs-situs dan majalah yang seni dan desain. Cukup lihat sekeliling, kita akan dengan mudah menemukannya. 

Sebenarnya yang disebut sebagai desain itu yang seperti apa sih? 
Gampangnya, desain dapat diartikan sebagai bagian dari seni yang berupa rancangan estetis guna mencapai  tujuan atau fungsi tertentu. Kata fungsi ini perlu digarisbawahi. Tanpa bermaksud untuk mengotak-kotakkan, tapi ada perbedaan makna desain dengan makna ‘seni rupa, yang berkembang di masyarakat, dan ‘fungsi’ menjadi kata kuncinya. 

Eka Sofyan Rizal, salah satu anggota aktif forum Desain Grafis Indonesia menyatakan lewat salah satu tulisannya bahwa desain itu adalah seni terapan. Desain berorientasi pada kegunaan yang berlaku untuk umum. Itu lah sebabnya, desain pun dibagi lagi cabangnya sesuai kegunaannya, diantaranya adalah desain grafis, desain interior, dan desain produk. Sementara seni rupa dapat dikonotasikan sebagai ekpresi yang bersifat indivualis, menekankan pada subjektifitas dari si pembuatnya. 
Seperti yang sudah disebut sebelumnya, desain itu ada dimana-mana. Begitu juga dalam keseharian kita, dari mulai tempat tidur, sprei kasur, baju, dan perlengkapan mandi dibuat dengan desain. Desain dan kehidupan itu sudah tidak dipisahkan. Kehidupan membutuhkan desain!

Coba bayangkan kalau menciduk air tanpa piranti bernama gayung, pasti hingga kini  cara kita mandi ialah dengan menceburkan diri ke dalam air. Sangat boros dan tidak efektif bukan? Tapi, dengan desain, materi plastik bisa dibentuk sedemikian rupa hingga terciptalah gayung. Desain mencipta teknologi untuk mempermudah kehidupan. 

Tak hanya untuk mempermudah saja, desain juga mesti bisa menghadirkan estetika. Itulah mengapa keindahan dan keberaturan tidak bisa lepas dari produk desain. Contohnya adalah pakaian, jika yang dikedepankan hanya aspek fungsinya saja, maka yang ada ialah lembaran kain alakadarnya untuk sekedar menutupi badan. Tapi melalui desain – dalam hal ini desain fesyen – fungsi estetika membuat lembaran kain penutup badan menjadi enak dilihat dan enak dipakai. Pakaian pun jadi beragam bentuk dan gayanya. Dari mulai kaos, jas, kemeja hingga kebaya. Menariknya lagi, dipadu dengan nilai budaya dan sosial, tiap ragam pakaian tersebut jadi memiliki fungsinya sendiri-sendiri. Kaos digunakan untuk kegiatan yang kasual dan jas untuk acara formal dan resmi. 

Rasanya, membicarakan desain yang ada di kehidupan sehari-hari kita tidak akan ada habis-habisnya. Belum lagi desain yang bertebaran di jalanan kota. Iklan pada baliho-baliho dan media massa seperti Koran dan televise hingga media sederhana seperti spanduk warung tenda pecel lele  sudah menjadi konsumsi kita sehari-hari. Mereka berlomba-lomba meraih atensi masyarkat dan berkomunikasi lewat bahasa visual untuk mempengaruhi. Ihwal seperti ini biasa disebut sebagai desain komunikasi visual.
Desain perlu diapresiasi 

 Desain sudah memenuhi segala aspek yang dibutuhkan oleh kehidupan kita. Tapi apakah kita sudah memenuhi apa yang dibutuhkan desain? Hal ini lah yang harus terus kita ingat. Kita perlu mengapresiasi kehadiran desain dalam keseharian kita. Apresiasi ini dapat kita terapkan dengan menyadari sepenuhnya bahwa benda di keseharian kita itu dibuat dengan desain, dan tidak menganggapnya sebagai barang konsumsi belaka. 

Rasanya, literasi visual menjadi hal yang wajib dimiliki bagi masyarakat, terutama kita, masyarakat urban yang hidup di tengah belantara visual. Apresiasi terhadap objek visual yang bertebaran juga bisa dilakukan dengan mencermatinya. Menelaah makna dibalik tiap karya desain yang kita lihat dan gunakan. Dengan adanya interaksi antara manusia dan desain itu, perkembangan desain dan ihwal visual lainnya akan menjadi semakin sehat. 

No comments:

Post a Comment