Monday, April 16

Oase itu Bernama Prestasi Desainer Indonesia


(ditulis untuk Nirmana Award, April 2012)

Jika kita menyaksikan berita di media massa, rasanya tak henti-hentinya kabar miring tentang negeri ini disiarkan. Entah itu aksi premanisme, perkara korupsi yang tidak berujung, serta kejanggalan-kejanggalan lain yang terjadi pada pemerintah. Tak ayal kalau anggapan negatif tentang negara ini makin pekat dan laten, tidak hanya di mata bangsa lain tetapi juga di mata rakyatnya sendiri. “Ah Indonesia payah, kapan mau majunya,” kira-kira begitulah umpatan yang biasa terdengar

Tapi tunggu dulu, tidak adil rasanya kalau buru-buru men-judge bahwa Indonesia itu payah dengan hanya melihat dari berita-berita negatif yang biasa diumbar media saja. Sayang rasanya jika optimisme kita luntur hanya karena pandangan bencana hasil pantauan sebelah mata saja. Kita  perlu membuka mata untuk melihat Indonesia dari sudut pandang lain. 

Daripada sibuk mencaci pemerintah, lebih baik kita mencari lalu mendukung serta menyemangati orang-orang yang memiliki passion besar di bidangnya dan giat berkarya membawa nama bangsa. Pasalnya, kini banyak pelaku desain asal Indonesia yang diam-diam mengukir prestasi di tingkat internasional. Siap-siap lah untuk terpukau dengan karya-karya berkelas 

Pada dunia film dan animasi misalnya, kita yang aktif di dunia jejaring sosial, pasti pernah mendapati kawan berbagi video animasi yang menampilkan sebuah bajaj berubah menjadi robot canggih seperti di film Transformers. Ya, video Transformers rasa Indonesia yang berjudul Lakon Pada Suatu Ketika itu menghebohkan ribuan penghuni media sosial. Video tersebut adalah buatan Lakon Animasi, sebuah sekolah animasi yang berada di Solo. Bukan hanya ceritanya saja yang senada dengan film Transformer, teknik animasi dan visual effect-nya pun sebanding dengan film-film Holywood. Canggih dan berkelas! Hebatnya lagi, menurut keterangan yang disertai di halamannya, video itu hanyalah teaser dari rangkaian film panjang yang akan digarap. Artinya, tak lama lagi bukan tak mungkin film animasi lokal ini masuk ke jejeran film box office.  

Para animator Indonesia pun tidak hanya menunjukkan tajinya di dalam negeri, belum lama lalu, film animasi The Adventure of Tintin: Secret of The Unicorn garapan sutradara Steven Spielberg menyapa bioskop Indonesia. Usai menyimak film ini, tak jarang penonton yang berkomentar soal tingkat detil animasinya yang sangat memukau. Sayang saja, tak banyak yang menyimak hingga layar bioskop benar-benar padam. Karena pada bagian Credit Title kita bakal menemukan sebuah nama yang khas Indonesia di deretan Animator Departement. Ya, dialah Rini Sugianto, wanita asli Indonesia yang tinggal dan bekerja di New Zealand. 

Lulusan Arsitektur, Universitas Parahyangan ini malah melanjutkan studinya di Academy of Art, San Francisco untuk memperdalam bakat animasinya. Sekarang, Rini bekerja di Weta Digital, sebuah perusahaan animasi dan visual effect  yang ikut andil dalam menggarap animasi The Adventure of Tintin. Seperti yang dilansir oleh Komikoo.com, dalam film The Adventure of Tintin ini Rini mengerjakan 69 shot untuk dibuatkan animasinya. Tak berhenti di situ, Rini pun kini tengah sibuk menggarap film The Avengers yang direncanakan rilis 2012 ini. 

Tentunya, Rini Sugianto bukan satu-satunya. Nama Andre Surya, pria kelahiran Jakarta tahun 1984 juga ikut mejeng di kredit film-film holywood dengan visual effect yang super canggih. Dari mulai Iron Man, Star Trek, Terminator Salvation hingga Transformer: Revenge of The Fallen  pasti memuat namanya di jabatan digital artist.  Andre Surya bekerja di Lucasfilm Singapore, production company yang didirikan oleh George Lucas, Sutradara film Star Trek. Menurut Voice Magazine, Andre biasa mengerjakan urusan modeling, layout dan lighting. 

