Wednesday, March 9

Ode Buat Kota by Bangkutaman - Pujian Satire Untuk Jakarta

09032011913_800_600
Jakarta, ibukota yang hiruk-pikuk dan lagi norak-noraknya berkembang ini memang selalu meninggalkan kesan tersendiri bagi setiap warganya, tak terkecuali bagi Bangkutaman, yang baru saja datang kembali ke Jakarta setelah lama tinggal di kota seasri Jogja.

Melalui album Ode Buat Kota ini, Bangkutaman menumpahkan segala perasaan serta pemikirannya tentang Jakarta. Jika dilihat dari arti kamusnya, ode itu berarti sebuah pujian. Namun coba dengarkan dulu album ini atau minimal lagu hitsnya saja, Ode Buat Kota, kita akan tahu kalau maksud pujian itu ialah pujian atas kehebatan tiap elemen kota untuk bertahan di tengah Jakarta yang penuh dengan polemik. Sebuah pujian yang satire.

Bahasan lagu-lagu di album ini datang dari kehidupan sehari-hari yang di alami para personil. Mulai dari perjalanan pulang menggunakan kereta api, situasi politik, keadaan lingkungan Jakarta, para pekerja malam, sampai tentang acara-acara di televisi. Dan Saya tertarik dengan potongan lirik dari lagu tentang televisi itu, judulnya Penat: "Terus dan terus otak digerus berita palsu Jejal mataku Jenuhkanku Pusingkanku Maya dan nyata tiada berbeda (…) cela dan dosa dibungkus tawa."



Lirik itu berhasil mewakili kekesalan saya atas tayangan televisi yang penuh kepalsuan, dramatisir berita. Hal yang tercela dan berbau dosa pun bisa didandani sehingga bisa jadi komoditas untuk membuat orang tertawa. Media memang pandai membuat kamuflase, membuat racun terasa seperti madu. Haha. Menyedihkan.

Saya kurang paham tentang cara mengokemntari musik, tapi setidaknya saya merasa sangat senang mendengarkan musik Bangkutaman ini, atau biasa disebut sebagai musik indiepop ini. Hmm, lembut tapi iramanya renyah di telinga. Liriknya mudah diingat pun mudah dinyayikan juga. Anthemic lah pokoknya. Oia, saya juga suka harmonisasi instrumennya, petikan gitar yang menurut saya khas indiepop, sesekali berdistorsi tapi tidak terlalu riuh. tetap membuat adem. haha.. Mengenai musiknya, sepertinya lebih asik kalau saya mengutip "metafora yang ditulis Harlan Boer yang menjadi Kata Pengantar yang ada di album ini:

“Berandai ini sebuah tata kota, maka gitar akustik 12 senar dan derai tamborin adalah komposisi wilayah pepohonan. Rindang. Jerit gitar elektrik: jembatan penyebrangan tanpa gagang pegangan tangan. Hembusan hermonika adalah balai pertemuan yang hangat. Dram dan bas menjadi blok-blok perumahan, meliuk ke belantara gedung. Organ adalah rel kereta menuju awan."

Sepertinya kalian tidak akan rugi kalau membeli CD ini, harganya cuma 35 ribu. Selain itu, album artnya keren. Selain ada lirik-liriknya, kalian juga bisa membaca cerita dibalik pembuatan lirik itu. Walau pun saya agak rancu dengan hal itu (menceritakan sesuatu yang sudah jadi lirik, membuat lirik itu jadi tidak hidup, interpretasinya jadi dibatasi. hehe.) tapi ternyata seru untuk dibaca juga. Foto-foto sudut-sudut jalanan kota Jakarta yang tertangkap sedang sepi pun menggugah hati saya. Sebuah visualisasi kekosongan kota yang katanya tak pernah mati.

Perkenalan saya dengan musik Bangkutaman terbilang sudah cukup lama. Sejak akhir masa SMA kalau tidak salah. Lagu She Burn The Disco yang saya temukan di album kompilasi Riot! menjadi lagu pertama yang saya dengar dari Bangkutaman, setelah itu saya mencari lagu lainnya di Internet, sampai saya menemukan nomor-nomor seperti Satelit dan Trapped In The Middle. Setelah itu saya tidak pernah mendengar kabar lagi tentang band digawangi oleh J. Irwin, W Nugroho, dan D Eryanto. Selidik punya selidik ternyata memang mereka sempat vakum. Album ini lah yang mejadi pemersatu mereka yang memang udah terbentuk sejak 1999. Yeah, semoga kalian dan musisi-musisi 'alternatif' lainnya bisa menjatuhkan tahta musik-musik mendayu-dayu yang entah mengapa jadi terasa seperti khas indonesia. haha..

No comments:

Post a Comment