Friday, April 27

Authentic Experience Oriented + 20 Seconds of Insane Courage = “We Bought a Zoo!”


Maret lalu, saya berkesempatan menonton film Postcard From The Zoo. Film yang kurang lebih berkisah tentang seorang gadis yang menghabiskan hidupnya di kebun binatang lalu tertantang untuk keluar memasuki kehidupan manusia. Bisa jadi karena film itulah kata ‘kebun binatang’ terus menggentayangi pikiran saya.

Singkat cerita, saya pun terdorong untuk menonton satu film lagi yang memasang kata 'kebun binatang' di bagian judulnya. We Bought a Zoo pun menjadi pilihannya. Berbeda dengan Postcard From The Zoo yang alurnya absurd dan susah untuk diinterpretasikan, film We Bought a Zoo ini terasa begitu hangat. Sebuah drama keluarga yang sentimentil.

Sekiranya ada dua hal yang membuat film ini sudah terasa sentimentil sejak awal film. Pertama, narasi pembukanya diisi oleh seorang anak laki-laki yang berbicara tentang ayahnya dan pekerjaannya, penulis sekaligus petualang.  Bagi saya, jika seorang anak lelaki bisa menceritakan sisi inspiratif dari ayahnya maka relasi antara keduanya pasti  sangat harmonis. Dari nada ceritanya pun terasa benar kalau si anak telah melewati banyak pengalaman dengan ayahnya itu. Kedua,  pelan-pelan dentingan-dentingan piano sederhana sekaligus manis membuntuti narasi, tak lama nama Jonsi pun muncul sebagai penata musik. Ya, Jonsi yang terkenal dengan  musik-musik yang bisa membongkar paksa ruaang sentimen tiap manusia itu.

Benjamin Mee adalah ayah dari Dylan dan Rosie. Keluarga kecil ini tengah mengalami masa transisi. Enam bulan lalu, Katherine, sang ibu meninggal. Mereka bertiga seolah bersusah payah untuk menyesuaikan diri. Dylan, anak laki-lakinya yang sedang puber pun paling merasa terombang-ambing keadaan hidupnya. Sekolahnya jadi tidak beraturan, nilainya menurun, perilakuknya pun jadi tak terkendali. Dalam satu semester saja ia tiga kali di-scores. Sekolahnya pun mengeluarkannya karena ia kedapatan mencuri.

Tak jauh berbeda, pekerjaan Benjamin pun goyah. Media tempat ia bekerja tidak lagi memuat tulisannya di edisi cetaknya. Sebagai pengganti  Benjamin diberikan kolom khusus di situs onlinenya. Bukannya malah senang, Benjamin justru menolak mentah-mentah tawaran itu. Ia benci jika tulisannya dimuat di dunia maya yang pastinya akan menyedot lebih banyak pembaca dan pengiklan “I hate simpathy, I’m sick of simpathy” ungkapnya singkat. Sejurus kemudian, ia tegas memilih untuk mengundurkan diri dari media tersebut.

 Beruntung, Benjamin punya Rosie, gadis mungil berusia tujuh tahun yang selalu ceria. Rosie menjadi katarsis bagi Benjamin. Sebelum depresi dengan keadaannya, akhirnya Benjamin pun mencari cara untuk me-restart kehidupan keluarganya. Satu solusi besarnya adalah berpindah rumah!.

Sepertinya, karena hobi bertualangnya, Benjamin pun jadi terbiasa untuk memilih sesuatu yang ekstrem dan tidak biasa. Pun ia bisa membuat keputusan dengan sangat cepat. Dari sekian banyak rumah yang sudah ditawarkan oleh agen properti, akhirnya Benjamin jatuh hati dengan sebuah rumah besar yang terletak jauh dari pusat kota. Namun, tanpa disangka sebelumnya, ternyata rumah tersebut adalah bagian dari sebuah kebun binatang yang ditutup. Jadi, membeli rumah sama dengan membeli seluruh kebun binatang. Merasa kadung sudah jatuh hati ditambah dengan keharuan melihat Rosie yang sangat senang dengan lingkungan di sana akhirnya mereka pun memutuskan. “We bought a zoo!” teriak Rosie dengan senang hati.

