Wednesday, August 3

Permohonan Maaf Untuk Bottlesmoker

Rasanya saya patut sungkem minta ampun sama Indonesia. Pasalnya, setelah sekian lama hidup di sini, banyak karya-karya keren besutan orang indonesia yang baru saya tau. Setelah minggu kemaren saya baru terpesona sama novel  pertama dari tetralogi buruh yang legendaris itu, Boemi Manusia, minggu ini saya dibuat kagum sama duo Angkuy- Nobie di Bottlesmoker.

Berawal dari melihat begitu banyaknya orang yang share info konser tunggalnya via Twitter, saya jadi teringat akan seorang kawan yang menempel stiker Bottlesmoker di laptopnya. Katanya dia suka banget sama Bottlesmoker.

Tidak memakai kelamaan (haha, nggak enak gini ‘nggak pake lama’ ditulis dengan baku), saya pun menelusuri internet, mencari-cari hal yang bisa saya dengar untuk referensi. Lagu Slow-Mo Smile adalah lagu pertama, berputar dengan manisnya di Youtube, garis merah petanda laju streaming yang menari lambat saat itu tidak jadi soal, malah terlihat jadi memukau. Ah, ini lagu saya sekali. Nge-beat tapi slow. Fun!



Tidak lah cukup satu lagu, wahai Nyai. Saya pun berkeliling lagi. Ternyata, Cukup mudah mendapatkanya, karena memang benar adanya, mereka menggratiskan semua album mereka. Kita nggak perlu merasa menjadi seorang kriminil dengan mengunduh lagu-lagunya dari Internet.

Lagu Frozen dan Before Circus Over adalah dua  lagu pertama saya dapatkan. Tak menunggu lama, speaker saya nyalakan, dan tombol play ditekan. Sejurus kemudian, saya 'terbang'. U yeah. Lagu yang hanya diisi instrumen, tanpa vokal ini diwarnai oleh bunyi-bunyi digitulit yang khas. Musik lo fi yang mereka usung menghadirkan nuansa yang beda-beda. Dari yang mendung hingga yang bikin cerah hati. Bermodal dua lagu itu lah saya jadi semangat jemput ibu naik mobil. Selama perjalanan tak henti-hentinya lagu mengalir dari memory handphone ke speaker mobil, menimbulkan suara. uhh. Tak apalah jalanan macet, asal hati tidak.

    Sesekali saya berkeluh, bagaimana mungkin musik seperti ini baru saya temukan, padahal nama Bottlesmoker sudah sering berlalu lalang di mata saya. di Majalah, di poster-poster acara musik, di Internet. Aneh kamu Rizki, batin saya. Padahal juga, lagu semacam ini sudah saya suka. musik-musik instrumen tanpa vokal yang katanya biasa disebut musik ambience. Yasudahlah, yang penting sekarang saya sudah tahu.

Saya pun memutuskan untuk datang ke konser mereka yang digelar di Bandung itu. Kebetulan saya memang ingin berkunjung ke Jatinangor. Padahal saya suda siap kalau-kalau saya harus sendirian nontonnya, tapi ternyata keadaan berkata lain, ada dua orang kawan yang ternyata tertarik datang ke sana juga. Hore!!

Singkat cerita, di Kamis malam terakhir milik bulan Juli (28/07), beradalah saya di situ, di antara kerumunan anak-anak muda penuh gaya yang sudah barang pasti tahu Bottlesmoker sedari lama, nggak kayak saya yang baru kenal satu hari. Konser tersebut diberi nama Theater of Mind. Memang benar adanya, kawan. Kami disuguhkan oleh musik-musik yang kontemplatif. Musik yang mengajak untuk menyelami diri kita. Memanggil ulang kenangan atau mengundang khayalan. Dan kalian pasti tahu dong memori macam apa yang terus-terus minta dipanggil oleh saya. Hehe...

Suguhan pertama yang disajikan adalah sebuah suasana menenangkan hasil dari harmonisasi dua gitar klasik, suara merdu wanita, keyboard, dan dentuman drum dari Teman Sebangku. Alamak, musik mereka benar-benar aduhai. Menyesal saya nggak beli CD album mereka di sana.

