Sunday, December 11

Ironi Kondisi Pangan di Tanah Surga.

Far Magazine edisi 16, Desember 2011


Di tahun 70-an Koes Plus menciptakan lagu Kolam Susu. Sebuah lagu manis yang bercerita tentang kemakmuran Tanah Air Indonesia. “Orang bilang tanah kita tanah Surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman,” begitulah salah satu bait liriknya. Kini, 30 tahun setelahnya, saya mendengarkan lagu itu. Masih manis terdengar memang, namun, jika bait-bait liriknya  saya hubungkan dengan situasi sekarang kok seperti ada yang mengganjal. Sebutan sebagai negara agraris sepertinya belum lepas dari Indonesia, tapi mengapa isu-isu tentang kelaparan, kekurangan gizi dan kemiskin selalu ramai menjadi berita?

Ketika saya menuliskan ini, belum genap sebulan kita menyudahi bulan Ramadhan. Tak ayal jika nuansa serta memorinya masih lengket hinggap di kesaharian kita. Isu kuliner seolah menjadi selebritis yang kerap dibicarakandi bulan yang katanya penuh berkah itu. Dari mulai makanan sahur, kolak untuk buka puasa, sirup rasa buah, kue lebaran, opor ayam, hingga beras untuk zakat kerap bulak-balik dalam pikiran. Sejumlah ritual makan bersama pun tidak pernah luput mewarnai gaya hidup kita masyarakat perkotaan. Makanan menjadi medium untuk kita berkumpul mengatasnamakan silaturahmi. Buka puasa bersama di restoran mewah, acara sahur on the road, hingga open house  saat lebaran. 


Sayangnya, kemewahan makanan selama perayaan bulan puasa hanya menjadi milik kaum berada saja, tidak bagi kaum bawah. Mengenai hal ini, ada satu memori yang melekat di benak saya yaitu berita mengenai acara bagi-bagi zakat - baik berupa uang tunai atau sembako - dari hartawan kepada masyarakat. Berbondong-bondong masyarakat kelas bawah pun datang. Jumlahnya tak tanggung-tanggung, bisa sampai ribuan. Karena pengaturan yang kurang baik membuat kondisi tidak terkontrol, tak jarang akhirnya acara itu berakhir ricuh, bahkan ada yang sampai memakan korban. Alih-alih bagi-bagi berkah kegiatan ini malah membawa mala petaka.


Sedihnya lagi, berita ricuh di acara bagi-bagi zakat masih belum seberapa. Hati saya pun masih terasa ngilu kalau mengingat berita di Poskota beberapa waktu lalu. Di sebuah daerah ada anak yang hanya diberi makan nasi berlauk kerupuk. Awal September lalu pun, situs-situs berita gencar memberitakan bencana kelaparan yang menimpa warga NTT. Peristiwa-peristiwa ini secara tegas menujukkan bahwa kondisi pangan di Indonesia masih tidak merata.

Desa Sejahtera, salah satu LSM yang fokus mengaji persoalan pangan, melansir data dari FAO. Menurut data tersebut, saat ini ada 1.000.000.000 orang tidur dengan perut lapar. Masyarakat miskin di pedesaan, di perkotaan dan para korban bencana adalah kelompok terbesar yang menderita. Sebagian besar kaum miskin itu tinggal di pedesaan di negara-negara berkembang. Di Indonesia sendiri krisis pangan ini melanda lebih kurang 65,34 juta penduduk. Menyedihkan.

Lalu apa yang harus kita lakukan?

Untuk menjawab pertanyaan ini, Bapak Tejo Wahyu Jatmiko, Koordinator Aliansi untuk Desa Sejahtera, menyebutkan beberapa hal. Pertama, kita harus bisa merubah pola konsumsi kita. Jangan terlalu tergantung pada beras untuk makanan pokok. “Kita harus bisa lepas dari doktrin bukan manusia kalau nggak makan beras. Dengan pola konsumsi seperti itu berdampak pada petani lokal melainkan yang lebih global,” Ungkap Pak Tejo.

“Tingkat konsumsi beras di Indonesia itu 139kg perorang tiap tahunnya. Tertinggi ketiga di dunia. Padahal tidak semua daerah bisa menghasilkan beras,” Tambahnya. Oleh karena itu, kita harus bisa mencoba makanan karbohidrat lainnya seperti singkong, jagung atau pun gandum.

Gaya hidup konsumtifkita sebagai masyarakat urban pun patut menjadi sorotan juga dalam persoalan ini. Pasalnya, kita kerap memandang makanan bukan lagi sekedar dilihat dari fungsi biologisnya. Makanan menjadi medium untuk bersenang-senang. Makanan ialah gaya hidup. Perilaku konsumtif yang kerap melekat pun membuat selalu membeli sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Jadilah, makanan-makanan yang terbuang pun semakin banyak.

Hal ini terbukti dari penelitian yang dilakukan FAO menunjukkan bahwa sekitar sepertiga dari seluruh makanan yang diproduksi untuk manusia terbuang. Pola makan yang konsumtif ini sudah seharusnya dikurangi, Pak Tejo pun mengatakan bahwa jika dikonsumsi secukupnya kelebihan pangan itu bisa menanggung tiga milyar orang yang kekurangan pangan.

Perilaku konstumtif itu pun menjadi salah satu alasan mengapa Indonesia yang subur ini masih saja harus impor bahan pangan. Angka impor negeri kita sangat tinggi, loh. Dari mulai beras, kedelai, garam. Tiap tahunnya kita mengimpor 11,33 juta ton bahan makanan.Sementara nilai ekspornya kalah jauh.

Pak Tejo mengatakan, salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk mengurangi angka impor ini adalah mengubah cara pikir kita terhadap makanan impor “Mindset bahwa pangan impor jauh lebih bagus, lebih sehat dan lebih berkelas itu harus dibuang.” Ujarnya.

Aksi-aksi ini pun masih belum cukup. Peran pemerintah juga perlu digalakkan lagi untuk memperhatikan kesejahteraan para penghasil pangan (petani, nelayan dan peternak). “Indonesia itu kan negara pertanian tapi kesejahteraan petaninya kurang perhatian. Saat butuh pupuk persediannyatidak ada. Petani indonesia pun cuma punya lahan 0,3 hektar. Tidak cukup untuk menghidupi mereka. Selain itu Alih fungsi lahan, dari lahan pertanian ke lahan perumahan pun semakin cepat,” keluh Pak Tejo. Jika hal-hal itu tidak diperhatikan pemerinta, kita tidak mungkin mencetak bahan pangan baru.

Nah, setelah mengetahui fakta-fakta mengenai persoalan pangan ini, mari kita berintropeksi. Tidak perlu saling tuding-menuding. Pelajari seluk-beluk mengenai bahan pangan alternatif serta cara pengembangannya. Dengan begitu kita tidak akan  menjadi bangsa yang kaya namun tidak tahu apa saja kekayaannya. Kesejahteraan yang merata pun bukan lagi menjadi mimpi. 

No comments:

Post a Comment