Di awal cerita, Duncan, kakaknya Benjamin mengusulkan  agar Benjamin menjalin hubungan lagi dengan seorang wanita. Duncan pun kaget mengetahui bahwa  yang dilakukan Benjamin justru menjalin  hubungan dengan binatang. Seperti biasa, dengan santai, Benjamin pun menjawab bahwa ia ingin memberikan pengalaman hidup yang autentik kepada anak-anaknya. 


Ya, selain dianggap sebagai sebuah petualangan, hidup di kebun binatang adalah pengalaman yang autentik bagi Benjamin. Sebuah petualangan besar pun dimulai. Rosemoor Wildlife Park, kebun binatang yang saat itu hanya terlihat sebagai kandang besar pun mulai dibangun kembali oleh Benjamin dan seluruh tim pengurus kebun binatang yang dipimpin oleh Kelly. Benjamin memang tidak punya pengalaman soal mengurus binatang apalagi urusan manajerial kebun binatang, tapi ia seolah tidak menganggap sebagai sebuah perkara besar. Padahal Kelly pun sangat meragukan keputusannya itu. Menurut ceritanya, tiga pemilik sebelumnya selalu menyerah di tengah jalan. Tapi ketika Kelly menanyakan alasannya, Benjamin pun dengan enteng menjawab, “why not.”
Lain di mulut lain di hati, walau ungkapan itu terdengar main-main, seorang Benjamin tidak pernah bekerja setengah hati. Melainkan penuh totalitas. Ia mempelajari semua ihwal administrasi, mengurus binatang-binatangnya, ikut pengerjakan urusan pertukangan, dan pastinya menanggung seluruh biaya yang dikeluarkan.

Tentu, usaha mereka tidak berjalan dengan lancar. Belum lama mereka membenahi kebun binatang, Walter Ferris, inspektor kebun binatang datang  melakukan inspeksi mendadak. Dengan begitu detil ia menguji seluruh persyaratan yang harus di penuhi. Hasilnya, masih begitu banyak perbaikan dan perombakan yang harus dilakukan. Uang dalam jumlah banyak pun menjadi harga mati yang harus dipenuhi untuk melanjutkan pembangunan.

Relasi Ayah-Anak yang bikin iri
Jika dibandingkan dengan hubungan ayah-anak di keluarga saya, dan mungkin keluarga pada umumnya, rasanya Benjamin Mee adalah sosok ayah yang ideal. Ia bisa membangun hubungan yang begitu hangat dan akrab dengan kedua anaknya. Hilangnya ibu dalam keluarga, membuat Benjamin menjadi sentra keluarga.

Saya cukup iri melihat interaksi antara Benjamin dan Dylan. Mereka tak beda seperti dua orang sahabat yang bisa bercerita. Ekspresi kuasa Benjamin kepada Dylan tidak terasa begitu pekat. Saat kecewa dengan kacaunya sekolah Dylan pun ia tidak serta merta menghardik. Walau nada bicaranya tinggi, nilai intimasi masih terasa. Tidak ada kecenderungan untuk menghakimi atau merentang jarak.

Benjamin sepenuhnya mengerti dengan keadaan Dylan yang down akibat kematian ibunya. Lantas di tengah kerisauannya akan sketsa-sketsa buatan Dylan yang selalu bernuansa kelam dan horror, Benjamin seperti bisa menemukan cara untuk mengapresiasinya. Sketsa kepala macan yang dibuat Dylan pun diam-diam didaulat untuk menjadi logo kebun binatang. Kontan, Dylan pun merasa tersanjung. “I’m your fan, man,” ujar Benjamin kepada Dylan. Ahh, anak mana yang tidak girang mendengar orangtuanya menggemari karyanya. 

