Monday, July 4

Mari belajar hidup tanpa rencana!

Pagi tadi saya membaca sebuah artikel mengenai Benyamin Sueb. Artikel tersebut mengulas secara singkat profil dan perjalanan karirnya di jagat kesenian betawi. Ada kutipan yang menarik dari cerita bang Ben disitu. Konon, saat ditanya mengenai apa cita-citanya saat hidup dia menjawab “tergantung kondisi,”. Hmm, membaca tulisan itu mengingatkan saya pada perenungan yang saya lahirkan tiap kali banyak cita-cita saya yang selalu bentrok dengan situasi, tidak sejalan dengan realita. Perenungan saya menghasilkan sebuah pemikiran yang berbau tantangan yaitu untuk hidup tanpa rencana.

Pernyataan ini berdasarkan berbagai macam pengalaman yang saya alami. Mulai dari hal yang remeh hingga yang besar, terlalu berrencana itu tidak baik. Merencanakan liburan misalnya, ini adalah polemik yang kerap terjadi. Berkali-kali saya dan teman saya membuat rencana berlibur. Kita sudah survey tempat menginap, rute dan waktu perjalanan, serta hal-hal yang bisa dilakukan. Tanggal juga sudah ditetapkan. Dua tiga bulan ke depan biasanya.  Tapi saat tanggal mulai mendekat selalu timbul pertanyaan. “Jadi nggak nih?” lalu dijawab “Hm, tau deh, kayaknya jangan sekarang deh. Gue harus ini. Harus itu". Yak, rencana gagal.

Saya pun berkesimpulan bahwa liburan yang spontan itu pasti lebih uhuy. Tidak mesti dadakan banget, sih. Intinya, jangan berrencana dari jauh hari. Ajak temen liburan. Tentukan tujuan. Besok pagi berangkat. Waktu pulang ditentukan kemudian. hal-hal yang mengejutkan pasti banyak ditemukan diperjalanan. Dan pastinya akan lebih gemas untuk diceritakan.

Begitu juga dengan urusan bekerja (bisa juga disebut berkarya, karena sebenarnya saya belum bekerja. Kata karya itu lebih terdengar bekerja untuk kebutuhan personal bukan). Ketika saya berrencana, maka saya justru jadi cenderung untuk menunda-nunda. Tahu kah kamu, saya sudah berrencana bikin tulisan ini dari awal tahun 2011. Sedari awal 2011 itu, saya hanya berkonsep, brainstrom dengan diri saya sendiri, dan tulisan ini seharusnya menjadi notulensi hasil brainstroming ituh. Pada akhirnya, saya baru tertarik untuk memulai dan menyelesaikannya sekarang ini, 3 Juli 2011. Menyedihkan. Dan saat ini, saat sebelum akhirnya saya menulis ini, saya tidak berrencana untuk menulis.

Ketika mengendarai motor sendiri, ketika di angkutan umum, atau  ketika jadi makmum di solat berjamaah, saya kerap kali mendapat inspirasi untuk membuat atau melalukan sesuatu. Saya rapat dengan diri sendiri. Saya mencipta sebuah konsep. Matang. Hasil akhir dari rapat tersebut adalah bahwa konsep tersebut sangat keren bila bisa dilakukan/dibuat. Step by step yang harus dilakukan juga sudah dirumuskan dalam sebuah cetak biru ‘rencana’. Satu hari, dua hari, akhirnya rencana itu dimakan oleh realitas sehari-hari: urusan-urusan mendadak, disuruh mamah ini-itu,  mood, terjebak di dunia sosial  dll.

Bagaimana dengan cita-cita? hmm. cita-cita itu juga rencana. Rencana besar. Lebih dekat artinya dengan mimpi. Nyaris abstrak. Tinggi. Biasanya adalah jangka panjang. Berhubungan dengan keprofesian dan tujuan besar hidup. 

Kalau di pikir-pikir, sedari kecil kita dituntut untuk bisa menjawab pertanyaan mengenai cita-cita. Kalau tidak bisa jawab, pasti kita dianggap sebagai anak yang hopeless. “Masa nggak punya cita-cita?! Payah ah” kira-kira begitu bunyi seorang dewasa ke anak kecil.  begitu juga orangtuanya, pasti dianggap tidak pernah memotivasi si anak. Hasilnya, kita diajari untuk bisa menjawab. Sederetan nama profesi yang umum pun dijejali. Dokter, ABRI, Pilot, Insinyur, dan profesi-profesi superior hasil konstruksi sosial lainnya.  Dan rasanya tabu sekali jika ada anak yang dilatih untuk menjawab profesi-profesi seperti seniman, fotografer,  penulis, penari, supir, wartawan, sebagai cita-cita, kecuali jika bapak atau ibu kita memiliki profesi tersebut. Namun, coba lihat ketika kita dewasa, jarang rasanya yang benar-benar jadi seperti apa yang dicita-citakan saat kecil itu.