Selanjutnya, suara pilok di kocok, plastik diremas, bebunyian suling,  dan suara-suara absurd lainnya menjadi lagu pembuka Pemandangan. Setelah itu gitar kopong mengiringi lagu-lagu berikutnya . Tidak banyak lagu yang dibawakan oleh kedua band pembuka, namun cukup menjadi pengantar yang tepat untuk tampilan utama, Bottlesmoker.
    
Tepat pukul 20.00 Angkuy dan Nobie naik panggung, tanpa basa-basi lagi mereka langsung menggeber  lagu pembuka. Bebunyian yang tak lazim namun harmonis yang dihasilkan dari perangkat yang entah apalah itu mengisi kuping.  Seketika itulah penonton terhipnotis untuk sama-sama menunaikan ritual 'terbang'.  

Secara garis besar, tampilan Bottlesmoker ini dibagi menjadi dua sesi.  Sesi pertama diisi oleh lagu-lagu yang cenderung 'rendah' dan melankolis. Setelah satu jam tampil, Bottlesmoker turun panggung untuk berganti kostum. Angkuy dan Nobie mengenakan tudung kepala binatang andalan mereka. Di sesi kedua ini lagu yang cenderung up beat banyak dimainkan, seperti Before Circus Over, Free Hugs, dan Love Saturday

Suasana kontemplatif namun playfull  sekaligus ditampilkan tak hanya lewat musik, melainkan juga dari sajian visual yang dihadirkan, set panggung ditata begitu rapihnya dilengkapi dengan sejumlah ornamen yang ditempeli pada instrumen-instrumen musik. Gambar bergerak yang terpencar ke layar belakang panggung pun harmonis dengan musik-musiknya. Di tengah-tengah pertunjukkan kami pun dihujani oleh serpihan-seprihan kertas putih dan balon sabun. Kontan kami sumringah.

Kejutan tak berhenti di situ, di satu jam terakhir, sekumpulan anak-anak kecil berkerudung naik panggung. Mereka berbaris rapih di bagian belakang panggung, dan dengan lucunya, mereka mengisi vokal yang sedari tadi kosong. Ahh. Unyu..

Tak ada yang kurang dari konser ini kecuali penontonnya. Kontras dengan sajiannya yang sangat playfull dan aksi panggung Angkuy-Nobie yang sangat atraktif, suasana penonton justru sedikit terasa statis. Jarang  terlihat tubuh yang bergoyang merespon musik. Padahal lagu-lagu yang up beat disajikan juga di sesi kedua. Malah, banyak anak muda yang sibuk memotret dengan kamera DSLR mereka. Aksi mereka ini sudah pasti menghalangi pandangan penonton lain dibelakangnya.

Ketika jam penunjukkan angka 10, Bottlesmoker mulai pelan-pelan mengakhiri konser mereka. Lagu Le Voyage didaulat menjadi lagu terakhir mereka. Puluhan balon pink yang sudah menggelantung di atas venue sejak awal dilepas ikatannya membangunkan para penonton yang pada terhipnotis itu.

Tanpa pikir panjang, saya pun langsung menuliskan laporan mengenai konser ini untuk kemudian di masukkan ke majalah tempat saya sedang di uji coba. Tapi sayang, ekspresi saya harus dibatasi 250 kata saja sama redaktur. Jadilah saya hanya bisa memuatnya di halaman blog ini.

Terima kasih Bottlesmoker dan Maicih untuk pertunjukkannya. Sekali lagi saya mohon maaf sebesar-besarnya dan mohon toge yang sekecil-kecilnya karena baru tau kekerenan kalian. hahah. Semoga tidak ada dari kalian yang membaca tulisan ini mengulangi kesalahan saya. Buruan download dan dengarkan! 




3 comments:

S.BAJA HITAM said...

Gw br skali ntn mereka, tp sayang lagu2nya kurang berkesan. lagu yang paling wajib dengar menurut lu yg mana ki?

terlalurisky said...

dua lagu ndra yang paling berkesan. yang FROZEN sama yang Before Circus Over.. coba denger deh. .

das said...

haha gapapa kok mereka pemaaf, ka angkuy mah asik malah seneng sama yg baru tau lgs dateng ngonser, tapi gue lebih nge fans sama director mv nya deh asli

Post a Comment