Scene ketika mereka berdua adu mulut di malam hari pun tidak kalah menyentuh. Setelah mencuri dengar curhatan Benjamin kepada Kelly tentang Dylan, Dylan pun mengungkapkan kekesalannya pada Benjamin. Ia kecewa dan sakit hati karena menganggap ayahnya membencinya. Penjelasan demi penjelasan diutarakan. Mereka saling bersautan. Nada bicaranya pun semakin meninggi.. Rasanya di antara scene lain, di sinilah Benjamin secara tegas mendeklarasikan kuasanya sebagai seorang ayah. Alih alih ungkapan yang mengutamakan emosi belaka, penjelasan-penjelasan Benjamin terasa begitu logis “I can force a dream on you. Because it’s a good dream (…) I’m your father, I’m the only one you’ve got and the line of people in this world who really care about you,”

Kehadiran Rosie dalam keluarga ini pun menjadi penawar dari perang dingin antara Benjamin dan Dylan. Anak bermuka bulat, berhidung pesek dan berambut sedikit ikal ini pasti menjadi attraksi untuk para penonton. Di tengah keluguannya itu, entah bagaimana, Rosie terasa seperti sudah mengerti banyak hal. Ia tidak banyak mengeluh bahkan celotehannya sangat berisi. Ah, pasti Benjamin dan Katherine punya trik khusus saat membesarkannya.

Memaksimalkan nyali, memaksakan keberanian
Keesokan hari setelah Benjamin dan Dylan adu mulut, justru Dylan lah yang menghampiri Benjamin. Mereka seolah sudah melewati kontemplasi panjang dan berhasil meluruskan kekusutan. Dylan bercerita tentang Lily - satu-satunya penghuni kebun binatang yang sebaya dengannya -  yang tiba-tiba menjauhinya. Padahal Dylan diam-diam menyimpan rasa kepadanya. 

Di sinilah akhirnya Benjamin mewariskan resep kunci kehidupannya. Ia berujar kepada Dylan, “Sometimes all you need is 20 seconds of insane courage. Just literally 20 seconds of embarrassing bravery. And I promise you, something great will come of it.”
Ya, pasti kita sering menghadapi sebuah keraguan atau ketakuktan yang luar biasa untuk melakukan sesuatu. Saat momen itu tiba yang kita butuhkan adalah memaksakan diri, memaksimalkan keberanian untuk  melakukan hal besar yang kita takuti. Tidak butuh waktu lama, hanya 20 detik, niscaya hal yang menakjubkan akan terjadi.
Pasti itulah yang dilakukan Benjamin ketika ia resign dari kantornya, memilih untuk membeli rumah berkebun binatang lalu memutuskan untuk memakai uang warisan dari istrinya senilai USD 84.000 untuk membangunnya. Terbukti, sebuah kepuasaan yang tak terhingga  karena sukses merampungkan kebun binatang itu menjadi berkah baginya.

Di akhir cerita pun, ia mengajak kedua anaknya ke restoran tempat ia pertama kali bertemu dengan istrinya. Ia memperagakan ulang hal yang dilakukan untuk berkenalan. Katherine dan Benjamin adalah dua orang asing saat itu. Benjamin terkesima dan jatuh hati pada pandangan pertama ketika melihat Katherine dari luar kaca. Rumus ‘twenty second of insane courage’ pun diterapkan. Ia nekat masuk ke dalam restoran dan menghampiri Katherine dan berkata

“Why would an amazing women like you even talk to someone like me?”
Sejurus kemudian lagu Gathering Stories gubahan Jonsi diputar seiring layar menghitam, seolah memberikan kita kesempatan untuk merenungi, menerjemahkan dan menyerap baik-baik makna yang disajikan tadi.


Oke, mari bicara sedikit fakta tentang film ini. Film adopsi kisah nyata dari buku berjudul sama karangan Benjamin Mee ini dibuat oleh sutradara Cameron Crowe. Sedikit perbandingan, menurut info, tidak semua yang diceritakan dalam film serupa dengan cerita aslinya. Di kenyataannya, kebun binatang itu bernama Dartmoor Zoological Park yang terletak di Devon, Inggris, sementara di film terletak di Amerika. Lalu Katherine, sang istri tidak justru meninggal setelah mereka pindah.  Lalu, jika di film hanya dibutuhkan negosiasi singkat untuk membeli kebun binatang itu, aslinya Benjamin Mee butuh waktu dua tahun

Ah, persetan lah dengan hal itu, yang penting film ini bisa dengan baik meninggalkan semangat positif dalam diri saya.

1 comment:

Indra said...

lu masih sempet nonton film ya ki,.gokil

Post a Comment