Friday, October 21

Idola





Halah, sampe bingung gini mau mulai ceritanya dari mana. Pokoknya ini lah dia, tokoh fotografi Indonesia idola saya, Firman Ichsan. Dia adalah penulis dan pegiat kajian fotografi serta kurator foto. Kini beliau menjabat sebagai ketua Dewan Kesenian Jakarta. Tadi saya bertemu dengan dia di Galeri Salihara dalam acara pembukaan sekaligus launching buku Indonesia: A Suprise. 

Walau nggak banyak, saya cukup senang baca tulisan dia yang tentang fotografi, dari mulai artikel atau esai sampai catatan kuratorial atau kata pengantar buku fotografi. Bahasa yang digunakan ramah dan tidak ngejelimet.  Pun kajiannya selalu kaya dan edukatif

Singkat cerita, saya nekat minta tolong teman untuk memfoto saya dan dia. Saya menyalami tangannya, sambil menyapa "Permisi Pak, saya boleh foto bareng nggak, saya suka baca tulisan-tulisan Bapak," Sebenernya prosesi foto itu saya jadikan sebagai teaser aja. Intinya mah saya mau coba ngobrol-ngobrol sama dia.


Dan, kalimat pembuka yang saya lontarkan sepertinya tepat adanya. Saya mempertanyakan gagasan yang ia sampaikan saat tadi membuka pameran. 

"Pak, mau tanya dong. tadi kan bapak bilang kalau fotografi Indonesia itu butuh pewacanaan yang baru, yang lebih kritis dan progresif, nah itu seperti apa sih...."

Sumpah itu adalah satu-satunya pertanyaan, sekaligus kalimat terpanjang yang ucapkan selama percakapan berlangsung. Beliau pun menjawab panjaang lebar. Cerita-cerita serta gagasan lain seputar budaya dan  sejarah fotografi, literasi visual, hingga konteks sosial politik masyarakat Indonesia mengalir darinya. 
Dan saya pun gelagapan. Arah pembicaraannya semakin tinggi dan susah dijangkau. Saya cuma bisa merespon seadanya. sekedar "Oh iya juga yah, bener Pak, bener!" .
Untungnya dia orangnya ramah banget dan (mungkin) ngerti kalau lawan bicaranya ini tidak mungkin ikut menimpali pernyataannya. Haha. 

Tapi sialnya, si lawan bicaranya ini (baca: saya) ngerasa pengen bisa menimpali dan berdiskusi banyak. Sayang sekali, ilmunya belum banyak. Jadi si saya cuma bisa malu dan menyesali kehidupan fotografinya. Saya langsung ngerasa gatel untuk membaca buku-buku teori fotografi yang saya sudah punya tapi belum sempet dibaca. Padahal ada yang belinya sampe mesen ke luar negeri. memalukan!

Pokoknya, suatu someday nanti gua harus bisa secerdas atau bahkan lebih cerdas dari Firman Ichsan ini, khususnya dalam kajian fotografi. Dan gua harus bisa sekonsisten dia dalam mengkaji fotografi dan seni.

Di pertemuan pertama boleh deh gue gelagapan, tapi liat nanti di pertemuan (semoga sebagai interview) berikutnya. kita kupas tuntas kajian-kajian seru soal fotografi Indonesia. Huh Hah!





2 comments:

Sundea said...

You will, Ki, long way to go and you've started with something =)

terlalurisky said...

haha. Iya, De. i've starting this long journey. Sayang aja, amunisi mood gua selalu habis mendadak.

Thanks supprotnya..

Post a Comment