Thursday, April 5

Akademisi Desain untuk Semua


(ditulis untuk Nirmana Award, April 2012)

Jika desain itu dituntut untuk bisa memberikan solusi dan menghadirkan estetika di segala bidang, maka begitu jugalah para akademisinya, bukan hanya berorientasi pada industri semata. 

Satu hingga dua dekade lalu, mengeyam pendidikan desain adalah hal yang tabu. Tak jarang orangtua yang ragu tiap kali ada anaknya yang mengajukan desain sebagai jurusan tempat ia melanjutkan studinya di perguruan tinggi. Ada yang bilang masa depannya tidak jelas, ada yang mengira perkuliahannya yang lebih mengedepankan praktik daripada teori membuat anaknya turun derajat, tak jarang juga yang khawatir kalau anaknya jadi memiliki pemikiran yang nyeleneh selayaknya seniman.

Tapi sekarang keadaan pun berbalik. Jika pada dekade lalu Indonesia hanya memiliki sekitar lima perguruan tinggi yang menawarkan pendidikan desain. Kini jumlahnya pun berkembang drastis, pendidikan desain seolah menjadi program studi yang wajib dihadirkan seperti halnya Ekonomi, Hukum, Kedokteran atau pun Ilmu Komunikasi. 

“Tonggak kemunculan pendidikan desain itu adalah orde baru. Saat itu pembangunankan sangat digalakkan, industri pun makin berkembang. Kebutuhan desain grafis pun mulai dirasakan. Negara ini butuh desainer,” jelas Arief Adityawan, atau akrab disapa Adit, dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual, Universitas Tarumanegara sekaligus penggagas gerakan Grafis Sosial. 

Sejalan dengan pendapat Adit, menurut catatan Concept di tahun 2006 saja Dikti mencatat ada 48 institusi yang menawarkan pendidikan Desain Komunikasi Visual di berbagai strata. Lalu, jika diestimasikan, jumlah mahasiswa DKV di seluruh Indonesia saat itu adalah 20.000 orang. Fantastis!

Walau belum ada data riil tentang keadaannya terbaru, tapi kita bisa melihatnya secara kasat mata. Kini, kebutuhan akan pendidikan Desain Grafis pun tak hanya dirasakan oleh Perguruan Tinggi, sejumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pun banyak yang mengkhususkan diri atau sekedar membuka jurusan teknik grafika bahkan animasi. Beberapa nama diantaranya adalah SMKN 11 Surabaya, SMK Tunas Harapan Pati, SMKN 2 Jepara, dan SMK Bina Informatika Tangerang. 

Menjamurnya institusi swasta yang menawarkan kursus desain dan animasi pun tak bisa lepas dari hitungan. Dari yang sekedar kursus software grafis tertentu hingga yang menawarkan program satu tahun fokus mempelajari bidang desain bermunculan seiring kesadaran masyarakat akan desain berkembang. 

Seperti yang sudah disebutkan Adit di awal, pendidikan desain itu muncul karena adanya kebutuhan industri akan tenaga desain. Jika kita lihat, industri kreatif di Indonesia beberapa tahun belakangan ini memang sedang naik daun. Sejumlah biro desain, biro iklan, atau pun konsultan komunikasi tiba-tiba menjamur. Jalanan Jakarta pun kini nyaris tak ada yang tidak dihiasi baliho raksasa berisi iklan visual. 

Sejalan dengan itu, pemerintah pun makin mengedepankan kreatifitas dalam praktik ekonomi lokal, hingga istilah ekonomi kreatif pun menjadi akrab di telinga kita, apalagi belum lama ini istilah itu dilembagakan dengan adanya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Karena prospek masuk industri yang terbuka luas, seketika Desain pun menjadi jurusan favorit di berbagai universitas. Peminatnya melonjak. Lalu, dari sekian rupa jurusan desain, Desain Komunikasi Visual atau Desain Grafis ialah yang paling mendulang banyak peminat. 

Mendidik Pendidikan Indonesia 

Namun, keadaan seperti ini tidak serta merta disebut sebagai sebuah perkembangan positif. Jika dilihat dari kuantitas institusi serta industrinya, ini adalah sebuah kabar baik untuk ekosistem para akademisi dan pelaku desain. Tapi jika menilik kualitas kurikulumnya, pendidikan di Indonesia itu seolah sedang heboh mencari jatidiri. 

Mengenai hal ini Adit pun berpendapat kalau keberadaan industri ternyata membuat para pelajar desain terlalu berorientasi pada pasar dan ranah komersial. Hasilnya, acuan kesuksesan para pelajar itu pun hanya mengarah ke perusahaan-perusahaan kreatif skala besar “Banyak mahasiswa desain yang cita-citanya seperti sudah disetting, harus di biro iklan atau biro desain yang kalau bisa skalanya sudah multinasional,” ungkap Adit. 

