Friday, February 4

Utamakan Istri Muda by PinkGirlGoWild



Nama Pinkgirlgowild memang sudah tidak asing lagi bagi para penikmat dan pegiat disain, ilustrasi dan street art (setidaknya begitu lah saya mengenal dia). Tapi bagi pecinta sastra seperti novel atau pun cerpen? Sepertinya tidak. Itu lah yang bikin saya penasaran, sebelumnya Oomleo menerbitkan buku yang isinya cerita-cerita konyol dan absurdnya, dari situ saya pikir bahwa tulisan para ilustrator itu pasti unik. 

Gambar cover, judul, dan penulisnya menjadi daya tarik utama bagi saya saat memutuskan membelanjakan Buku yang tipis nan sederhana ini dengan uang jajan yang baru saja dikirim. Apalagi setelah saya tahu bahwa sang penulis terinspirasi dari hal yang saya  sukai juga, hal yang sangat sepele sebenarnya, yaitu tulisan di belakang truk. Tulisan-tulisan di belakang truk itu memang sangat unik, curhatan masyarakat kelas bawah yang sangat lugas namun dikemas dengan diksi dan susunan kata yang menggelitik. Contonya, ‘Kutunggu Jandamu’, ‘Doa Ibu’, ‘Janda seperti Perawan’ dan banyak lagi. Dari sekian banyak truk yang menampilkan slogan dibelakangnya, kalimat yang dipilih oleh Pinkgirlgowild ialah ‘Utamakan Istri Muda’.

Emang dasar seniman nan kreatif, terinspirasi dari tulisan yang ditemuinya saat perjalanan bersama adiknya itu PGGW malah tersulut semangatnya untuk membuat kumpulan tulisan, baik puisi mau pun cerita pendek, mengenai cerita picisan para wanita yang terjebak dalam poligami atau sekedar jatuh cinta pada pria beranak istri. Walau enggan menyebut karya-karyanya sebagai gerakan feminisme atau semacamnya isu gender terasa sangat kental di tiap tulisannya, entah tentang betapa berkuasa lelaki dalam menentukan jumlah istri, atau pun tentang betapa tak berdayanya seorang wanita ketika sudah jatuh cinta pada  pria beristri.  

Di tengah keseriusan dalam mengangkat isu tersebut dengan pandainya PGGW menyelipkan humor yang menggelitik, dari bahasanya yang lugas, tidak banyak metofora, dan alur ceritanya bikin penasaran, ending yang ditawarkan pun selalu bikin saya kagum, tak terduga. Buku seharga 28 ribu ini menjadi menu lezat dan crispy yang menemani perjalanan bis terakhir Lebak bulus – Jatinangor saya kemarin minggu.

No comments:

Post a Comment