Dulu saya sangat suka dengan dunia  periklanan. Saya senang memperhatikan iklan-iklan dari berbagai produk. Saya menganggap itu sebagai sebuah kreatifitas untuk menarik perhatian massa terhadap produk. Dan saya, saat itu, berencana menjadi seorang aktivis periklanan! Sebuah tekad kuat mengenai rencana hidup setelah lulus kuliah. Tiap ada orang yang bertanya, saya tegas menjawab, saya mau jadi Orang iklan!. Sebuah harga mati.

Tapi kini, saat ini, tahun 2011 ini, saya justru  selalu resah tiap melihat iklan. Walau pun durasinya pendek. Porsinya sedikit. Iklan punya pengaruh yang kuat dalam membentuk budaya manusia. Sajian visual yang (sebenarnya) lembut tapi menyembunyikan taring yang ganas. Penuh konspirasi. Saya pun berpikir dua-tiga-puluhan kali untuk bekerja di periklanan. Tanggung jawabnya besar.

Sedari kuliah saya (masih sampai saat tulisan ini dibuat) berrencana untuk tidak pernah mau menerima kerja kantoran yang mengharuskan saya memakai sepatu vantopel, kemeja rapih, dan celana bahan. Saya mau pake bebas. Saya mau kerjaan yang tidak kaku. Saya nggak mau kerja di perusahaan besar. Apalagi jadi PNS. Saya mau kerja di LSM, atau majalah-majalah yang sedang berkembang, jadi penulis.

Tapi sekarang, dua bulan setelah saya lulus. Dua bulan saya luntang-lantung. Diomongin sama orangtua. Saya jadi berpikir untuk kerja kantoran. Jadi PNS. Kerja santai, gajinya tetap. Pun besar. Sebulan 3-4 juta. Dapet berbagai tunjangan. Saya bisa cepet kaya. Semua gadget impian bisa dibeli. Semua tujuan wisata bisa dicapai. Bisa nraktir pacar di tempat enak. Bisa belanja-belanja bareng. Bisa bantu bayar tagihan listrik atau internet. Bisa ngasih jajan Adik.  Saya jadi memikirkan ulang rencana (baca: idealisme saya).

Hidup tanpa rencana. Ini  bukan sebuah ungkapan pesimis juga bukan ungkapan seseorang yang tidak memiliki gairah hidup. Menurut  saya, ini adalah sebuah ungkapan keberanian. Keberanian untuk menghadapi realita. Daripada bercita-cita lebih baik menetapkan diri pada pilihan. bersahabat dengan perubahan. Karena ternyata banyak hal-hal yang tidak terduga tiba-tiba terjadi. Tiba-tiba ada tawaran kerja, ada ajakan kerja di Jogja, tiba-tiba dapet kesemptan pelatihan gratis. Semua terus berubah.

Saya, mungkin juga kita, harus belajar percaya bahwa hidup ini tidak mungkin statis. Monoton.  Kita tidak mungkin berada dalam situasi yang sama terus-menerus. Lakukan apa yang kita ada di pikiran kita saat ini. Segala ide dan gagasan jangan dimasukkan ke daftar rencana tetapi ke daftar yang harus dilakukan. Fokus pada satu hal. Lakukan secara intens dan serius. Sepertinya itu akan jauh lebih menarik daripada susah-susah berrencana ujung-ujungnya di nggak jadi. Menyedihkan. Juga memalukan.

Jika rencana boleh diartikan sebagai pengandaian dan berrencana adalah berandai-andai maka saya akan belajar untuk berrencana setelah saya sudah mulai melakukan. Cetak biru saya buat setelah saya sepakat. Bukan malah membuat cetak biru dulu padahal ‘proyek’nya belum jelas.



Hidup itu seperti berbelanja, tidak semua yang kita butuhkan itu adalah apa yang kita inginkan. Bersiaplah

2 comments:

smile bear said...

ahahaha...
saya suka ide ini. soalny saya juga sedang menjalani hidup yang namanya tanpa cita2. jadi, kalau ada orang yang bertanya apa cita2 saya, sekarang saya menjawab "cita2 ku -membantu mewujudkan cita2 orang lain-". emang aq memikirkan hal ini krna banyak melihat yang itu tadi, klw terlalu direncanakan hidup ne, banyak yang gagal, n banyak kecewa jadinya...
:D

ridho said...

Artikelnya bagus :)
hanya sekedar opini saja dari saya sih mungkin itu dari pengalaman anda yg sudah sangat banyak.
namun setiap peribadi masing" orang berbeda jadi untuk rebih realistis itu adalah membuat suatu rencana itu lebih baik :) masa kalo buat projek kerja asal jadi ga ada rencana kan ga lucu hehe
sekedar shere aja :)

Post a Comment