Walau pun orientasi tersebut tidak sepenuhnya salah namun Adit menyatakan bahwa perlu adanya keseimbangan antara orientasi industri dan orientasi sosial. Satu alasan besarnya adalah karena desain itu sendiri harus bisa menyelesaikan masalah dan menciptakan fungsi baru di mana pun itu.  “Desain itu kan universal, jadi harus bisa dibuktikan dengan pendekatan sosial juga. Untuk itu, ada baiknya kalau tiap mahasiswa atau pelaku desain itu mendekati lingkungan sekitarnya untuk mengangkat nilai-nilai yang dimiliki di lingkup lokal hingga menjadi suatu fungsi. Itulah yang sebenarnya dibutuhkan Indonesia,” jelas Adit. 

Adit pun berharap jika mahasiswa desain melakukan suatu pengabdian pada masyarakat entah itu di daerah mau pun di perkotaan “Akan menarik kalau mahasiswa itu mendatangi daerah tertentu, melihat potensi yang dimiliki, lalu menciptakan solusi dan fungsi dengan mengangkat nilai-nilai lokal yang ada. Hal ini pasti akan mengurangi orientasi barat yang banyak mempengaruhi. Dari situ, karakter desain yang Indonesia pun bisa ditemukan. ” Ya, dengan begitu pun semangat ekonomi kreatif akan meningkat, tidak hanya di kalangan akademis saja tetapi masyarakat luas.  

Magno Radio, sebuah produk radio yang disusun dari kayu pun dijadikan contoh oleh Adit. Menurutnya, ide membuat radio yang digagas oleh Singgih S. Kartono itu dibuat dengan pendekatan Sosial. Singgih mencipta produk dari kayu yang banyak diproduksi oleh lingkungan sekitarnya. Jika sebelumnya para penabang kayu dilingkungan hanya menjual kayunya dalam bentuk lembaran, Singgih menambahkan nilai estetika dan fungsi padanya sehingga terciptalah Radio unik yang memiliki daya jual tinggi “Kalau sebelumnya kayu lembaran itu cuma bisa menghasilkan uang untuk makan sehari, dengan diubah menjadi radio, kayu itu bisa menghasilkan uang untuk makan sebulan kan,” ungkap Adit. 

Perlunya Menumbuhkan Hasrat Desain Sejak dini

Tentunya hal tersebut bisa dicapai jika tiap institusi pendidikan desain siap untuk merubah sistem serta kurikulum. Selain pendekatan praktik dan teknik, tiap akademisi pun harus dimodali dengan pemahaman tentang teori dan lebih penting lagi, etika desain “Ya, etika desain itu lah yang akan menumbuhkan kesadaran bahwa desain harus punya impact ke masyarakat luas bukan hanya industri,’ tegas Adit 

Melihat keadaan sekarang pun Adit menyatakan kalau mahasiswa hanya diajarkan untuk lebih mengedepankan teknik dan estetika semata “Kita itu dididik supaya rapih, bisa menciptakan apa yang diperintahkan. Hasillnya ya kita nantinya kita cuma bisa jadi anak buah.”

Pendidikan desain terutama seni di Indonesia, menurut Adit, seperti masih setengah hati, apalagi kalau melihat realita di pendidikan sebelum perguruan tinggi “Coba pikirkan, walau semenjak SD kita dapat pelajaran Senirupa tapi materi yang disampaikan hanya seadanya. Teknik gambar yang diajarkan pun hanya sebatas menggambar pemandangan, membuat motif batik dan sekitarny. Kita baru bisa akrab dengan desain dan seni itu ya saat kuliah. Selera, rasa serta hasrat para pelajar terhadap desain pun tidak dilatih sejak dini. Itu lah mengapa orientasi kita saat masuk perguruan tinggi desain pun jadi cenderung industrialis,” jelas Adit panjang-lebar. 

Di ranah perguruan tinggi pun Adit menaruh harapan agar kurikulum pendidikan desain itu bisa lebih meluas dan tidak terlalu fokus mengkaji soal desain itu sendiri “Baiknya, mahasiswa itu dilatih untuk berpikir lintas disiplin, aplikasinya bisa dalam bentuk pengaadaan mata kuliah psikologi persepsi, sosiologi desain, atau sekalian diperbolehkan untuk mengambil mata kuliah di fakultas lain,” ujar Adit. 

Berdasarkan penyataan-pernyataan tersebut di atas sudah saatnya kita pun merubah persepsi serta motivasi kita ketika akan memilih pendidikan desain. Tak hanya prospek karier komersialnya yang perlu kita perhitungkan, melainkan juga pertimbangan kontribusi apa yang bisa kita berikan kepada lingkungan dengan pendidikan desain yang kita punya nanti. 

Jika langkah besar itu bisa kita ambil, karakter serta jatidiri desain di Indonesia pun dengan mudah dicapai dan dikembangkan, bukan malah terus berkiblat pada industri negara-negara maju. 

No comments:

Post a Comment