Kalau Rini dan Andre berkiprah di dunia film, Chris Lie memilih mengangkat nama Indonesia lewat bakat dan skill illustrasinya. Masih tidak jauh dari dunia film, pria lulusan Arsitektur, Institut Teknologi Bandung ini ditunjuk sebagai perancang action figure dari film GI Joe dan Transformers. Kisah suksesnya itu berawal ketika ia magang di Devil’s Due Publishing  (DDP), sebuah perusahaan komik, saat ia kuliah S2 Savannah College of Art and Design, Savannah, Amerika Serikat. 

Tak berhenti di situ, kecintaannya pada dunia ilustrasi dan komik pun memicu Chris Lie untuk mendirikan sebuah studio sepulangnya ke Indonesia. Lewat studio yang diberi nama Caravan itulah Chris Lie bersama timnya makin melebarkan sayap. Sambil terus menggarap rancangan action figure, Caravan studio pun memproduksi komik serta ilustrasi untuk perusahaan-perusahaan internasional.  
Bersama dengan editor serial komik X-Men, Mark Powers pun Chris Lie berkolaborasi untuk menerbitkan komik baru berjudul Drafted di tahun 2007. Komik yang berkisah tentang pertarungan umat manusia di bumi dengan alien ini ikut menampilkan sosok Barrack Obama sebagai salah satu hero.  

Di bidang otomotif dunia, desainer Indonesia pun ikut menyumbangkan master piece-nya. Tahu dong dengan Maserati, si mobil supermewah itu? Desainnya yang futuristik dan modern itu  ternyata tak lepas dari goresan tangan pemuda Indonesia yang bernama Mikael Infanto. Lulusan Desain Komunikassi Visual UK Petra ini tergabung dalam tim desainer Maserati saat ia berkuliah di Instituo Europeo di Design, Turin, Itali. Mengutip dari Voice magazine, dari tujuh orang di tim desainnya itu, Mikael banyak mengerjakan bagian interior serta beberapa desain bodi luarnya.    

Masih belum cukup? Nama Henricus  Kusbiantoro bisa jadi bukti lagi betapa digdayanya pelaku desain Indonesia di dunia Internasional. Sebagai seorang brand designer, Henricus banyak menelurkan desain logo yang menuai penghargaan tingkat internasional. Pria asal Bandung yang kini bekerja sebagai senior art director di Landor Associates, San Francisco ini sudah membuat desain logo The Emmy Awards, Samsung Beijing Olympics 2008, Fifa World Cup, Japan Airlines dan yang paling dibanggakan adalah logo kampanye internasional RED untuk penderita AIDS yang sukses mengantarkan Henricus sebagai perancang grafis pertama Indonesia yang meraih penghargaan di ajang D & AD London Merit Award 2007. 
 
John F Kenedy, Presiden Amerika yang ke-35 pernah berkata “Jangan tanya apa yang negara berikan padamu, tapi tanyalah apa yang sudah kamu berikan untuk negara”. Sekiranya quote ini tepat untuk menggambarkan apa yang dilakukan para desainer tersebut di atas, dengan berkarya sepenuh hati di tingkat internasional mereka memberikan Indonesia sebuah kebanggaan. Sebuah prestasi besar yang menjadi suplemen untuk memicu optimisme rakyatnya yang mulai layu. 

Menyimak kisah sukses para desainer Indonesia ini, tidak berlebihan rasanya kalau mengatakan bahwa Indonesia itu memang hebat! Pastinya, akan semakin banyak bibit-bibit seperti Rini Sugianto, Andre Surya, Chris Lie, Mikael dan Henricus Kusbiantoro yang tersebar di tanah Indonesia ini. tinggal tunggu waktu saja, satu persatu prestasi anak bangsa pun bermunculan. Dan bukan tidak mungkin jika salah satunya pelakunya itu adalah kamu! 

Gimana, masih berani menyebut Indonesia itu payah? 

No comments:

Post a Comment